Diambang senja muram sandikala, seorang kakek menuturkan cerita kepada cucunya. Tangannya merentang seperti hendak merengkuh senja. Sajak-sajak meluncur deras memetaforakan keberadaan sosok jelita, Dewi Shinta, di sebuah negeri antah-berantah bernama Mantili.
“Prabu Janaka kala itu buat sayembara. Siapa mampu angkat busur panah Siwa, dia layak persunting Dewi Shinta”.
Waktu memang pandai menipu. Bayang-bayang cerita kakek yang meregang nyawa sebab tak bisa buang angin, sekali waktu datang tiba-tiba. Aku yang lugu selalu duduk terdepan untuk mendengarkan dongengnya. Kenyataannya memang hanya aku yang sudi mendengarkan. Tapi itu tidak penting. Beratus kali kakek cerita soal Rama dan Shinta, yang aku paham hanya Rahwana. Sosok jahat yang menculik Dewi Shinta dari Rama. Dan entah kebetulan saja kala itu, di dusun tempatku tinggal sedang gempar dengan penculikan anak untuk dijadikan pengamen di Jakarta. Saat itu aku masih kelas enam.
Casmi. Adalah sosok pertama yang membuatku bergetar ketika memandangnya. Rasa apa aku tidak mengerti saat itu. Aku senang bermain dengannya. Memboncengnya dengan sepeda mengelilingi dusun, berlari melintasi galangan sawah dan kebun, atau mencuri timun-timun suri yang ranum, kemudian dikejar anjing milik sang pemilik kebun. Aku bahkan sangat ingat hari dimana kami penuh riang menghempaskan diri diatas tumpukan jerami, saling pandang, dan kupegang jemarinya tanpa gugup. Aku mengucap janji kepada awan berarak dan langit biru untuk selalu bersama dengannya, selalu menjaganya. Lucu sekali.
Namun keesokan harinya, dusun geger. Casmi diculik. Seminggu kemudian jasadnya diberitakan sebuah surat kabar harian nasional: seorang anak nyangkut di tumpukan sampah kali Ciliwung. Ini pasti ulah Rahwana, pikirku. Dendam mulai membatu.
***
Agustus, 2012.
Langit Purwokerto hari itu adalah tudung rindu bagi jiwa yang terlunta-lunta dalam gamang. Memang sulit menerka apa yang terjadi lima menit ke depan, sekalipun bertanya kepada debu-debu, rumput-rumput, atau aspal-aspal jalan kusam. Jawaban mereka pasti sama, diam dan tak acuh. Langit makin teduh. Daun-daun bicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Kuhitung tiap langkah kaki dengan muka merunduk, seakan tidak ingin tahu lebih dulu apa di ujung sana yang sedang menunggu. Setiap sendi alam adalah sajak yang kadang boleh dikata egois, hanya ingin dimengerti saja, tentang begitu kreatifnya alam menata pertemuan-pertemuan.
Roda-roda becak mulai sudi bicara tentang seseorang yang berdiri di sudut jalan seberang. Aku pandang sejenak bila itu bukan dosa. Semuanya menjadi seperti dalam film. Apa yang ada di depan mata slow motion. Semua terlihat blur, zoom in kepada dirinya. Kamera extrem close up. Menyoroti alis tebalnya yang beradu. Mata teduhnya yang menahan peluh. Seperti kesal menunggu, lalu transisi. Medium shot membicarakan soal jari-jarinya yang saling remas kesal di hadapan perutnya yang mungkin lapar. Zoom out menyoroti mukanya yang mulai murung. Brengsek, aku ingin mengakhiri imaji ini. Gambar fade out, hitam perlahan, sisakan sebuah tanya.
Tiba di kampus untuk hadiri perkumpulan angkatan mahasiswa. Aku duduk dibawah teduh pohon waru, berdiskusi soal wajah-wajah baru. Bukan soal sisa tanya dahulu. Atau Casmi yang jasadnya nyangkut di tumpukan sampah kali Ciliwung. Tapi tetap saja, siapa yang hendak sudi jawab lebih dulu ? Semua dalam diam dan kosong. Hanya retak-retak bangunan tua yang merintih, sebab yang datang tidak sesuai harapan. Aku tidak paham mengapa ranting-ranting rapuh beri persoalan. Rasanya aku masih suka melihat baris-baris bangku kosong, tersudut diam dan bertanya-tanya, siapa aku ? Ranting keropos membantah keras, saat aku menolehkan muka ke arah kiri. Dia yang ku temui di simpang jalan, tepat duduk di sampingku. Nadi-nadiku gemetar bukan main. Ranting keropos terhempas dari dahan, berdentum menghujam tanah.
***
September, 2012.
Ospek akan berlalu dalam beberapa menit lagi. Ada perasaan sayang untuk mengakhiri. Orasi-orasi berterbangan, menjamah setiap sudut dan sisi kampus. Siswa atau mahasiswa bukanlah soal. Idealisme kecut dalam kemunafikan adalah binal. Omong kosong. Kepalan-kepalan tangan, dan teriak-teriak pembelaan terhadap getir kemiskinan, mesti berjelaga kelak dalam ruang ujian. Di ruang ujian aku merasa percaya diri, kenyataan adalah ujian, lalu mengapa aku masih kikuk begini ? Aku merunduk lagi. Aku bahkan tidak layak disebut pelajar.
Tegas suara terdengar keras, bukan seperti lonceng gereja atau vihara, sedikit lebih dalam. Aksennya khas sekali. Orang sini bilang “Ngapak”. Kuangkat muka perlahan. Dia. Ya, dia lagi. Berdiri diatas kursi, meski sedikit terkesan alibi, setidaknya berani membawahi pecundang macam aku. Sejurus kata-katanya meluncur,
“rumah saya jauh. Saya kesini jalan kaki untuk hargai ilmu ! Omong kosong bila senioritas mempersoalkan apa itu beda siswa atau mahasiswa !”
Dari sekian banyak orasi, ini prioritas bagiku untuk memperhatikan. Sekalipun belum mengerti hubungan kata apa yang dia bicarakan. Dia adalah jawaban beberapa waktu terakhir ini. Aku simpulkan senyum ketika dia melihatku. Kata-katanya terngiang. Sudahlah, ini pasti muslihat. Dia bukan Casmi. Bukan !
***
Aku tatap sendu lampu dalam kamar kost. Meraba tiap sudut dan sisi kaca jendela, dan membukanya sejengkal. Tembok-tembok masih betah membisu kepada kusen pintu. Mengapa ? Ratap kalut diri coba bicara, dan dia, mana mungkin hendak tertawa, jika di simpang jalan tanpa sengaja saling bertemu ? Ah, aku mulai berharap dia adalah rainkarnasi Casmi. Itu bodoh.
Gunung Slamet berpuisi. Cerah matahari di sela-sela daun menari-nari. Trotoar jalan bacakan sajak-sajak Rendra. Kabel-kabel listrik menjelma menjadi senar akustik. Burung-burung gereja adalah pegitar adiluhung. Awan-awan saling bergeser. Langit luas ibarat kanvas. Gemercik air sungai adalah cat-cat dengan kontras warna cerah. Batu-batu menjadi palet. Jika aku adalah sang pelukis itu, aku butuh koas.
Masih sama, aku menghitung tiap langkah kaki dengan muka merunduk, seakan tidak ingin tahu lebih dulu apa di ujung sana yang sedang menunggu. Di simpang jalan, awalnya biasa-biasa saja. Namun tiba-tiba keringat bercucur deras seketika. Aku bertemu dia lagi.
Mengiramakan langkah, sejengkal demi sejengkal dalam diam dan tanya. Vena dan arteriku sejatinya menyanyikan sebuah lagu, Christofer Nelwan dalam sebuah komposisi musik Erwin Gutawa,
apakah ini gerangan yang sedang kurasakan ?
dunia seperti berputar, badanku bergetar
seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku
siapakah engkau gerangan puteri dari khayangan ?
jemarimu begitu cantik, hatiku tergelitik
seperti ada kupu-kupu menari dalam dadaku
sudikah kau genggam tangan puteri dari khayangan ?
jemarimu begitu indah, membuat hati gundah
seperti ingin menggubah seribu lagu untukmu
Kaki kami mencoba seirama. Lirikan itu cukup membuatku kikuk. Aku kadang tersenyum sendiri. Aku merasakan getaran hati hanya saat memandang Casmi dulu, setelah sekian lama kini terasa kembali. Terlalu pecundang jika masih betah dalam diam. Aku coba berani membuka, bicara tentangnya soal kemarin orasi ospek, agak kaku memang. Dia kata itu terlalu berlebihan. “Aku sendiri saja tidak mengerti apa yang aku katakan kemarin dulu,” katanya. Kami lantas tertawa. Manis sekali.
Kami menulusur koridor kampus dengan sedikit berlari, dengan alasan yang juga sama, tidak ingin terlambat. Tapi nyatanya kami masuk kelas terlambat. Dosen sudah lebih dulu membuka perkuliahan, untung toleransinya memihak. Aku duduk di kursi paling belakang sisi kanan, dia paling belakang sisi kiri. Nafas kami masih tersengal-sengal. Dan tatapan itu, senyuman itu, kerutan alis itu, binar-binar mata itu. Gedung-gedung seperti runtuh, kami berdua berdiri saling pandang diatas puing-puing utuh. Aku dirundung beribu tanya lagi, siapa dia ? Siapa namanya ?
***
September, 2013.
Setidaknya aku tahu siapa namanya. Setahun lebih aku kuliah masih saja gugup jika melihatnya, atau ketika sebuah kesempatan mengharuskan kami bicara. Beberapa minggu terakhir ini aku merasa berontak. Entah terhadap siapa ? Rasanya merokok tidak nikmat bila sembunyi-sembunyi. Bahkan dia satu kelas, mengapa aku mesti sembunyi ? Jujur, soal ini aku tidak mahir benar. Jika ditanya mengapa, aku tidak tahu.
Terlalu kejam untuk memendam. Terlalu puitis setiap saat memandangnya yang sedang menaiki tangga. Atau dia yang tertidur saat kuliah. Tiap orang memang beda, tapi aku rasa dia bukan mereka. Lalu mengapa sepengecut ini ? Aku berani jamin, banyak kata yang kami bicarakan selama ini masih dapat dihitung dengan jari.
Hujan turun deras. Sisakan lembayung emas. Sampaikan rindu kepada malam dan debu-debu yang tergilas wangi atsiri. Aku menerobos lena hujan, pandangi bias wajah pada sisa senja. Koridor kampus yang senyap, perlahan menjelmakan bayang-bayang rindu. Suara kakek mencipta siluet Resi Wisrawa yang bicara pada Sukesi soalSastra Jendra Hayuningrat Pangruating Diyu. Dewa mesti cemas dengan itu. Perlahan dewa menjadi sebuah cahaya yang merasuk, hingga meeleburkan raga-raga itu dalam puncak birahi. Maka lahirlah Rahwana. “Weladalah hong tete kolo rojo dewaku. Dewa nista ! Itu bukan kehendak Romo dan Biyung. Tapi Batara Guru dan Uma !” Kata rahwana geram. Aku masih betah melihat baris-baris bangku kosong, tersudut diam dan bertanya-tanya, apakah dia tahu soal perasaanku ?
***
Wedawati yang tidak sudi dicintai Rahwana, sosok denawa raja angkara murka, akhirnya membakar diri demi cintanya kepada Wisnu. Dia memohon kepada Tuhan Penguasa Jagad Raya, berharap titisannya dapat membunuh Rahwana. Cintanya yang tulus kepada Wisnu telah membenihkan dendam.
November, 2013.
Sore itu aku merasa diriku adalah seseorang yang lain. Aku harus segera menuju lab untuk asistensi praktikum klimatologi. Aku meniti satu per satu anak tangga dengan tegas. Aku memasuki lab, kemudian mendengarkan seksama petunjuk asisten praktik. Kami harus bermalam di kampus selama tiga hari dua malam untuk mengamati suhu dan hujan. Sejauh ini Tuhan membimbingku untuk mempelajari alam. Aku harus lebih banyak bersukur, dan harus menyelesaikan praktikum dengan sebaik-baiknya.
Malam itu kami sekelas berkumpul dalam lingkaran. Suatu keintiman yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. David mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membuat perapian. Ario masih biasa dengan leluconnya yang konyol, membuat suasana makin hangat. Andi masih sibuk dengan buku-bukunya. Belum apa-apa Hilman sudah mendengkur. Dan aku, aku terpaku terhadap sebuah titik. Dia datang dari kegelapan menggendong sebuah gitar akustik. Dia bisa main gitar ?
Pancuran emas sumawur ing jagad, sudah musim penghujan memang, tapi malam masih sudi menjelmakan meteor-meteor di langit sana. A Thausand Years milik Christina Perri dinyanyikan olehnya tanpa perduli ragaku yang pecah berkeping-keping. Bayang-bayang Casmi mulai redup dan berdebu, ditelan konstelasi-konstelasi Cruxatau yang biasa orang Jawa sebut Gubung Medeng, dibawanya ke selatan jauh, entah kemana ? Berharap dia yang didepanku adalah koas yang selama ini aku cari agar bisa segera lukiskan keindahan hari-hari selama berada disini. Aku jatuh hati denganmu, Mutiara.
Malam berlalu begitu cepat, namun sedetikpun tidak aku siakan dengan rasa kagumku padanya. Seperti ada sinergi dalam tubuhku untuk tetap on fire, tetap terjaga menjalani praktiukum yang menyiksa ini. Aku ingin memandangnya terus-menerus sebagai alasan semangatku ini. Aku pulang ke kost, ganti sift praktikum. Sudut-sudut tembok dan sendu lampu kamar mulai memberikan jawaban pada keluguan kusen pintu. Mataku terasa sangat berat akibat semalaman tidak tidur. Ah, aku mulai merindukanmu.
Aku bermimpi tentang Shinta yang meragukan ketulusan Rama. Dia merasa ketulusan Rama hanya bermula dari sayembara, bukan suatu keluguan dalam pertemuan saling pandang. Shinta bertanya mengapa hanya sang Putera Mahkota Raja Ayodya yang mampu mengangkat dan membengkokkan busur Siwa ? Rama meyakininya bahwa itu adalah garis restu Sang Pencipta untuk mencintai Shinta. Shinta lantas menyembunyikan keraguan itu dengan beralasan bahwa hanya pikirannya saja yang sedang berkecamuk akibat lelah. Rama memandangnya dengan binar yang sulit diterjemahkan oleh Shinta. Lantas Shinta bersandar diri pada kekar pundak Rama. Rama mulai berpuisi untuk menghapus kegundahan Shinta,
“Tulang rusuk ku, jika engkau sulit memejamkan mata malam ini, hingga matahari sudi menggelincirkan sebuah keyakinan, jangan khawatir, aku akan selalu menemanimu, menjagamu. Aku mencintamu seperti engkau mencintaiku. Biarkanlah cinta ini tumbuh seperti bunga yang terbawa angin.”
Malam itu menjadi milik mereka berdua. Pohon-pohon besar menjadi saksi kesucian cinta mereka. Burung-burung gagak tiada berani mengusik kegundahan Shinta. Rama mulai merengkuh tubuh Shinta, memandangnya dalam-dalam. Shinta memejamkan mata. Rama membelai rambutnya dengan puisi-puisi, menyentuh wajahnya dengan telunjuk jari yang mendesirkan cinta dan rindu. Shinta membuka matanya perlahan, melihat tatapan Rama yang memberikan keyakinan akan cinta sejatinya. Shinta membalas rengkuhan rama. Mereka saling pandang penuh rasa untuk sebuah kata yang sulit dimengerti. Dan Rama memberi Shinta pengertiaan suci itu. Rama mencium Shinta. Seperti hendak menyampaikan betapa ia pun akan sangat tersiksa bila harus jauh dari Shinta.
***
Hari telah terik. Aku bangun lantas mandi untuk segera menju tempat pengamatan. Aku meminjam sepeda Bhakti, teman kost, untuk menuju lapang. Rimbun-rimbun pohon memberi keteduhan. Subuh hari sepertinya hujan, aku melihat sisa basah pada aspal jalan dan pohon-pohon tua itu. Kukayuh sepeda dengan semangat, dengan harapan untuk bisa segera bertemu Mutiara. Tiba di kampus, beberapa mahasiswi sedang melakukan pengamatan. Mataku tertuju pada Mutiara yang sedang tertidur pulas dibawah pohon kelengkeng. Ya Tuhan, wajahnya yang sedang tidur itu lebih agung dari karya Picasso atau Da Vinci sekalipun !
Selang beberapa saat, datang seorang laki-laki. Badannya bidang. Kulitnya putih selaras dengan mukanya yang rupawan. Dia turun dari motor besar. Tangan kanannya seperti membawa sesuatu. Teman-teman perempuan hampir terpana seluruhnya, dan salah seorang berkata, “itu Rama, anak Kedokteran Gigi. Mau apa dia kesini ?” Dia memberikan sesimpul senyum kepada kami. Dia lalu mendekati kami,
“Oh, maaf, Mutiara sedang tidur ya ? Kalau gitu aku titipkan ini buat makan siang dia. Kasihan tadi pagi belum sarapan. Makasih semuanya.” Laki-laki itu kemudian pergi.
Bayang-bayang suara kakek datang. Dia bercerita soal Shinta yang meminta Rama supaya menangkapkan untuknya seekor kijang cantik yang ia lihat di tengah hutan. Rupanya Rahwana sedari tadi mengamati Shinta. Rahwana begitu yakin, sosok yang ia lihat merupakan titisan Wedawati yang sangat dicintainya. Shinta tidak tahu bahwa kijang itu hanyalah jebakan Rahwana. Rama mengejar kijang itu, Shinta ditinggal sendiri. Tanpa disia-siakan, Rahwana langsung membawa Shinta pergi.
Aku memang melihat Casmi dalam raga Mutiara. Tapi Casmi bukan Wedawati yang menolak mentah-mentah. Mengapa sosok Rama dalam kenyataanku adalah rival ? Dan Mutiara adalah Shinta yang harus aku culik. Lantas tepat bila sebut diriku sebagai Rahwana ! Tidak-tidak. Ini tidak bisa aku terima. Aku terlalu dini membayangkan diriku sebagai Rama dan Mutiara adalah Shinta. Tuhan, ini terlalu rumit.
Aku berdiri menantang Cumulonimbus yang memayungi diri. Aku tidak perduli petir yang menyambar-nyambar. Hujan turun sangat deras. Aku kembali menerobos hujan beberapa jarak, aku terhenti di sebuah simpang jalan. Lalu semua gelap dan gelap. Hanya terasa rinai hujan yang menghujam bagai kerikil tajam. Kutatap bayang-bayang kakek di seberang jalan yang sedang menceritrakan Rahwana yang mati dilalap kobaran api. Aku semakin tajam menatap bayang-bayang kakek. Kesal memuncak. Aku berteriak sejadinya sampai bayang-bayang kakek hancur dan lenyap seperti debu yang tersapu angin.
“SHUT UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUP !!!! THIS IS REAL, FUCK !”
***
Hari berganti hari. Tembok-tembok dan sendu lampu kamar kost tersenyum geli kepada kusen pintu. Matahari pun tidak begitu muram menyambutku. Hari disaat aku tidak lagi berharap kepadanya, namun masih dalam getar yang sama. Daun-daun lembaga tumbuh, pucuk dan tunas-tunas muncul baru. Seperti mengejek memang, tapi aku tidak perduli. Aku ingin fokus belajar. Di depan gerbang kampus, aku melihat Mutiara turun dari boncengan motor Rama. Mereka terlihat sangat akrab. Kupaksakan diriku untuk tidak acuh. Aku berjalan melewati Mutiara, dia menatapku. Aku tidak perduli dan terus berjalan. Rupanya dia mengejarku.
“Hai.. tunggu.. kita masuk kelas sama-sama ya ? Kita ulangi momen saat pertama masuk kuliah. Aha, Kamu pikir aku lupa soal itu ya ?”
Damn. What's wrong with you ? Aku menghentikan langkah dan membalikkan badan, lantas sesimpul senyum kulempar padanya. Kami berjalan menyusuri koridor kampus dengan terburu dan masih dengan harapan yang juga sama seperti dulu, tidak ingin terlambat dan diusir dari kelas. Sayangnya, toleransi tidak lagi memihak kepada kami. Dengan muka murung kami meninggalkan kelas.
Kami sepakat menuju green house untuk melihat angrek-angrek cantik hasil penelitian. Aku masih rikuh dengannya. Perasaanku campur aduk antara cinta dan cemburu. Kali ini dia yang membuka pembicaraan,
“aku tahu dari matamu, kalau setahun ini kamu berusaha sembunyikan perasaan.”
Aku memandangnya penuh tanya sembari memetik daun-daun anggrek yang layu.
“Aku harap kamu tidak terlalu pengecut untuk berani berkata jujur dengan perasaanmu sendiri.”
Aku masih belum mafhum.
“Aku paham apa perasaan kamu saat teman-teman asik membincangkan soal aku dan Rama.”
Jidatku mengernyit. Pupilku melebar menatapnya. Aku merasa seperti manekin.
“Menurutku itu lucu, karena tanpa mereka ketahui, sebenarnya Rama adalah kakak kandungku sendiri !”
0 comments:
Posting Komentar