Hari itu awal Pebruari, suhu Ottawa tercatat minus 40 derajat. Salju turun seperti kapas yang melayang lembut. Vancouver, Toronto, Calgary hingga kembali di flat seorang Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Kanada Montreal dalam dua hari terakhir mestinya bikin aku beku. Tapi aku tidak merasa dingin samasekali. Ada api yang tersulut dalam dadaku.
Aku tidak sengaja bertemu seorang ibu yang tak asing bagiku di terminal keberangkatan Bandara Soetta, Cengkareng. Dia adalah ibu Safa. Kami seperti seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu. Kami menyempatkan makan siang di kafe Bandara. Aku segera tahu beliau cuti kerja dan segera pulang dari Oman untuk suatu agenda sangat penting.
“Safa akan menikah, Gaza.” Sungguh penutup yang membuat tenggorokanku tercekat.
Pertama kali aku merasakan getar itu kira-kira kelas enam Sekolah Dasar. Di usia itu aku telah larut dalam kata-kata Shakespeare dalam Hamlet dan Romeo Juliet. Saat itu aku tidak begitu mengerti apa yang dirasakan Romeo kepada Juliet, aku hanya gemas pada tabib yang harus terlambat mengatarkan surat pada Romeo.
Ketika itu aku harus ikut orang tua untuk merawat kakek yang sakit dan mengharuskanku pindah sekolah. Ketika itu pula aku bertemu Safa, tetangga depan rumah. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kami akrab, bahkan sangat akrab.
Hampir seluruh hari kulewatkan bersamanya. Aku mengajaknya membolos sekolah, mencuri timun suri di sawah, melompat dari jembatan sungai, menculiknya dari guru ngaji, memakan mangga curian di atas tower listrik bertegangan tinggi, tertidur di atas perahu penyeberangan sungai, memberi makan anak-anak anjing, hingga berburu jimat dirumah-rumah kosong dan kuburan. Aku hanya merasa sangat nyaman ketika berada didekatnya. Sebelum aku tidur, aku selalu merencanakan hal-hal gila yang harusaku lakukan besok bersamanya.
Aku sangat suka sekali melihat Sandiwara yang acapkali dipentaskan di desa itu saat ada hajatan. Kesenian khas Indramayu yang serupa dengan wayang orang. Aku bersama dengan kakakku dan teman-teman yang lain pernah membuat versi kecilnya. Aku senang karena selalu mendapat peran dengan Safa, misalnya dalam lakon Babad Dermayu. Aku menjadi raden (pangeran) dan dia seorang puteri dari kerajaan yang lain, yang kemudian saling bertemu dan jatuh cinta. Cinta kami selalu terhalang dan mengharuskan kami berjuang untuk dapat bersatu. Namun bersatu dalam pikiranku kala itu hanya sekedar untuk memnghimpun kekuatan agar dapat mengalahkan Denawa (raksasa jahat). Raksasa akhirnya terkalahkan. Aku senang karena kami tidak harus mati bersama seperti Romeo dan Juliet, karena tidak ada tabib sialan yang diperankan, pikirku. Orang-orang dewasa yang menonton tingkah kami selalu mengatakan bahwa kami sangat serasih.
Suatu malam, ketika purnama hari empat belas begitu bundar. Sepulang pentas, aku dan Safa beristirahat di bawah pohon kelapa. Nyiurnya membentuk siluet yang melambai-lambai dibalik purnama, seolah menyegerakan kami untuk pulang. Tapi kami bergeming. Aku mendengarkan nafas Safa yang terengah-engah. Ada keringat yang membasahi dahinya. Aku mengusapnya perlahan, lantas aku terpaku memandanginya. Cahaya bulan memendar padahidungnya yang mungil.
“Safa, kamu kayak gula-gula.” Aku tidak mengerti apa yang aku katakan. Safa hanya tersenyum, memamerkan kedua lesung di pipinya. Aku melihat dia
yang semankin terengah-engah, entah mengapa. Kemudian betapa terkejutnya aku ketika ia mendaratkan bibirnya pada pipiku,lantas berlalu begitu saja dari hadapanku. Ia berlari, sedangkan aku terdiam tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Aku tidak mengira bahwa malam ituadalah malam terakhir aku melihatnya. Safa dan keluarganya pindah ke Sulawesi. Aku sangat kehilangan. Bahkan foto dirinya pun aku tak punya. Sejak saat itu akuselalu menyendiri. Aku banyak membuat puisi untuknya dengan harapan suatu saat akan kembali bertemu dan membacakan untuknya. Lima tahun berselang, sepeninggal kakek, aku kembali ke Jakarta.
Sekarang aku kuliah di Purwokerto. Ada hal yang sangat membuatku begitu bergairah untuk selalu menghadiri kelas. Aku menemukan sosok Safa, sangat mirip sekali, namanya Diara. Awalnya aku yakin dia adalah Safa. Meskipun lama tidak bertemu, aku masih ingat betul wajahnya. Ketika aku melihatnya tidur setiap kuliah, aku melihat wajah gula-gula yang terpendar purnama darinya. Meskipun pada kenyataan dia bukan Safa, aku memaksakan diri kalau itu adalah Safa. Setidaknya aku mendapatkan substitusi dirinya di kota ini, dan mengobati sedikit rindu yang menyiksa. Kadang aku berpikir untuk menghilangkan bayang-bayang Safa, namun susah sekali.
Setiap libur semester, dengan tabungan beasiswaku yang sangat terbatas, aku selalu mengagendakan untuk bagpacking ke seluruh kota di Indonesia, tapi hingga keSulawesi pun tetap saja nihil, aku tidak menemukan jejaknya.
Saat rindu datang menyiksa, aku hanya bisa menulis tentang dirinya. Aku pun menyadari betapa terbatasnya kata-kata untuk dapat melukiskan rindu, hanya ada hitam dan hitam. Perjumpaanku dengan ibunya adalah penyediaan hitam yang lebih untuk kulukis dalam relung jiwaku yang kini setengahnya terasa lepas. Jika aku harus mati untuknya, aku tak segan untuk menolak. Ini hanya soal semesta yang tidak memperkenankan Romeo untuk segera berjumpa dengan sang pembawa surat, atau waktu yang sengaja mengulur perjumpaanku dengan Safa. Aku tidak akan menghakimi diri dengan kata terlambat, sebab ini bukan suatu keterlambatan.
Di akhir undangan Konferensi Pemuda Pancasila bersama dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) di Montreal, aku diundang dalam jamuan staf dubes yang sedang mengadakan pesta pernikahan anaknya. Ada perasaan sakit ketika melihat kedua mempelai itu. Kuambil sebotolSampagne, dan mengurung diri di basement.
Senjakala yang duka dan sendu tersamar oleh salju dan gelap yang perlahan-lahan mulai menyergapi basement. Aku terkejut ketika memalingkan pandanganku di sudut barat basement itu. Samar-samar aku melihat dia menatap diri di depan cermin. Aku mendekat perlahan, masih tak percaya kalau itu memang benar-benar dia. Dibenahinya alis seumpama bulan sapasi. Setelan mekak dan gelung kedhal menek yang berbalut kain samparan motif parang rusak nampak serasih dengan mahkota binukasri yang dipakainya. Dia menatatap dirinya sekali lagi di depan cermin. Jemarinya menyentuh sedikit celah pada dadanya yang putih. Dibentuknya sesimpul senyum dari dua apit bibir merah saga itu sembari menyelipkan keris pada lilitan sampur. Aku menatapnya dari balik kusen pintu.
Dia melangkah mantap. Bahkan sangat mantap untuk melewati sebuah lorong. Lorong yang penuh dengan lukisan Ronald Manulangkoleksi sang staf dubes, yang objek-objeknya terasa hidup: Blind Archer with the Eye, Remember Trisakti, The Blind Man Bastised the Queen, dan Have a Nice Flight. Sebelumnya hanya ada lukisan hitam terindah dalam benakku. Namun perlahan muncul warna-warna dalam pikiranku yang kemudian saling bertabrakan dan membentuk gradasi-gradasi yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Aku mengikutinya dari belakang. Kakinya kemudian meniti anak-anak tangga dengan keanggunan Dewi Shinta, senada dengan orkestra gamelan yang sayup-sayup terdengar. Tiap dua titian, bersamaan dengan dentuman gong, wajahnya seperti mendapatkan aura kehadiran para malaikat sriwedari. Tiap tiga titian, bersamaan dengan kecer dan kethuk yang bercinta dengan desau seruling, purnama hari empat belas merayapi wajahnya. Dia terhenti di pelataran terbuka. Sesorot lampu menimpa tubuhnya. Dipejamkan matanya sejenak dan ditariknya napas panjang. Dia menatapku, menyunggingkan senyum dengan lesung yang masih sama indahnya sejak terakhir aku melihatnya. Kemudian ia mempersembahkan tari Srimpen Manggala Retna untukku. Aku hanya terpaku, teringat bagaimana kami memerankan sandiwara dulu.
Ketika mataku terbuka, aku menyadari diriku sedang berada di rumah sakit. Ada rasa nyeri di sekujur tubuhku. Baru-baru aku tahu aku terjatuh dari lantai dua rumah staf dubes karena mabuk berat. Beruntung aku masih selamat dari maut. Safa, kamu dimana?
Lima hari berselang aku harus kembali ke Indonesia. Ketika transit di Amerika, aku menyempatkan diri untuk membeli kado pernikahan di Washington DC, sebuah kanvas dan sepaket cat air beserta koas beberapa seri. Aku menelfon nomor yang diberikan ibu Safa ketika bertemu dibandara dari Washington. Aku hendak bilang kepada ibu Safa agar mengirimiku foto Safa dengan suaminya. Aku ingin melukis mereka.
“Halo. Siapa sih malam-malam begini telfon?”
Gagang telfon umum itu terjatuh dan menggantung-gantung. Aku tidak bisa menahan air mata yang mengembang dari kedua pelupuk mataku. Suara itu. Setelah sekian lama. Itu suara Safa. Aku meninggalkan telfon umum itu beserta seperangkat alat lukis yang baru aku beli. Masih terdengar suara Safa di telfon, namun aku tetap berlalu dengan perasaan yang rumit.
Hari itu adalah pesta pernikahan Safa. Awalnya aku memutuskan tidak hadir, tapi perasaanku tidak menghendakinya. Aku ingin menjumpainya untuk yang terakhir. Aku akan datang dengan dada terbuka untuk kebahagiaannya.
Safa kembali tinggal di rumah lamanya, di Indramayu. Setiba di lokasi hajat, hal yang membuatku getir adalah panggung sandiwara yang berada di selatan singgahsana mempelai itu. Aku tidak sanggup untuk melihatnya, apalagi mendekat. Tapi ibu Safa melihatku. Selang beberapa lama Safa dan suaminya menghampiriku. Aku mencoba tegar ketika menyalami merekadan mengucapkan selamat. Entah mengapa ketika aku menatap matanya, getar itu masih terasa sama. Safa seperti enggan melepas tanganku.
“Maaf mas, aku boleh minta waktu sebentar dengan, Safa? Pintaku pada suami Safa. Belum juga dia jawab pertanyaanku, dia malah menyeret Safa. Aku melihat kemarahan yang muncul dari wajah suaminya, Safa kemudian menangis. Tapi sejurus sang suami mengusap air matamya dan memeluknya. Aku berpaling dari mereka dengan air mata yang tak tertahan dan segera pergi.
Aku duduk di bawah pohon kelapa. Pohon itu masih tetap berdiri, namun dahannya kini terlihat rapuh. Purnama yang sama menyergahku untuk berbuat diluar akal waras. Jika aku ingin melihat Safa bahagia, mestinya aku menerima ini. Ya. Kalau cinta tidak harus memiliki, harusnya aku menerima ini. Kuusap air mata, dan segera bangkit. Namun sungguh tak diduga, ketika aku membalikkan badan, aku melihat Safa yang sedang berdiri dengan air mata yang berurai.
“Kenapa kamu pergi begitu saja waktu itu?” Lirihku. Ia malah membalasnya dengan tanya.
“Kenapa kamu datang begitu lama?” Kemudian ia menamparku dengan sangat kerasnya. “Aku mamaksa kembali dari Seulawesi, sampai disini ternyata kamu sudah pindah ke Jakarta. Aku cari di Jakarta kamu tidak ada. Kamu pikir aku akan mudah melupakan begitu saja tentang kamu?!” Aku hanya terdiam mendengarkan perkataannya yang sesekali tercekat oleh tangis.
“Kenapa kamu tidak mencariku? Aku sampai putus asa menunggumu dan memutuskan untuk menikah. Itu semata-mata upayaku untuk mencoba melupakanmu. Dan sekarang ketika semuanya terlambat, kamu tiba-tiba datang. Mau kamu apa sih?!” Aku masih sulit untuk menjelaskan. Dia menamparku sekali lagi. Aku hanya bisa menatapnya sangat dalam. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam dadaku.
Sedetik yang bisu. Hanya kedua mata kami yang saling terpaut. Wajah gula-gula itu aku pandangi dengan perasaan yang sangat mendalam. Tidak ada kebohongan yang aku rasakan. Aku yakin dia juga masih menyimpan getar yang sama. Aku sangat rindu sekali dengannya. Aku usap air matanya yang terus berurai dengan perlahan. Namun aku sendiri tidak dapat menghentikan air mataku.
Kulepas mahkota yang terpaut pada kepalanya itu hingga rambutnya tergerai. Kubelai rambutnya seiring dengan rindu yang meluap-luap dalam dada. Perasaan yang teramat kuat merasuk dalam diriku. Aku merasakan jiwaku yang seolah-olah lepas ketika dia mendekapku dengan sangat eratnya.
Desau angin menumbangkan norma-norma yang telah lama tertanam dalam bina manusia-manusia rasional, lantas meniupkan gejolak yang tak terpalang pada diri kami. Namun pohon kelapa itu tetap tegak, menolak segala bentuk kemunafikan rasa, dan meranumkan sajak-sajak perpisahan. Rembulan pun akan merestui jika kami harus melakukannya, karena ini adalah cinta yang sebenarnya.
Jemari kami saling mengisi rasa yang telah lama terpendam hingga ke sela-selanya. Relung-relung jiwa yang selama ini kosong terasa sejuk ketika tubuh kami saling menyatu seiring dengan sajak-sajak perpisahan itu. Jiwa kami telah lepas dari tanggung jawabnya, mencoba menghapus air mata, mengusir duka sesaat, dan menguatkan untuk menghadapi perpisahan ini. Bilapun waktu kan berlalu, tidak dengan cinta yang telah sekian lama tersimpandalam diri kami.
Seketika aku menatapnya sangat dalam, dalam sekali, lantas mendekapnya dengan demikian erat, sangat erat. Kemudian ia menyunggingkan senyumnya, senyum gula-gulanya. Sungguh perpisahan yang sangat manis.
“Bila nanti aku pergi, tunggu aku di sini.” Lirihku. Aku melihat setitik cahaya, yang kemudian melebar, dan menjadi demikian terang. Jiwaku kini benar-benar lepas.
***
“Bila nanti aku pergi, tunggu akudisini. Itu kata-kata ayahmu yang selalu ibu ingat. Bahkan kamu bisa membacanya di buku ini, buku harian ayah kamu. Kamu mirip sekali dengan ayah kamu, sama tampannya. Andai pesawat itu tidak jatuh, mungkin kamu bisa bertemu dengan ayahmu. Ayah kamu hanya meninggalkan buku harian ini. Ibu sangat rindu sekali dengannya. Dulu ibu menikah dengan orang lain yang tidak ibu cintai. Dia berpikir kamu adalah anaknya, tapi kemudian dokter memberitahu ibu dia telah divonis mandul. Ibu mencoba menutupi, namun akhirnya dia tahu bahwa kamu bukan anak darinya, dan menceraikan ibu. Maafkan ibu nak, semuanya salah ibu. Hidupkadang terasa begitu rumit, tapi cinta yang membuat kita bertahan menghadapinya.”
Itu kata-kata terakhir ibu yang selalu aku ingat. Dari aku kecil hingga ibu meninggal, ibu selalu duduk di bekas pohon kelapa ini. Ibu bahkan berwasiat untuk menguburkan jasadnya disini. Begitulah hidup, kita hanya dapat berencana, namun tetap Tuhan yang memutuskan. Aku menuntun Gaza dan Safa, anakku, dari pusara neneknya. Kuusap air mata istriku yang terurai setelah mendengarkan kisah ibu dan ayah, kemudian dia berkata lirih,
“aku sangat mencintaimu, mas.”
Purwokerto,04 Agustus 2014
15.09WIB
Ngelamun di kostan.
0 comments:
Posting Komentar