Blogroll

Membumikan Pestisida Hayati oleh Ahmad Syarif H

Juni 23, 2015 |


Pasca revolusi hijau pertanian di Indonesia terus berbenah, berbagai teknologi lahir. Salah satunya penggunaan Trichoderma sp. sebagai pestisida hayati alternatif pengganti pestisida kimia. Efektivitasnya sudah teruji di lapangan maupun di laboratorium, namun sosialisasi yang kurang masif menjadikan teknologi ini kurang diminati petani. Menyadari pentingnya sosialisasi pestisida hayati, lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman menggagas gerakan pacul project sebagai salah satu kampanye penggunaan pestisida hayati.

Pacul project merupakan akronim dari Plant Cultivation for Sustainable Agricultureproject. Pertanian berkelanjutan menjadi fokusnya. Melalui sosial media facebook pacul project terus mengkampanyekan pentingnya pertanian berkelanjutan. Selain itu, pacul project juga menggelar acara pendampingan kepada petani melalui demplot, pelatihan dan sosialiasi pembuatan pestisida hayati kepada petani sebagai wadah pengabdian masyarakat mahasiswa. Dengan mengabdi kepada masyarakat, mahasiswa dapat menerapkan, dan membagikan pengetahuan yang didapat selama di kampus.

Terik panas tidak menghalangi warga desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas untuk mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pestisida hayati. Jam dinding menunjukkan pukul 14.00 WIB (18/5), petani, perangkat desa, aparat kepolisian beserta TNI sudah memenuhi balai desa setempat. Raut wajah penuh semangat tim pacul project disambut antusias oleh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau bisa kita pengen minta  waktu bapak untuk mengadakan sesi konsultasi. Jangan hanya untuk tanaman hortikultura saja tapi bisa juga tanaman perkebunan,” ujar Widodo salah satu petani desa Gandatapa saat sesi diskusi bersama Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed, Prof. Ir. Loekas Soesanto, MS. Ph.D.

Dengan cekatan tim pacul project menyiapkan alat dan bahan untuk demo pembuatan pestisida hayati. Awalnya jagung pecah ditimbang 25 gram kemudian direbus dalam panci penanak nasi selama 45 menit. Setelah dingin bibit jamur Trichoderma sp. ditanam sebagai indukan. Satu bulan kemudian pestisida hayati siap digunakan. Cara pengaplikasiannya dengan menempatkan pestisida hayati pada lubang tanam, dalam satu bungkus plastik berisi 25 gram bisa digunakan untuk 4 lubang tanam. “Biayanya sangat murah,” ujar Lusi Yulandari,anggota pacul project. Menurutnya penggunaan Trichodermasp. dapat mengurangi penyakit layu fusarium,salah satu penyakit penting pada tanaman hortikultura.

Gilang Vaza benatar, anggota tim pacul project mengakui masih ada keterbatasan dalam menjalankan project ini,” Karena keterbatasan dana, sementara ini keberlanjutannya lebih ke pendampingan dan kampanye program,” katanya, Ia berharap program ini bisa diterapkan di berbagai daerah.

Bahaya Pestisida Kimia

Dalam acara pelatihan dan sosialisasi pembuatan pestisida hayati diadakan sesi diskusi sebagai pendahuluan mengulas potensi pestisida hayati, Menurut Prof. Ir. Loekas Soesanto, MS. Ph.D. produk pertanian Indonesia kurang aman karena banyak menggunakan pestisida kimia,” Jika diperiksa di tubuh petani yang sering menggunakan pestisida diduga ada kandungan residu kimianya,” ujar Loekas Soesanto (18/5). Penggunaan pestisida kimia juga dapat merusak lahan sehingga dapat menurunkan produksi tanaman. Rusaknya lahan menjadi permasalahan utama produksi pertanian harus diperbaiki jika ingin lahan tetap produktif. “Dengan menerapkan pestisida hayati kita berupaya mengembalikan keseimbangan ekosistem. Dengan ekosistem seimbang tanaman bisa tumbuh baik lagi,” ujar Lusi Yulandari.


Kualitas produk pertanian Indonesia yang menurun akibat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan menjadikan daya saing produk pertanian Indonesia rendah, “Melalui program ini (pacul project) bisa menyediakan informasi dan solusi buat pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian dalam menghadapi era pasar bebas,” ujar Gilang Vaza Benatar (22/5). Penggunaan pestisida hayati dapat menghemat biaya produksi sehingga keuntungan yang didapatkan petani meningkat, “Mengurangi penggunaan pestisida kimia, dengan menggunakan organisme alami lebih murah juga,” tambah Loekas Soesanto. Ketua Gapoktan desa Gandatapa, Giyanto mengharapkan gerakan ini tetap berlanjut, “Saya harapkan program ini bisa berkelanjutan,” pungkasnya.
Read More

Dagelan Revolusi (sebuah cerita pendek)

Agustus 07, 2014 |


Jakarta, Minggu sore, 29 September 2019


Bayang-bayang kelaliman itu seketika menjadi puitis. Tiga abad lalu, tepatnya 1789-1799, monarki absolut Perancis, Louis XVI, tumbang ditangan pribumi yang berakhir pada kepemimpinan Napoleon Bonaparte.  Dua abad setelahnya, 1917, pemberontakkan pribumi yang dikomandoi Vladimir Illych Lenin terhadap diktator Tsar Nicholas II telah berhasil mengubah haluan Rusia menjadi negara komunis. Sepeninggal Lenin, Iosif Vissarionovich Stalin tampil. Kita tahu Kristallnact 1938 atau malam kaca pecah, program bangsa Yunani yang telah membombardir bangsa Yahudi di Jerman dan sebagian Austria. Pun siapa yang tak kenal Hitler ? Juga kerusuhan bumiputera Malaysia atas etnis tertentu pada 13 Mei 1969. Atau di Indonesia sendiri kita mengenal Soekarno dengan Orde Lamanya, Soeharto dengan Orde Barunya, dan belum lama ini reformasi. Dalam perbedaan dimensi ruang dan waktu, kesemuanya itu melahirkan paham baru dengan segala kelebihan dan kekurangan. Paham yang dalam masanya ditujukan sebagai harapan atas pedoman dasar sistem negara baru. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, bukan berarti tidak memakan korban. Jutaan nyawa melayang bagi hegemoni yang seolah tak putus-putus dalam sejarah. Maka pertanyaannya adalah: siapa yang sudi jika harus miskin di negara sendiri ?


Meski langit Indonesia masih itu-itu saja, bukan berarti matahari dan bulan hanya bisu menyaksikan. Bahkan gugusan orion berani bersaksi, bumi pertiwi yang kaya raya ini sedang hamil tua. Hamparan awan cirrus terlihat seperti surai-surai sembrani tunggangan dewi Sri menyambut ranum padi-padi. Namun ironis ketika rengkahan zamrud khatulistiwa tidak putus-putusnya meresonansi dawai-dawai kepedihan bangsa. Kepedihan menahan sakit yang sudah di ubun-ubun. Sebab bangsa ini juga punya bisul yang siap pecah. Siap meletuskan darah dan nanah. Gunung-gunung meletus. Gempa dan banjir dimana-mana. Iklim dan cuaca berubah. Pemerintah tidak memerintah. Pejabat tidak menjabat. Aparat hukum melanggar hukum.  Koruptor besar dilindungi. Mafia besar dihormati. Artis-artis porno dipuja-puja. Orang terzalimi malah dihina. Sumber daya alam habis dicuri. Seratus penjahat hanya satu disikat. Media-media gencar dengan opini sesat. Sebab negeri ini sedang sakit. Pejabat-pejabatnya sakit. Pemerintahnya sakit. Rakyatnya sakit.


Sedemikian kronis ketika rezim reformasi tumbang telanjang. Tokoh yang selalu dipuja melalui citra naik tahta. Namun rakyat buta dengan pilihan sendiri, yang dipuja malah balas budi kepada cukong-cukong pemberi modal. Kesenjangan makin nyata. Desentralisasi hanya gagasan belaka. Hegemoni merajalela. Genosida terhadap pribumi makin terasa. Selarik sajak kayu dan batu jadi tanaman agaknya telah membikin buta pelaku konspirasi global dalam merebut segala yang ada di tanah mutiara. Agama menjadi panji dalam mengejar kuasa. Pribumi melarat. Bangsa sekarat. Indonesia dikepung sana-sini, siap dihancur-lebur !

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri !”

            Kata-kata Soekarno terngiang-ngiang bagi siapa saja yang terlibat dalam medan perjuangan ini. Lampu-lampu jalan terlihat sayu. Semua gerak melambat: serdadu-serdadu asing, tank-tank veteran BTR 50 PM, beberapa infanteri amfibi BMP-3F, sebaris Baracuda, dan peluru yang bertebaran dari mulut laras panjang SS1-5 Raider, tidak terkecuali raut-raut wajah ketakutan itu. Diam mulai merapat. Kemudian beku. Sedetik yang hening dan lengang. Sejurus seberkas cahaya melesat lantas membuncah di atas langit senja Jakarta yang begitu muram. Bum ! Asap hitam bergumul-gumul, mencipta siluet raksasa yang bergerak-gerak. Siluet itu tak ubahnya sosok Buto Cakil dalam laga wayang kulit. Cakil menuntut pengulangan masa kelam sejarah peradaban umat manusia. Persoalannya ada dalam pilihan, sembuh atau mati. Sebuah langkah telah dipilih.


***

Pribumi dan non pribumi dalam sebuah sistem

Saat aku SD, Ibu sering menyuruhku untuk berbelanja di pasar terdekat. Ketika berada di pasar, aku betah mengamati pedagang-pedagang sayur, atau kuli-kuli panggul di toko elektronik. Ada sebuah perasaan yang entah belum aku pahami sebabnya, rasa kesal ketika mengira-ngira betapa capeknya kuli-kuli panggul itu daripada seseorang yang hanya memantau dari balik kursi malas yang tidak jarang mengomel-ngomel tanpa sebab dengan bahasa yang tidak aku pahami. Saat SMP aku makin paham kontradiksinya. Di kota kelahiranku, usaha-usaha dalam skala menengah keatas mayoritas dikendalikan sekelompok etnis yang dikenal dengan kegigihan dan keuletannya, pribumi cukup dagang sayur. Duduk dibangku SMA, aku gusar ketika tahu opini yang menyatakan etnis tersebut hidup dalam kungkungan diskriminasi pemilik Republik ini. Kegusaranku semakin menjadi-jadi ketika membandingkannya dengan fakta sejarah yang ada. Sulit bagiku untuk mencari alasan bila sejarah telah berbohong.   

“Pancasila adalah ideologi yang sangat sesuai bagi Bangsa kita. Karena kita hidup dalam lingkup multikultural, bukan seperti bangsa Arab atau Asia Selatan yang notabene monokultural,” kata seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan menjawab pertanyaan seorang teman saat di kelas.

Tidak seperti kebanyakan, aku sangat pasif di sekolah. Paling-paling hanya bergaul dengan teman yang itu-itu saja: Ario, Andi, Hilman dan Diara. Banyak waktu kuhabiskan untuk membaca apa saja yang dapat dibaca selama itu tidak makan biaya. Salah satu bacaan adalah soal pribumi dan non pribumi. Bahasan yang membuatku betah berlama-lama di perpustakaan karena ada keterkaitan dengan rasa kesalku saat melihat kuli-kuli di toko elektronik tempo hari.

Begini bahasannya. Pada jaman Kolonial, pribumi dianggap sebagai warga negara kelas III, sedangkan etnis lain mendapatkan hak-hak dan pengakuan hukum yang lebih tinggi.  Hal itu ditunjukkan untuk mempertahankan kekuasaan Kolonial. Diskriminasi dan eksploitasi pribumi baru berkurang ketika Pieter Brooshooft mencetuskan politik etis atau politik balas budi. Pada masa awal kemerdekaan, jelas tidak ada perlakuan diskriminasi pribumi terhadap non pribumi. Bahkan etnis non pribumi melaju pesat hingga meletusnya Program Benteng  1950 untuk mendorong keseimbangan dan ketertinggalan kaum pribumi dalam sektor usaha. Namun 7 tahun berselang, secara resmi program tersebut dihentikan. Kenyataan tersebut harus diperparah dengan meletusnya Gerakan 30 September yang didapati keterlibatan sebagian etnis non pribumi. Pembubaran ormas-ormas pro PKI memicu eksodus pribumi terhadap non pribumi. Semakin diperparah masa Orde Baru yang memberi akses atas dominasi non pribumi pada ekonomi RI yang luar biasa besar. Benar non pribumi dibatasi hak politiknya pada masa Orba, tapi pada saat itu pribumi juga ditindas hak politiknya. Saat RI kolaps dalam krisis moneter 1997-1998, Negara alami kerugian ribuan trilliun akibat perampokan besar-besaran pemilik bank penerima fasilitas Bantuan Liquiditas Bank Indonesia. Fakta yang mencengankan bahwa kontributor terbesar kehancuran ekonomi tersebut adalah pengusaha-pengusaha non pribumi. Sebuah bahasan yang telah membuat malam-malamku hampir terisi penuh dengan kegusaran. Republik ini hilang kedaulatan !


Sayangnya, aku harus menghentikan sementara rasa penasaranku terhadap peran non pribumi ketika harus disibukkan dengan materi-materi ujian nasional. Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku lagi. Aku baru menyadari era yang semakin modern. Era yang telah menyajikan kemudahan-kemudahan dengan segala fasilitas yang ada. Aku dan beberapa teman juga mulai menyadari betapa selama ini telah dibodohi sebuah sistem. Sistem yang membelenggu kebebasan berpikir para siswa. Sistem yang mengekang sikap kritis dan skeptis. Sebuah sistem yang bertajuk kurikulum !


Selaras dengan kelompok-kelompok belajar guna menghadapi ujian yang mulai menjamur, temanku Ario membentuk sebuah forum diskusi terbatas. Tidak ada kata terlambat katanya. Sebagai selingan saat jenuh mengerjakan soal-soal pengayaan, kami acapkali berdiskusi soal apapun, tidak terkecuali kaum cewek.

“Kurikulum mendidik kita buat berpikir praktis,” Diara yang digandrungi para siswa dan satu-satunya cewek di kelompok kami itu memulai percakapan.

“Bagaimana mungkin kita tiga tahun belajar hanya ditentukan hasilnya tidak kurang dari satu minggu ? Kenapa tidak dari kelas satu saja kita dicekoki soal-soal kayak begini ?” Gaya bertutur Hilman yang berperawakan tambun agak mirip dengan politikus di televisi, syaraf tangannya aktif. Andi yang sedari tadi sibuk dengan soal mekanika menanggapi pertanyaan Hilman hanya dengan sebuah lirikan dan kerutan dahi.

“Hayo, Eros, menurut kamu bagaimana ?” Tanya Ario mengujiku. Aku segera menjawab, “menurut pahamku, sebenarnya sejak Sekolah Dasar pun kita sudah terdidik demikian. Lihat saja kita yang malas saat diberi tugas-tugas oleh guru dan tersiksa ketika harus menunggu bel istirahat berbunyi..” Andi lantas memotong pendapatku, “Kita ? Kalian saja kali, aku tidak !” Semua tertawa mendengar pernyataan Andi.


“Belum lagi sarana informasi dan telekomunikasi yang makin maju. Penetrasi budaya asing tidak bisa dihalangi. Kita harus pintar-pintar menyerapnya. Jangan sampai terbawa arus.” Sambungku. Diara semakin bergairah mendengarkannya.

“Jadi apa yang harus kita lakukan ?” Tanya Hilman lagi.

“Meskipun sudah terdidik dengan sistem yang kacau, kita harus tetap kritis dan skeptis untuk menyikapi hal apapun. Tidak apatis seperti kebanyakan.” jawab Diara bersemangat. Andi kemudian meletakkan penanya. Sejurus mata bundarnya menelusur wajah-wajah kami dan bertanya,

“jadi dalam waktu dekat, apa yang mesti kalian lakukan untuk menghapus dosa masa lalu ?” Semua terdiam. “Hayo apa ?” Tanya Andi menyelidik. Kami saling pandang satusamalain.


Sejurus tanpa diduga oleh Andi, dengan kompak kami menjawab, “tidak mencontek !” Lebih lanjut Ario menjelaskan, “ya. Tidak mencontek saat ujian nasional. Apapun hasilnya, kita harus yakin pada diri sendiri, bukan pada tim sukses yang sudah membudaya itu !” Diskusi ringan ditutup dengan canda-tawa. Terpenting adalah kesepakatan yang mungkin sepele, tapi kelak menjadi sangat berpengaruh: tidak mencontek. Hingga akhirnya kami lulus SMA dengan nilai pas-pasan.


Sejak hari kelulusan itu kami berpisah. Hilman harus mengikuti ayahnya, merantau di perbatasan Kalimantan, dan sayangnya aku harus kehilangan kontak samasekali. Aku, Ario, Andi dan Diara kuliah di kampus yang berbeda. Namun entah kebetulan atau tidak, suatu waktu aku bertemu Ario, Andi dan Diara dalam sebuah forum diskusi terbatas Kesatuan Senat Indonesia. Dalam forum tersebutlah idealisme kami mulai terbentuk.

“Tanggung jawab moral adalah hal sangat mahal bagi mahasiswa sekarang. Lihatlah mahasiswa-mahasiswa yang katanya agen of change, tidak kalah malasnya dengan kaum buruh yang hanya bisa menuntut kenaikan upah tanpa ada itikad perbaikan dalam bekerja. Kenyataan yang memilukan bahwa pemuda-pemuda kita seperti balita ditinggal ibunya di tengah pasar.”

Kira-kira begitu luapan seorang Menteri yang juga alumni elit KSI ketika memberikan orasi diawal pengkaderan. Sayang pada saat itu tidak ada Hilman.

***

Reformasi adalah bom waktu


“Allah menginginkan kita sebagai pemenang, bukan korban.”


            Kata-kata Jenderal Soedirman yang dituturkan seorang dosen diawal kuliah sangat membekas. Kata-kata yang terbatas namun menggugah bagi siapapun yang mencernanya. Malam ini aku terkungkung dalam kegusaran yang sama seperti dulu. Dalam remang lampu kost, pandanganku menjamahi setiap sisi dan sudut tembok lusuh yang sebagian catnya terkelupas. Empati dalam benak muncul sebagai cahaya kuning suram yang perlahan-lahan merayapi seluruh sisi kamar kost. Pencerahan. Baru-baru ini kesadaran muncul. Kesadaran atas apa yang aku bela tidak hanya sebatas diri sendiri dan keluarga. Kesadaran dan tanggung jawab moral yang selama ini menjadi kegusaran dan perenungan. Kesadaran untuk berontak. Bukan sebagai korban. Bukan !

“Eros. Dengan kamu kuliah, setidaknya kita jangan lagi dibodohi soal taksir-menaksir harga televisi di toko elektronik !” Setidaknya itulah kata-kata Bapak yang selalu kuingat ketika mengantarku diawal registrasi perkuliahan.


Setelah sekian lama larut dalam perkuliahan, aku dikejutkan dengan Ario dan Diara yang menginformasikan perjuangan komunitas media sosial yang membongkar fakta-fakta tentang kebobrokan bangsa: Suara Revolusi. Pengikutnya cukup banyak, sekitar 600 ribu lebih. Awalnya aku pikir itu cumaunderground publication untuk membentuk opini publik yang bukan tidak mungkin terdapat konspirasi didalamnya. Apalagi diperkuat dengan tuduh-tuduhan beberapa kalangan terhadap akun twitter pseudonim tersebut yang dianggap menyebarkan fitnah dan kebohongan. Namun kebanyakan fitnah-fitnah mereka kemudian terbukti dan menjadi konsumsi publik secara penuh karena  dimuat berbagai media. Setelah konsisten mengikuti kuliah twit Suara Revolusi selama tiga tahun, dari situlah kegusaranku atas pribumi dan non pribumi berlanjut.


Di suatu sore sendu. Semilir angin menghempaskan daun kering dari sebatang pohon diatas tanah lapang di timur Indramayu. Bangunan tua ini adalah saksi kolonialisme yang menjadi tongkrongan biasa bagi kami saat libur semester tiba; menunggu senja yang selalu terburu-buru. Jauh di sebelah barat, terlihat bangunan sekolah dasar bobrok termangu-mangu menyikapi waktu. Dihadapannya, nampak lusuh bendera merah putih diatas tiang besi karatan yang masih dengan gagah mengibarkan keberanian dan kesucian. Aku, Ario, Andi, Diara sendiri sedang rikuh dengan kenyataan bahwa Republik ini semakin bobrok.

“Aku harap Hilman masih dalam barisan yang sama dengan kita.” Suara Andi memecah diam yang beberapa detik lalu mengepung kami.

“Itu sudah pasti. Bukannya Hilman bekerja ? Mana mungkin dia nyontek ?” Pernyataan Ario membuat suasana semakin hangat.

“Satu lagi analisa Suara Revolusi terbukti. Semua tahu kejanggalan pada pengungduran pemilu yang direncanakan bersamaan dengan pemilihan kepala daerah  April 2014 lalu. Apalagi diperkuat dengan pengeluaran dekrit Presiden beberapa bulan berikutnya. Demonstrasi besar-besaran diawal 2016 yang membuat rezim turun telanjang, adalah bukti bahwa rakyat sudah gerah.” Diara kembali membuka pembicaraan serius.

Ario lantas menanggapinya dengan semangat, “Sekarang 2018. Presiden baru sudah ada. Padahal mantan walikota dan gubernur itu secara statistik memiliki track record yang mengecewakan. Tapi kita tidak bisa menyalahkan rakyat. Tentu Eros tahu apa sebabnya.”

Aku kaget mendengar Ario yang lagi-lagi menguji. “Reformasi adalah era demokrasi yang semakin bebas. Kita tahu release beberapa majalah  menyebutkan, hanya satu pribumi dari sepuluh yang masuk dalam golongan orang terkaya RI, sisanya non pribumi. Hegemoni mereka atas ekonomi RI berlanjut dengan menguasai media-media untuk membentuk opini palsu.” Jawabku mantap.

“Terang bila Suara Revolusi mengecam keras diawal kampanyenya. Lihat saja, tidak ada perubahan nyata dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden sekarang. Malah semakin buruk. Rakyat merasa ditipu habis-habisan. Kita lihat beberapa projek besar ditenderi oleh cukong-cukong yang disebut-sebut Suara Revolusi sebagai dalang dalam pembentukan presiden boneka.” Sambung Andi tangkas.

“Bahkan seorang cukong yang juga anggota Missionaris dan agen spionase asing sekaligus buronan kasus BLBI, menggaet karibnya dari negeri seberang. Stanley Greenberg, seorang Yahudi master konseptor pembentuk opini yang juga menjadi otak atas kemenangan dua presiden Amerika,” kataku menambahkan pernyataan Andi.

“Tapi kita tidak semestinyai rasialis. Karena persatuan non pribumi RI tidak mendukung rencana mereka untuk membentuk presiden boneka,” sambung Andi lagi namun dengan suara agak ditekan.

“Ya. Mereka menyadari ulah beberapa orang etnisnya yang ingin menguasai RI itu hanya akan memeberikan dampak sangat buruk. Tentu kita tahu kerusuhan di Malaysia 1969 silam,” sergah Diara.

“Namun ada hal yang sangat memilukan lagi. Desentralisasi yang tak kunjung terwujud, membuat kaum muda di  luar Jawa telah merundingkan soal penghengkangan tanah kelahirannya dari Republik, bersama negara tetangga akan mewujudkan Melayu Raya ! Negara-negara lain yang juga ingin berkuasa tentu akan ikut tertawa melihat RI hancur-lebur !” Pernyataan Ario membuat kami bergidik.

Siapa yang tertindas sejatinya sudah jelas.

***

Goro-goro

Jakarta, 17 Agustus 2019


            “Dalam budaya Jawa ada kepercayaan bahwa pemimpin bangsa atau presiden Indonesia adalah sosok pemimpin Cakil. Presiden sendiri dipercaya sebagai akhir dari siklus noto negoro yang berakhir dengan goro-goro atau kerusuhan atau revolusi hebat di Indonesia. Pada budaya Jawa dalam kisah yang lain, Presiden juga dianalogikan sebagai sosok Petruk. Terutama dalam kisah Petruk Dadi Ratu. Cakil dalam budaya Jawa dianggap sebagai sosok jahat, culas, licik namun mampu berkuasa karena kehebatannya. Tetapi kekuasaannya itu hanya sebentar. Ketika awal berkuasa, bencana muncul dimana-mana di seluruh Indonesia, hampir setiap saat terjadi bencana. Lepas dari banyak gempa bumi disusul dengan gempa politik. Sebagian lagi masyarakat Jawa percaya bahwa bencana yang timbul hanyalah baru awal dari bencana sesungguhnya yang ditimbulkan oleh Cakil.”


“Sosok Cakil itu adalah Presiden. Semula dia adalah Petruk yang yang kepingin jadi raja. Presiden yang culas, licik, ambisius namun mampu mengelabui rakyatnya. Dia tampil seolah-olah sempurna. Meski Cakil itu hebat, culas dan jahat, dia tetap punya kelemahan, yaitu akan sial jika melihat monyet. Monyet menjadi makhluk yang sangat mengganggu dan menakutkan bagi Cakil. Rencananya akan gagal jika ada monyet di depan mata. Maka sebelum Cakil itu menjalankan rencananya menjadi penguasa Indonesia, semua monyet harus dibasmi, dibuang jauh-jauh. Tidak ada jalan lain, semua monyet harus disingkirkan.”


“Meski betul Presiden adalah seorang kapitalis liberalis yang menjadi musuh soekarnois dan marhaneis, tapi rakyatnya tidak tahu. Cakil dengan dukungan para konglomerat hitam Indonesia dan 87 persen media bayaran yang dibayar mahal untuk pencitraannya, mampu menipu rakyat Indonesia. Rakyat kecil tertipu. Marhaenis dan soekarnois terpedaya, seolah-olah melihat sosok Cakil seabagai penerus jiwa dan semangat Bung Karno. Cakil itu sejatinya adalah sang Petruk yang menjadi Cakil ketika takdirnya sebagai Petruk dia ingkari dan tetap ngotot menjadi raja. Jika Petruk sadar, maka Cakil akan menghilang dari jiwanya. Tapi jika Petruk tetap ngotot, maka roh jahat Cakil bersemayam dalam jiwanya. Kini faktanya begitu luar biasa. Cakil telah berkuasa dengan dukungan uang, media, cukong-cukong, dan agen-agen asing. Jelas dia menang setelah jauh-jauh hari monyet-monyet di Ibu Kota disingkirkan.”


“Namun sekali lagi, Cakil hanya berkuasa sebentar. Hanya sebentar sekali. Goro-goro akan meledak. Muncul banyak sebab dan sumbernya. Indonesia kena bencana. Namun bencana besar dan goro-goro itu adalah keniscayaan. Sudah jadi suratan takdir yang tercatat di buku saku para dewa di khayangan sana. Goro-goro dan bencana yang nanti terjadi adalah prasyarat bagi Indonesia untuk kembali bangkit menuju kejayaan dan kemakmuran bangsa.”


“Republik ini akan menghadapi kerusuhan besar. Setelah Presiden sebelumnya turun telanjang, penuh malu, mengakhiri masa jabatannya dengan penuh aib di sekelilingnya yang telah dibukakan Tuhan. Dan ketika rakyat tersadar bahwa cakil itu adalah durjana yang menyamar jadi Arjuna, maka rakyat akan marah semarah-marahnya, menciptakan angkara murka. Meledaklah goro-goro, kerusuhan hebat, huru-hara. Bencana besar yang ditimbulkan bukan oleh alam, tapi dari manusiaa, dari rakyat Indonesia sendiri !”


Semua hanya bisa terpaku ketika mendengar cerita Profesor Nuh yang merupakan penggagas akun Suara Revolusi. Disamping beliau adalah tokoh-tokoh Bangsa; Mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, beberapa mantan Menteri, mantan anggota Intelejen, mantan Ketua KPK, dan alumni elit-elit gerakan seperti Persatuan Buruh, KSI, BEMI, HMI, GMNI, PMKRI, KAMI, KAMMI, dan UKKI.  Aku melihat Ario, Andi dan Diara, menggigil ketika mendengarkan kata demi kata Profesor Nuh yang menceritakan analogi budaya Jawa dengan fakta yang ada. Yang membuatku terkejut adalah seseorang yang berada di sebelah Diara. Dia menangis sesenggukkan. Tidak lain tidak bukan dia adalah Hilman !


Auditorium menjadi hening. Semua menyatu dalam gejolak yang sama. Kemudian Profesor Nuh melanjutkan,

“Tapi jalan damai yang sudah kita coba telah gagal. Beberapa kawan-kawan dari Suara Revolusi telah menjadi Mujahid, menyusul para pejuang kemerdekaan. Beberapa lagi sampai saat ini belum diketahui jejaknya. Tapi mati satu tumbuh seribu, kawan semua !” Aku melihat mata Profesor Nuh berkaca-kaca.

“Saya bangga ketika melihat kawan-kawan semua yang sudah menaklukkan egonya untuk tidak berdiri atas nama golongan, karena kita hidup dalam naungan Bhineka Tunggal Ika. Namun sekarang bangsa kita sedang sekarat ! Dan perjuangan kita semakin berat ! Kawan-kawan tahu mengapa ?” Nada bicara Profesor Nuh berubah penuh emosi.  Tangannya kemudian mengepal lantas melayangkan pertanyaan kembali, “kawan-kawan tahu mengapa ?!”

Deru nafasku semakin cepat. Agaknya seribu audien yang hadir dalam pembentukkan gerakan Ronin Indonesia itu merasakan hal yang sama. Profesor Nuh turun dari panggung dan berjalan menuju Ario yang duduk di sebelahku. Profesor Nuh menanyakan hal yang sama padanya, namun dengan nada yang sangat emosional. Aku melihat Ario gemetaran, matanya berkaca-kaca, kemudian menangis. Aku pun tak tahan untuk tidak ikut menangis. Namun segera Ario merasa betapa tangisnya adalah tidak pantas. Ario menegapkan bahu dan dagunya. Matanya menatap tajam pada Profesor Nuh yang sekali lagi bertanya,

“kamu tahu mengapa, kawan ?”

Dengan hasrat yang berapi-api Ario menjawab.


“KARENA KITA AKAN MELAWAN BANGSA SENDIRI !”

***

Jakarta, 30 September 2019

              Hari ini adalah pengejawantahan bagi wejangan Prabu Jayabaya sepuluh abad lalu tentang sebuah masa Nusantara. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik tertindas. Masa yang penuh penderitaan itu telah berada pada puncaknya. Rasa sakit di ubun-ubun bumi pertiwi akan segera meletuskan darah dan nanah. Namun rasa sakit yang tiada tara itu juga akan tuntas terbayar dengan kesembuhan. Karena setelah masa paling berat akan datang jaman yang penuh kemuliaan dan kemegahan. Tahun 1930 Soekarno telah meletupkan semangat pribumi dengan mengatakan,


      “tuan-tuan hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil ? Apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengarap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan menunggu-nunggu dan berharap-harap: kapan, kapankah Matahari terbit ?”


Sejarah di tanggal yang sama kembali tertulis. Walaupun yang ditulis masih berbau pengkhianatan, tapi yang dibela rakyat atas nama kebenaran dan keadilan adalah bangsanya sendiri. Sebelumnya, tanpa dikomandoi, kerusuhan-kerusuhan terhadap loyalis penguasa telah terjadi di seluruh Nusantara. Bahkan di Jakarta, rakyat menyeret paksa para koruptor-koruptor dari dalam bui, kemudian menggantungnya ramai-ramai di atas tugu Monas. Namun yang tak diduga-duga, ketika persatuan etnis non pribumi yang semula tidak mendukung rencana saudara-saudaranya untuk menguasai Republik, ternyata ditegaskan dengan rasa nasionalisme dan patriotisme yang menggebu-gebu untuk bersatu dengan pribumi melawan penguasa. Semua berada dalam satu gerakan untuk menduduki Istana Presiden dan Gedung DPR-MPR-DPD. Militer berada di simpang jalan, tapi kemudian memilih jalan yang sama, karena apa yang di depan mata adalah rakyat dan bangsanya yang harus dibela. Militer bersatu dengan rakyat.


Penguasa dalam waktu singkat telah menghimpun kekuatan untuk melawan rakyatnya sendiri. Seperempat penduduk negeri yang buta mata buta hati telah menjadi penyokong kekuatan penguasa. Dukungan cukong-cukong, konglomerat-konglomerat hitam, agen-agen, dan negara-negara yang hendak merebut kedaulatan Indonesia, akan menambah berat perjuangan bumiputera. Agaknya kali ini lebih dahsyat dari gejolak demokrasi yang telah terjadi beberapa tahun lalu di Timur Tengah. Bahkan bisa dibilang ini adalah perang Dunia Ketiga, karena yang turut serta bukan hanya pribumi semata. Penguasa bersama pasukan asing telah membombardir seluruh negeri. Sejauh ini telah mengorbankan tujuh ratus ribu lebih jiwa tak berdosa. Negara Kesatuan Republik Indonesia telah berada di ujung tanduk !


Pesawat-pesawat terbang rendah memecah subuh yang lengang. Namun panji-panji dan lagu-lagu perjuangan turut menguasai atmosfer Jakarta. Aku, Ario, Andi, Diara dan Hilman telah mempersenjatai diri dengan laras panjang yang diberikan oleh Angkatan Darat. Kami semakin geram setelah mengetahui seluruh keluarga kami di Indramayu telah menjadi korban kebiadaban penguasa. Bagi kami kini hanya ada kata merdeka atau mati ! Akhirnya perjuangan telah mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya dan segera menduduki istana. PBB dan beberapa Negara yang mendukung penuh keutuhan NKRI telah menekan rezim penguasa untuk segera melakukan genjatan senjata.

  “Merdeka !”

          “Merdeka !”

          “Merdeka !”

   Kami tahu perjuangan belum selesai. Namun luapan emosional telah meluruhkan segenap air mata yang tak tertahankan. Anehnya, tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba suara Iwan Fals mengudara seiring terbitnya mentari. Tapi sejurus aku pribadi khusuk menghayati liriknya.

Jangan bicara soal idealisme

Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita

Atau berapa dahsyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa onani


Matahari seolah menjawab kesaksiannya. Lampu-lampu jalan yang semula suram, digantikan cahanya hari baru yang begitu terang-benderang.

Jangan bicara soal nasionalisme

Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri

Atau kita yang buta,

bisul tumbuh subur di ujung hidung yang memang tak mancung


Suara harmonika Iwan Fals semakin membakar jiwa. Aku merasakan diriku yang lepas dan merdeka.

Jangan perdebatkan soal keadilan

Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan

Jangan cerita soal kemakmuran

Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan


Semua gerak melambat. Aku melihat kegembiraan berubah menjadi kepanikan tak terperi. Segorombolan tentara asing menyerbu dari arah timur istana. Tapi aku hanya bisa diam menyaksikan beberapa peluru yang menembusi beberapa orang di hadapanku. Aku melihat Diara, Andi dan Hilman tergopoh-gopoh hendak menyelamatkan diri. Mereka melewatiku dengan kepanikan menjadi-jadi. Ario dengan raut ketakutan yang tidak bisa dijelaskan bermaksud mengajakku untuk segera meninggalkan lokasi. Tapi sekali lagi aku hanya bisa diam tegap. Senandung Iwan Fals seketika berubah mistis.

Lihat disana si urip meratap di teras marmer direktur murtad

Lihat disana si icih sedih di ranjang empuk waktu majikannya menindih

Lihat disana parade penganggur yang tampak murung di tepi kubur

Lihat disana antrian pencuri yang timbul sebab nasibnya dicuri


Aku tidak melihat Ario, Andi, Diara dan Hilman. Aku tidak melihat siapa-siapa kecuali tentara-tentara asing yang membabi-buta dengan senjatanya dan tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan. Aku merasakan ada cairan hangat yang mengaliri dada kiri. Aku melihat darah segar mengalir deras di sisi tepat dimana jantungku berada. Tapi aku tidak merasakan sakit. Aku hanya merasakan lelah yang teramat.  

Jangan bicara soal runtuhnya moral

Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti

Atau tentang tanggung jawab yang kini dianggap sepi


Aku melihat Soekarno, Hatta, Sjahrir, Para Pahlawan Revolusi, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan banyak lagi tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan berbaris seolah hendak menyambutku di ujung jalan sana. Perasaan sayang yang teramat kuat tiba-tiba menguasai diriku. Kemudian muncul cahaya terang benderang, dan semua-muanya menjadi putih. Aku tidak lagi merasakan beban. Aku tidak lagi memikirkan ruang. Aku tidak lagi memikirkan waktu. Aku hanya merasakan diriku yang semakin bebas dan lepas, melesat jauh entah kemana.

Aku melayang-layang dalam antariksa luas. Kesadaranku timbul semata-mata menduga lengkung jagat raya yang senantiasa memuai. Aku melihat keberadaan berjuta-juata galaksi. Betapa sangat kecil untuk menyangsikan sebuah rasa yang sangat absurd ini. Alih-alih, jari-jari kecilku yang tak mengerti apa-apa ini, berdalih mampu menjangkau galaksi Triangulum dalam jarak lebih dari sepuluh juta tahun cahaya itu. Aku hanya ingin membuktikan bahwa jiwaku telah terpisah dari jasadnya. Namun belum sampai telunjuk jariku mengacung, secara tiba-tiba aku merasakan ada kekuatan dahsyat mencegahku. Kekuatan yang menggenggamku begitu erat. Seperti telapak tangan yang kemudian menyeretku dengan paksa dan demikian cepat. Aku merasakan sakit ketika bunyi denging merangsek masuk ke dalam telinga.

“Mas..”

Samar-samar aku mendengar suara. Aku merasakan kepalaku sakit bukan main. Aku mencoba membuka mata perlahan. Semuanya masih putih dan buram. Sejurus pandanganku mulai jelas; sisi-sisi tembok, baris-baris bangku, papan tulis, layar projector. Sepertinya tidak asing dengan benda-benda tadi. Wajah-wajah yang juga aku kenal, Ario, Andi, Diara dan Hilman. Mereka dan beberapa sosok-sosok lain, serempak menatapku dengan rasa geli yang tertahan.


Mataku menelusur semua-muanya hingga terhenti pada sesosok pria bertubuh tambun, berkepala botak pelontos dengan alis dan kumis tebal. Sorot matanya sangat tajam menatapku. Dia seperti berbicara sesuatu, namun aku tidak dapat mendengarnya samasekali. Mukanya terlihat semakin geram. Dia mencopot benda yang menyumpali telingaku yang kemudian segera kusadari kalau itu adalah earphone. Secara reflek tangan kananku meraba dada bagian kiri. Tidak ada darah. Aku hanya menemukan telfon genggam di balik saku lalu  mengambilnya. Kulihat konten tampilan pada layarnya:  Senin, 17 Maret 2014/15.17 WIB MP3 Player On: Iwan Fals-Jangan Bicara. Pandanganku kembali pada raut seseorang yang agaknya semakin muntab. Sejurus segera kusadari pula bahwa beliau adalah seorang dosen yang selama ini terkenal killer. Dosen itu dengan penuh emosional kembali menyerangku,

“Enak tho mas tidurnya ?! Tolong sebutkan satu tanaman yang termasuk dalam famili Leguminosae beserta nama latinnya ?!”

Tanpa keraguan  aku langsung menjawab,

“Revolusi, Pak ! Revolusi !”


Purwokerto, 12 Maret 2014. 21.01 WIB.
Dalam kamar kost temaram yang penuh dengan kejenuhan

<photo id="1" />
Read More