Suatu hari gue terlibat percakapan dengan sahabat gue yang bernama Ario di sebuah kafe kampus.
Sebelumnya gue mau bikin pernyataan. Gue akuin nggak banyak cinta yang gue kenal selain dari William Shakespeare, Stephen Meyer, Dee, atau Habibburahman El-Shirazy. Tapi gue juga harus akuin, cuma Ario satu-satunya manusia hidup yang udah buat gue berpikir kalau cinta itu cuma sebuah kata yang sulit dimengerti, tapi punya banyak makna. Seenggaknya gue dapet kalimat super kayak gitu setelah mengorbankan kuping gue yang harus meleleh buat dengerin dia telfonan sama pacarnya yang jadi buruh migran di Hongkong, everyday. Tapi dari situ pula gue dapet sub-bahasan baru soal cinta, Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh.
Gue heran. Khok bisa-bisanya manusia genius macem Ario bisa jadi setengah sinting gitu sama orang yang hanya dia kenal lewat foto. Kalau dia udah kenal deket sebelumnya atau seenggaknya pernah ketemu sama ceweknya sih nggak jadi soal. Jadi gue nggak heran saat tahu kalau setengah uang beasiswa Ario harus habis cuma buat biaya internetan dan telfonan sama pacar ilusinya itu. Cinta telah membuat genius dan sinting jadi nggak ada beda.
“Ar. Emang lo yakin foto dia di facebook itu asli? Lo khan nggak tau sebenernya dia cakep apa nggak?” Tanya gue penasaran sambil nyeruputmilk tea cream dan disusul nikotin yang merangsek masuk alveolus.
“Lha untungnya dia juga nggak tau kalau gue itu jelek kan, Za?”
Skak. Seisi Agriculture Cafetaria seketika beku.
“Tapi gue juga harus akuin, LDR itu nggak mudah, Za. Penuh kecurigaan dan ketidak-pastian.” Sambung Ario dengan mata teduh dan muka sok bijak, persis seorang bapak yang ngajarin anak lelakinya cara pipis yang baik dan benar. ”Lo sendiri mau sampe kapan ngumpulin teori melulu? Udah dari SMA kita bareng, dan lo nggak ada perubahan, Za. Jangan bilang lo homo dan suka sama gue?!”
“Gile aja lo!” Tukas gue dengan agak ngotot nolak hipotesis ngawur Ario. Dia malah ketawa terbahak-bahak, kemudian bengek. Mampus lo.
“Sebenernya ada seseorang, Ar. Sejak pertama ngeliat pas registrasi kuliah dulu, sekarang, dan nggak tahu sampai kapan. Seseorang yang kalo gue ketemu dia gue udah kayak orang kebelet boker. Nggak bisa berkata-kata dan keringat mengucur deras. Gue juga selalu gagap kalo ada kesempatan ngobrol sama dia.” Gue mulai bercerita dengan sedikit terbata-bata.
“Pengecut lo. Kenapa nggak lo ungkapin aja ke dia? Apapun jawabannya, seenggaknya lo udah ungkapin. Kebanyakan teori sih lo. Cinta itu dapat dirasain bukan dari novel-novel, tapi praktek langsung di lapangan, bro!” Sergah Ario.
“Selama ini gue belum nemu kata yang tepat buat jelasin ke dia. Sebenarnya kasus kita sama Ar, Long Distance Relationship. Cuma beda makna aja. Seperti yang lo bilang dulu, cinta itu hanya sebuah kata yang nggak dapat dimengerti tapi punya banyak makna.” Sambung gue dengan nada agak didramatisir kayak Rendra saat bacain puisi Nina Bobok bagi Pengantin.
“Maksud lo?” Tanya Ario dengan mata hampir mau loncat. Rautnya berubah serius. Dengan mengambil nafas agak panjang lebih dulu gue lantas menjawab,
“LDR yang lo rasain emang jauh di mata dekat di hati, Ar. Lo nggak tahu rupa dia kayak apa, begitu juga sebaliknya, disamping ruang dan waktu yang memisahkan kalian berdua. Tapi hati kalian terkoneksi oleh rasa saling percaya atau mungkin bisa disebut ketulusan. Atau juga cuma kesenangan semu yang kalian dapat dari kebohongan? Tapi yang jelas kasus gue..”
“Gimana kasus lo, Gaza ?” Potong Ario penasaran.
“Gue deket. Bahkan gue dan dia satu kelas. Seberapa deket gue terkoneksi dengan dia bisa diliat dari gue yang nggak pernah sekalipun bolos kelas supaya bisa ketemu terus. Sayangnya, dia ngeliat gue terlaluh jauh dari kriteria, Ar. Hati dia terlalu jauh buat gue kejar. Dia anak Dekan kita. Lha gue? Cuma cecunguk. Kutu buku bodoh yang nggak mau nyadar kalau apa yang dirasain itu nggak semestinya dipelihara. Biaya yang gue keluarin juga nggak kalah mahal, Ar. Harga mahal buat berusaha tampil bukan sebagai pecundang dihadapan dia. Jadi bisa dibilang gue juga ngalamin LDR. Bedanya LDRgue itu dekat di mata tapi jauh di hati.” Serangan balik buat Ario yang udah nge-judge gue homo !
“Gue pikir lo bakal nge-dongeng kisah cinta dua anak Montague dan Capulet yang saban hari dibaca sama lo. Terus rencana lo apa, Za?” Ario makin bergairah mendengarkan.
“Gue bukan Romeo, bukan Edward Cullen, bukan pula Fahri atau Keenan. Gue sadar gue nggak datang dari dunia mereka. Gue juga nggak mau berpura-pura datang dari dunia yang sama kayak mereka. Gue akan datang perlahan dengan dunia gue. Dunia para pengecut yang kikuk ketika duduk di sudut tribun stadion, yang terpaku ketika melihat dia lagi drible bola basket. Tapi gue nggak pernah berpikir untuk bisa mempuisikan dunia yang penuh dengan bola basket dan barang-barang bermerek. Gelandangan super macam gue paling cuma bisa dari jauh memandang dia yang lagi tidur saat kelas statistika, sebab selama dua tahun terakhir cuma itu cara termurah buat menikmati siksa yang tumbuh dari hati yang deg-degan. Hidup kadang nggak adil ya, Ar?” Gue menutup kalimat dengan senyum paling pahit.
Tidak terasa hari sudah sore. Senja yang perlahan-lahan merayapi horison troposfer mebias pada gelas-gelas yang mengembun di atas meja, sisa saksi dialog gue dan Ario. Sinarnya merefleksikan asap rokok yang mengepul dari lubang hidung kami, membentuk siluet-siluet yang mewujud rupa getir hati dua anak adam yang diliputi dengan ketidak-pastian. Kafe makin hening. Sejurus gue memandang Ario penuh arti. Ario membalasnya penuh curiga.
“khok muka lo jadi kelihatan tegang gitu, Za. Kayak orang kebelet boker aja. Jangan bilang ada Diara di sini?” Selidik Ario yang kemudian matanya menyapu tiap sudut ruang kafe. Namun dia hanya mendapati seorang pelayan yang sedang mengelap meja. Matanya kembali tertuju ke muka gue. Dengan penuh kepastian gue mencoba menghapus kegundahan Ario yang penasaran. Gue pun menjawab,
“serius, Bro. Gue emang kebelet BOKER !”
Purwokerto, 09-Mei-2014
Untuk seseorang yang mengenalkanku pada
malam paling manis di Kota ini
0 comments:
Posting Komentar