Blogroll

MAAF (sebuah cerita pendek)

Juli 12, 2013 |


June 24, 2013 at 1:06pm
                Cahaya saling kejar-mengejar kulihat dari sisi jendela bus yang lembab karena hujan. Kurebahkan badanku yang terasa remuk. Kulemaskan sendi-sendi dengan sedikit menggerakkan badan. Lalu kupandangi wajahnya yang pias dan lelah. Kusisihkan rambut yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Gurat-gurat kemarahan itu masih terlihat jelas. Namun ketulusan dan kelembutan tidak terbantahkan dari sudut kelopak matanya yang sendu, menyeretku pada rasa sesal yang begitu mendalam. Wajahnya terlihat cantik sekali saat tertidur seperti ini. Seandainya kamu mengetahui, aku sangat menyayangimu. Kemudian pertanyaan demi pertanyaan menyerbu, untuk apa sejauh ini kamu mengikutiku ? Melawan arah yang tidak semestinya dilalui ? Kupejamkan mataku yang mulai terasa berat. Tiba-tiba sunyi merapat, menyusul keheningan yang membawaku entah ke negeri asing.

“Jangan pergi.”

“Sudah cukup jelas bagiku.”

“Aku bilang jangan pergi. Kamu tidak mengerti..”

“Karena kamu tidak mau mengerti !”

“Kamu brengsek !”

“Terserah apa katamu.”

“ Tapi kejenuhan itu selalu menyiksa.”

“Itu karena kamu sudah berbeda.”

“Kamu brengsek !”

“Apakah brengsek itu saat aku melihatmu bergandengan tangan dengan laki-laki selain aku?”

“Tidak  sseperti itu kejadiannya..”

“Sudahlah..”

Seketika dialog itu samar-samar terngiang, seperti pergi menjauh, hingga kemudian lenyap. Deru mobil kembali terdengar, aku terbangun. Bus terhenti di sebuah pombensin di daerah Majalengka. Aku turun untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan. Dia masih tertidur pulas. Aku tatap wajahnya dalam-dalam.

“Fit, kamu belum makan. Ini  aku belikan roti untukmu. Makan dulu ya ?” kataku pelan, mencoba membangunkannya dengan perlahan.

“Aku tidak lapar,” sahutnya perlahan namun dengan alis yang beradu.

“ Badanmu panas.”

“Aku tidak apa-apa, kok.” Suasana seketika hening.

Bus kembali berjalan. Saling diam itu datang lagi. Tidak pula tatapan yang beradu penuh kerinduan. Pandangan kami saling berlawanan arah. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tapi dalam pikiranku yang ada hanyalah ingin sekali memandangnya, namun keinginan itu aku urungkan. Kulempar pandanganku keluar kaca jendela bus. Bus melaju perlahan, menerobos perkebunan tebu yang gelap. Segelap hatiku saat ini.

                                                 ***



                Rabu malam di awal januari. Setelah beberapa bulan terakhir kuliah, masa liburan pun datang. Aku bergegas melangkah menyusuri koridor kampus. Jas lab lusuh yang menempeli badan, kulepas dengan sigap dan terburu. Jarum jam tangan menghujam angka dua belas. Aku harus mengurungkan niat untuk melepas rindu dengan keluarga karena harus menyelesaikan penelitian yang merupakan bagian dari proposal skripsi yang kuajukan sebulan lalu dan harus diselesaikan segera. Ini bukan perkara sepele. Pertaruhan nasib masa depan sekaligus kesempatan terakhirku untuk memperoleh tiket beasiswa program master di Melbourne yang telah lama kuimpikan, semata untuk orang-orang yang menyayangiku. Tidak terkecuali dirinya.

Setiba di kost, aku langsung mengambrukkan tubuh di kasur. Lelah sekali, tapi bola mataku belum bisa terpejamkan. Kutatap langit-langit. Kemudian pandanganku beralih, menyapu deretan bingkai foto yang tersusun rapi di atas meja belajar. Senyum simpul foto keluarga mengobati rasa lelahku seketika. Pandanganku terhenti pada sebingkai foto seorang wanita. Rambutnya panjang tergerai, senyumnya tipis dengan hiasan dua lesung di bagian wajahnya. Sejenak aku mengingat masa lalu. Entah bagaimana jadinya, jika empat tahun silam aku tidak bertemu dengannya. Pertemuan yang tidak disengaja berawal dari sebungkus nasi.

Singkat cerita. Waktu itu aku pulang sekolah, dengan perut yang lapar dan uang saku habis. Ibu sedang pergi mengunjungi saudara yang sakit, maka tidak ada makanan tersedia di rumah. Sialnya warung nasi yang ada di sekitar rumahku tidak ada yang buka satu pun. Aku mengayuh sepeda dengan gontai mencari warung nasi. Tiba di ujung desa, aku menemukan warung nasi yang ramai pembeli. Aku harus mengantre untuk mendapatkan sebungkus nasi. Sekian lama menunggu, akhirnya bagianku tiba. Nasi tinggal porsi sebungkus, pas sekali, aman pikirku. Tapi tiba-tiba seorang wanita menyambar dan berdalih bahwa itu adalah porsi yang sudah ia pesan. Si penjual menganggukkan kepala, mafhum dengan pernyataan wanita itu. Aku melangkah menuju sepeda dengan lemas. Kutatap wanita itu yang tersenyum dengan kemenangan. Sejak kejadian itu tanpa di sengaja, secara terus-menerus aku bertemu dengannya. Di tempat yang tidak terduga dan tidak terencana samasekali, di pasar, angkot, persimpangan jalan, dan tempat yang sebelumnya juga tidak aku sangka, dia satu komplek sekolah denganku, dia kelas dua menengah pertama, aku kelas tiga menengah atas. Ketika jam pulang sekolah, aku berjalan untuk pulang. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Aku memutuskan untuk berjalan bersamanya. Kami masih saling tak acuh. Tiba-tiba hujan turun deras. Aku berlari mencari tempat untuk berteduh. Dia mengikutiku. Saat itulah, di sebuah teras warung, aku mengenalnya. Namanya, Fitriani Yudhistira Asmayanto, putri tunggal lurah desa sebelah dimana aku tinggal. Sejak perkenalan itu kami semakin dekat, entah dimulai dari mana, dari awal yang saling benci, sampai akhirnya kami merasa saling nyaman. Tepat pada saat hari ulang tahunku yang ke-17, tanggal 17 Maret, kami berpacaran. Hari-hari yang kami lalui penuh dengan keindahan, kerinduan dengan rasa kasih sayang yang begitu mendalam. Seperti selayaknya sepasang kekasih ada umumnya. Dia adalah satu-satunya orang yang membuat aku percaya dengan diriku sendiri. Cinta pertamaku, dan berharap adalah yang terakhir.

        Kulihat jam tangan, pukul satu pagi. Aku meraih handphone yang sehari ini lupa kubawa. Mataku terbelalak melihat ada 175 panggilan tak terjawab dan 105 pesan. Aku buka satu per satu. Semuanya dari Fitri. Tiba-tiba rindu dan rasa bersalah berkecamuk. Kulihat semua pesan berisi sama. Aku membacanya dengan penuh rasa sesal.
                “Assalamualaikum. Mas apa kbar ? Mas, kmu tau kn ini hari ulang tahunku. Kmu jg sdh brjanji kalau ingin menjengukku ke pondok saat aku ulang tahun. Dan kita pulang sma2 ke Indramayu. O ya, alhamdulillah, Mas, aku lulus sbg santri, bsok acara wisudanya. Mas, aku sengaja tdk menghubungimu sebulan ini, supaya saat kita bertemu nanti, kita bisa saling berpandangan dgn lama. Aku sangat merindukanmu. Merindukan saat2 memandang matamu. Satu2nya mata yg membuat hati ini teduh. Yasdh mas, itu saja. Smoga ini tdk mengganggu kesibukanmu dan kmu baik-baik saja disana. Sekali lg aku sangat merindukanmu. Untuk yang  ku sayangi selalu, Bayu Samudera Bhaskara. Dariku yang sedang gundah menunggumu, Fitriani YA. Wassalam.”

                Rasa rindu itu membuncah. Air mata tidak mampu kutahan, membasahi pelipis yang lelah. Mengapa aku bisa lupa ? Aku meraih tas ransel. Berkemas seadanya. Aku bergegas menuju terminal Purwokerto. Angin malam yang dingin  menamparku dan menciutkan sendi-sendi egoisme yang ada. Sunyi kota Purwokerto menyergap hati yang kalap diterkam rasa sesal. Tidak ada kendaraan yang melintas. Tidak ada yang perduli dengan kebodohanku ini. Bahkan, setiap sisi dan sudut kota menatap sinis terhadapku. Sebuah taksi melintas, aku segera menaikinya. Setibanya di terminal, kesunyian itu kembali menghakimi. Aku segera menuju loket bus tujuan Tasikmalaya. Bus berangkat pukul tiga pagi, meluncur melewati gelapnya kaki gunung Slamet. Kesunyian lagi-lagi menyergap, menangkap, merayap dan menghakimiku.

Sepanjang perjalanan aku tidak dapat memejamkan mata. Aku hanya memikirkan dirinya. Bus berhenti di terminal Tasikmalaya pukul sembilan pagi. Tak acuh dengan lelah tubuh dan perut yang belum terasupi makanan. Aku langsung mencari angkutan umum jurusan Singaparna. Angkutan membelah kemacetan kota Tasikmalaya. Ramai penduduk kota lalu-lalang dengan urusan masing-masing. Tapi keramaian itu seolah menyedutkanku. Aku merasa sendiri ditemani rasa sesal dan rindu, sebuah urusan yang begitu menyiksa. Aku turun di sebuah jembatan panjang perbatasan. Matahari sudah naik, tapi hatiku terus menggerakkan seluruh tubuh hingga sampai di sebuah pondok pesantren.

        Aku memasuki gerbang pondok. Seorang satpam bertanya padaku dengan curiga. Aku menjelaskan maksud dan tujuanku untuk menjenguk saudaraku padanya. Aku memasuki pelataran pesantren yang dipenuhi tanaman hias. Tanaman itu mengingatkanku seketika dengan penelitianku. Tapi lantas aku tak hirau. Aku bergegas menuju asrama putri. Rupanya sedang ada wisuda santri, sehingga pesantren dipenuhi orang tua dan santri yang saling bercengkrama. Aku terus berjalan.

                Langkahku terhenti seketika. Aku melihatnya dari jauh. Di sampingnya ada ayah dan ibunya. Aku sangat rindu sekali padanya. Ingin sekali segera supaya dia mengetahui keberadaanku disini. Aku mencoba mendekat. Tiba-tiba kulihat ada seorang laki-laki  yang agaknya seumuran denganku, pakaiannya rapih, persis seorang putera keraton, wajahnya tampan dan bersih. Laki-laki itu mendekati Fitri. Lantas ia menggandeng tangan Fitri menuju panggung untuk bernyanyi. Tidak pantas pikirku seorang santri bergandengan seperti itu. Tapi kesadaranku mengatakan, mungkin dia saudara atau kakak yang muhrim dengannya.

                Tanpa sengaja, ayah Fitri melihatku. Dia menghampiriku. Kulihat raut mukanya yang menunjukkan ketidaksukaan dengan keberadaanku disini. Dia menggenggam erat tanganku. Ibu Fitri melihat kami dari jauh. Aku dibawanya ke sudut ruang kelas kosong. Aku mencoba tenang. Namun serta-merta dia berkata kepadaku dengan keras,

“sudah saya bilang kamu jangan dekat-dekat dengan anakku. Kamu itu siapa ?! Hanya orang yang beruntung mendapat kuliah gratis. Dengar. Itu tetap bukan jaminan untuk kebahagiaan masa depan anakku. Kamu harusnya berkaca diri dong. Keluargamu itu miskin. Tidak punya apa-apa. Begini, asal kamu tahu ya, dik Bayu, Fitri itu akan kami tunangkan dengan anak dari pemilik pesantren ini. Jadi saya mohon, kamu jangan dekati dia lagi. Kalau kamu menyayangi Fitri, hargai keputusannya.”

        Awan pekat serta-merta menyelimuti hatiku. Petir menyambar menemani langkah ayah Fitri yang meninggalkanku tanpa acuh di sudut ruangan. Setetes air mata jatuh, aku mencoba mengusapnya, dengan tenang dan tegar. Dengan mata berkaca-kaca kuseret kaki ini, entah lelah tidak lagi kurasakan. Langkahku terlihat oleh Fitri yang baru turun dari panggung. Dia memanggilku dengan suara keras. Aku mencoba tak acuh. Kupandang sesaat, dia berusaha mengejarku, namun orang tua dan calon tunangannya mencegah. Aku muak melihatnya. Aku segera keluar, melewati gerbang dengan perasaan yang remuk redam. Aku  hanya bisa diam berjalan. Kesejukkan Singaparna sirna, berubah menjadi sengak tak terperi. Aku berusaha tegar, tapi terlalu lemah untuk menerima kenyataan. Pembalasan nyata atas kesalahanku padanya.

                Entah sejauh mana aku melangkah hingga sampai di terminal Tasikmalaya. Aku segera menuju loket bus tujuan Indramayu. Aku ingin istirahat sejenak, mungkin bertemu keluargaku bisa mengobati sedikit luka yang aku rasakan saat ini. Saat aku menoleh ke belakang, Fitri dengan tas ransel di pundaknya berdiri. Matanya berkaca-kaca. Aku tidak sanggup menatapnya. Kupalingkan pandanganku darinya. Kami saling diam sesaat. Waktu seperti terhenti. Cuma ada kami berdua yang saling meluapkan emosi. Pertengkaran yang tidak semestinya itu pecah tanpa alsan yang jelas. Rindu itu diluapkan oleh panasnya amarah. Hingga waktu benar-benar terhenti saat tangan kanannya dengan keras menampar wajahku. Aku hanya bisa diam dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin sekali menjelaskan padanya betapa situasi ini sangat rumit, tapi lagi-lagi aku terlalu lemah untuk itu. Kami saling diam. Hingga dia dengan nada lemah dan air mata yang menetes, berbisik di depan wajahku,
                “aku ingin pulang bersamamu.”
                                                                                                ***


          Bus berhenti di sebuah jembatan di Indramayu jam sepuluh malam. Kami sedikit kebablasan turun. Kami melangkah menebas kesunyian malam, lalu menaiki becak yang kebetulan melintas. Lampu kuning yang teduh menerangi sepanjang jalan. Sungai Sindupraja mengalir sunyi, hanya riak-riak air kecil terdengar. Rumput-rumput yang bernaung divatas tanggul sungai itu, hanya patuh tanpa banyak kata kepada angin menggerakkannya. Rumah-rumah yang berbaris sepanjang jalan pun membisu. Semuanya diam. Diam yang menyergap kami berdua.

Becak terhenti, sampai di rumah Fitri. Kami masih saling diam. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa acuh terhadapku. Aku hanya bisa memandangnya. Pedih sekali. Aku merasa tidak ada lagi yang memahami perasaanku, bahkan dari orang yang kusayangi selama ini. Keputusan untuk membatalkan pertemuanku dengan Profesor Loekas, pembimbing skripsiku, dan ajakan beliau untuk menghadiri seminar hasil penelitian seorang Guru Besar di Melbourne, tiba-tiba hadir. Penyesalan itu datang kembali, kalau saja aku bisa menepati janjiku, mungkin tidak akan serumit ini. Hujan pun turun deras. Aku merasa semuanya sia-sia. Aku melangkah menuju rumah. Aku tidak perduli hujan yang mengguyurku. Rumit sekali. Namun tanpa kesadaran penuh, Aku membalik arah langkahku untuk menuju rumah Fitri lagi. Ada suatu hal yang harus aku katakan, entah tepat atau tidak, aku rasa akan sedikit mengurangi beban ini. Tiba di rumah Fitri, aku mendengar suara tangis. Itu suara Fitri. Aku semakin pias dan gundah. Tanpa sadar, dengan mata yang berkaca-kaca, kata itu meluncur deras dan keras menghancurkan keheningan,

“Fitri. Maafkan aku ! Maafkan aku ! Aku sangat merindukanmu ! Tolong dengar ! Aku tidak jauh lebih brengsek daripada kamu ! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Fit ! Tolong dengar aku, aku mohon kamu jangan menangis !!!”

Aku berteriak sejadinya. Kuhujamkan lutut yang terasa lemas ke tanah ditengah guyuran hujan. Aku memalingkan diri dari rumahnya. Hujan semakin deras. Hingga terdengar suara sahutan yang keras. Aku merasakan getaran kuat dari suara itu.

“Kenapa kamu tidak datang ?! Aku menunggumu ! Kenapa kamu datang disaat semuanya akan terlambat ?! Kamu benar-benar brengsek ! Kamu tega denganku, Bayu !”

Diam itu kembali menyergap. Hanya deras hujan dan isak tangisnya yang terdengar. Aku bangun mendekatinya. Wajahnya pias, ari matanya mengalir. Kami saling pandang. Pandangan yang begitu dalam. Dia mendekatiku. Menebas hujan rindu yang menggebu. Kurasakan getaran hati yang hebat saat memandangnya dari dekat. Aku sungguh sangat merindukannya. Bersamaan dengan hujan, dengan pandangan yang begitu sarat dan dalam, mencoba merobek belenggu amarah dengan kasih sayang dan rindu yang membuncah, hingga mampu menghentikan butir-butir hujan. Meluapkan rasa yang telah terjaga sekian lama. Sejak peristiwa nasi bungkus dan kepedihan yang telah kami lalui selama ini. Dan kata itu meluncur tulus dari dalam jiwa masing-masing secara bersamaan,

“maaf.”

1 comments:

Anonim mengatakan...

Like this, sangat suka.

Posting Komentar