Blogroll

Diara (Sebuah cerita pendek)

Juli 12, 2013 |


March 31, 2013 at 5:35pm




Udara sejuk adalah suatu kewajaran bagi kota kecil yang terletak di kaki gunung Slamet ini; Purwokerto. Aku melangkah mantap meniti jalan setapak dan gang sempit. Kulihat jam tangan, sudut jarum pendeknya menghujam angka tujuh, tegas menyalak. Ini hari pertamaku masuk kuliah. Aku tidak ingin kalau sampai terlambat. Cukup idealis. Aku mempercepat langkah. Langkah penuh ambisi meraih mimpi.
Awal yang baik adalah bagian wajib dari mekanisme proses yang indah. Awal yang indah itu adalah sebuah pagi yang ramah. Matahari bersinar cerah, membiaskan sinar jingga yang menari-nari di atas gemercik air sungai, tak kenal lelah, mengalir searah, batu-batu granit memenuhi permukaannya, timbul tenggelam tiada bertitah. Sesekali kulihat dari sela-sela rimbun daun dan rumah-rumah penduduk, menjulang tinggi gunung Slamet, kabut menyelimuti pundaknya, tersibak perlahan, membuka lembar-lembar keluguan, bocah-bocah berlarian, mengejar cahaya.
Sepanjang jalan setapak titian pinang sebatang, keindahan alam itu mengantri dengan rapih. Silih berganti. Sungguh. Antrian yang menawan hati. Kian terpikat aku jatuh hati. Keindahan panorama yang berbaris rapih itu, adalah bagian kecil dari segolongan besar keindahan yang sarat maknawi, penuh misteri. Seperti pertemuanku dengannya hari itu, saat itu, ketika itu, dan kala itu, adalah teka-teki. Pertanyaannya, apakah ini semata kebetulan atau sekedar imaji ?
***
Perjumpaan yang terlalu lugu kemarin adalah sebuah penipuan waktu. Malam sebelum hari itu, aku hanya merencanakan hari yang sangat melelahkan. Jika aku bangun lebih siang barang satu menit, maka kepastianya hanyalah satu, mendapat antrian paling akhir dari sekian banyak calon mahasiswa baru yang hedak melakukan registrasi. Benar saja, hari itu aku terlambat tujuh menit karena harus mengantri mandi. Hukum alam bagi anak kos. Nomor antrian 167. Tempe bongkrek. Lebih sialnya, butuh waktu lebih dari seperempat jam untuk satu calon mahasiswa melakukan registrasi. Maka jika dikalkulasikan, aku harus menunggu giliran setidaknya 6 jam. Parahnya menunggu itu mutlak bagi para penerima beasiswa, jika tidak ingin kesempatan itu meluap sia-sia. Sungguh sebuah sistem yang membelenggu. Namun tiada kilah mengorbankan harapan yang sudah di depan mata. Maka bukan menggerutu, sabar mungkin lebih baik dan bijak.
Matahari telah naik, perutku terasa sakit sebab sejak semalam belum terasup makanan. Kubeli roti dari kakak-kakak mahasiswi yang menjajahkan beberapa jenis makanan. Secepat kilat aku merogoh saku untuk membayar, secepat itu pula kuhabisan roti tanpa sisa. Setelah berkompromi dengan nafsu, sesekali atau bahkan berkali-kali setelah itu, aku cek ulang semua berkas aplikasi beasiswaku, walau hanya sekedar niatan mengisi waktu atau antisipasi kekurangan berkas bilamana terjadi sesuatu. Semua masih lengkap utuh. Maka selanjutnya adalah menunggu, dengan kesabaran penuh. Sekian lama menunggu, nomor antrian sudah sampai 160. Sebentar lagi pikirku. Lega rasanya.
Akhirnya hanya menunggu seorang lagi untuk tiba giliranku. Namun lagi-lagi sial itu datang tanpa antri dan kompromi. Ketika kuraba saku celana, aku tidak menemukan kartu antrianku. Jika harus mengambil antrian baru yang tentunya akan mendapat giliran lebih akhir. Kurogoh semua saku, barangkali terselip disana, tapi tidak ada. Sial ! Kucari-cari di sekitar tempatku duduk. Tidak ada. Ketika aku menengok arah belakang, tiba-tiba ada seorang perempuan mendekat dengan raut cemas seperti mencari sesatu yang hilang. Wajahnya pias. Keringat mengucuri pelipisnya. Aku kasihan dibuatnya. Tetapi, masalahnya, keberanian tak lantas datang, aku hanya diam memperhatikan. Pengecut. Ah, tidak. itu naluri yang wajar bagi seorang lelaki yang semasa hidupnya sedikit mengenal sisi.
“Ini dia kartuku, akhirnya ketemu.” Perempuan itu merunduk, lantas mengambil sesuatu, seperti sebuah kartu antrian.
“Ehh..Maaf, Emm.. itu.. it..itu kartu antrian saya, Mbak, Tadi jatuh.”
“Bongkrek. Enak saja koe. Mbok jelas-jelas baru datang begitu sudah main serobot ! Tidak usah ya, aku masih ingat betul nomor antrianku.” Perempuan itu berkata dengan sorot mata tegas. Lalu bola matanya menjelajahi kartu antrian yang dipegangnya.
“Tuh lihat, apa aku bilang. Nomor 167. Ya. Ini nomor antrianku. Aku ingat betul.” Aku melihat sorot matanya sperti sedang mengingat dan menegaskan sesuatu namun ragu. Aku berpikir, dia pasti sedang berdusta. Dasar, perempuan tak berperasaan, jelas-jelas itu kartu antrian milikku. Tiba-tiba kata itu meluncur deras, entah mewakili atau tidak, aku merasa benar,
“ehh..sa..sa..saya masih rasional untuk menahan diri dari persoalan sepele macam begini, Mbak. Jelas-jelas Anda yang main serobot. Cepat kembalikan kartu antrian saya. Setelah ini akan dipanggil untuk registrasi. Sini cepat.” Aku mencoba meraih kartu itu namun perempuan itu memalingkan lengan menyembunyikan si kartu.
“Nomor antrian 167..Sekali lagi nomor 167..,” speaker TOA melengking-lengking, “..167..”
“Cepat, Mbak. Itu giliranku.”
“Dasar lelaki. Teroris. Menghalalkan segala cara untuk kepuasan diri sendiri. Enyah kau, pecundang, pendusta.” Aku gagap, tak bergerak. Berani sekali dia.
Sejurus perempuan itu lenyap dari pandanganku. Dia mengambil kartu antrianku. Ini tidak adil. Teroris ? Kepuasan diri ? Apa hubungan kedua hal itu dengan lelah aku mengantri berjam-jam lamanya ? Tak adil. Lagi-lagi aku harus menjadi korban dari sistem yang membelenggu. Aku melangkah gontai menuju meja di ujung barat gedung administrasi untuk mengambil kartu antrian baru. Agaknya semua calon mahasiswa hanya tinggal menunggu giliran. Maka dapat dipastikan akulah yang mendapat giliran terakhir diantara mereka. Huh, bongkrek.
Ini sepele sebenarnya, hanya soal menunggu antrian, mengapa mesti kelu ? Laknat bagi sebuah rasa putus asa karena hal sepele, hanya pecundang saja yang menganggap itu anugerah. E, pecundang ? Aku duduk dibawah pohon palem dekat ruang tunggu antrian. Pikiranku berlari meraih momen aneh beberapa menit lalu. Siapa perempuan itu ? Aku bertanya dalam hati tanpa dasar yang jelas. Seorang penjaga mengingatkanku untuk jangan terlalu jauh dari ruang tunggu antrian, barangkali nomor antrian disebut, jika tidak ada batang hidung untuk menanggapi, maka hangus beasiswanya. Aku mafhum. Ketika hendak bangun dari duduk, mataku secara tidak sengaja menelusur ke bawah, aku menemukan sesuatu. Sebuah kartu antrian. Kartu itu lusuh dan kotor. Sepertinya telah terinjak-injak. Kartu antrian itu bernomor 617 ! Akhirnya jawaban dari sorot keraguan perempuan penghakim tanpa dasar tadi terungkap, dia keliru. Bahkan dusta sekaligus. Kartunya bernomor 617, 167 itu miliku. Tempe bongkrek!
***
Mentari yang cerah, secepat mata mengedip, telah menjadi sejarah. Malam pun datang. Akhirnya proses registrasi telah berlalu. Sesuai rencana walau dengan sedikit skenario yang berbeda. Hari ini memang sangat melelahkan. Aku berjalan menyusuri koridor kampus fakultas ekonomi. Sesekali aku tersenyum geli, menikmati sebuah awal dari proses panjang yang telah lama aku nanti-nantikan: menjadi mahasiswa. Ah, senangnya. Seketika pikiranku menikung. Tiba-tiba bayangan perempuan tadi muncul. “Teroris..kesenangan diri…,” kata-katanya terngiang di kepalaku. Aku masih merasakan sorot matanya yang tegas tapi teduh. Ketika ia berbicara, ada lekuk yang sangat indah yang menghiasi kedua permukaan pipinya. Alis tebalnya yang beradu ketika mengekspresikan keraguannya, semakin kontras dengan raut wajahnya yang polos, putih bersih dan rambutnya yang hitam tebal tergerai rapih. Ah, siapa perempuan sinting tadi ya ? Ini kali pertama semasa hidupku, merasakan suatu rasa, bahkan entah penjelasan seperti apa yang pantas mewakili rasa itu. Tidak ada teori. Meski pikiranku secara mutlak menganggapnya sinting, tapi sugguh aku berharap lain waktu bisa berjumpa lagi dengannya. Berharap ? Untuk apa ? Aku tersenyum. Masih satu kampus, ingin berjumpa lagi bukan sesuatu yang muluk. Bencana.
***
Masa ospek pun tiba. Aku disibukkan dengan segala tetek-bengek atribut ospek yang harus dipersiapkan. Waktu itu aku harus membeli karung untuk bahan dasar membuat tas. Aku berinisiatif untuk membelinya di pasar tradisional terdekat. Menurut masyarakat sekitar kampus, menjelang tahun ajaran baru, karung adalah sesuatu yang sangat spesial seperti padi di musim paceklik, karena sebagian besar panitia ospek fakultas mensyaratkan atribut ospek berbahan dasar karung bagi mahasiswa baru. Maka karung adalah benda yang paling dicari oleh ribuan mahasiswa baru.
Pagi-pagi aku berangkat ke pasar agar tidak keduluan orang lain, pikirku. Setibanya di pasar, setelah melalui proses pencarian yang sulit, akhirnya kutemukan juga sebuah karung. Itu karung satu-satunya yang tersisa, padahal hari masih pagi. Rupanya banyak mahasiswa yang telah memborong semua karung kemarin. Setelah bernegosiasi laksana transaksi jual-beli barang berharga, akhirnya diperoleh kesepakatan harga. Segera aku membelinya. Aku membawa uang yang begitu pas hanya untuk membeli karung dengan harga dahsyat.
Tiba-tiba perutku terasa sakit. Perutku melilit seperti diputar-putar. Pesan alam yang tidak bisa diprediksi kedatangannya. Lantas aku segera mencari toilet tanpa peduli dengan karung yang kemudian aku titipkan sementara kepada si penjual tadi. Jika sampai buang hajat di celana, bencana. Setelah dari toilet aku kembali untuk mengambil karung. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui ada seorang perempuan yang rasa-rasanya tidak asing bagiku. Aku amati dari kejauhan.
“Pak, karungnya saya beli dua kalilipat harga. Mau ya ?”
“Karung ini sudah terjual, Mbak.”
“Khok karungnya masih di bapak ?”
“Yang punya sedang ke toilet. Kebelet.”
“Saya beli tiga kalilipat harga, Bagaimana ? Nanti bapak tinggal kasihkan lagi saja uangnya kepada pembeli sebelumnya. Beres. Lagi bapak bisa dapat untung besar.”
“Yasudah, Mbak, bener ya tiga kali lipat ?”
Tempe bongkrek, sinting benar ini perempuan. Awas akan aku labrak, pikiru dalam hati. Aku melangkah menju mereka. Si penjual karung mendekatiku lantas berbisik kemudian menyerahkan uangku kembali. Perempuan tadi melangkah tak acuh di depanku. Lagi-lagi entah mengapa, seketika aku gagap, tak berkutik. Aku lalu memberanikan diri untuk mengikutinya. Tiba di sebuah persimpangan, ia memasuki sebuah toko sepatu. Ia meninggalkan belanjaannya. Kesempatan untuk memberi pelajaran. Aku beranikan diri untuk mengambil karungnya. Dan gawat. Dia melihatku. Dia meneriaki aku maling. Bencana. Hina sekali jika episode hidupku berakhir dengan bogem-bogem mentah, mati seperti anjing kurap di tengah pasar seperti ini hanya untuk sebuah karung.
“MAAAALIIIIIIIIIING !!! TEROOORISSSS !!! MAAAAAALIIIIIIIING !!!!”
“Ini karung saya, heh. Kamu yang maling !”
Aku berlari. Entah mengapa kakiku mesti berlari. Sebuah keputusan yang penuh resiko. Aku melihat perempuan sinting tadi masih meneriakiku maling. Warga mulai berlarian mengejarku. Aku lari sekencang-kencangnya. Lalu, disela-sela gang smpit, aku menemukan sebuah tempat sampah besar. Aku bersembunyi didalamnya. Busuk bukan main tempat sampah ini. Aku menunggu sampai keadaan tenang ketika semua warga berlalu. Akhirnya aku bisa pulang ke kosan dengan tenang. Dasar perempuan gila. Jika aku sampai mati dikeroyok, dia orang yang akan selalu aku hantui malamnya. Sejak itu, aku tidak lagi berharap bertemu dengannya.
***
Ketika hari terakhir ospek, kejutan itu hadir lagi. Aku sedang mengantri untuk didampingi menuju ruang P3K. Aku salah satu dari beberapa mahasiswa yang mendapat perlakuan spesial karena riwayat penyakit, dengan dicirikan pita warna hitam tersemat di lengan sebelah kanan. Bagi sebagian mahasiswa, ini adalah kesmpatan yang mahal untuk bisa melarikan diri dari proses ospek yang melelahkan. Bagiku, ini adalah jalan penyesalan untuk sebuah momen ospek yang terlewatkan. Bahkan selama proses ospek berlangsung, aku terpaksa berdiam di ruang P3K untuk menghindari hal yyang lebih buruk. Padahal kondisi kesehatanku baik-baik saja. Seketia aku menyesal menuliskan riwayat penyakit di lembar database pesrta ospek.
Saat itu, mahasiswa seangkatanku sedang melakukan orasi. Mereka tidak terima disebut tidak layak menjadi mahasiswa oleh kakak angkatan yang ganas dan sok senior. Agaknya lelah mengimbangi rasa marah mereka. Begitupun aku yang terpenjara di ruang P3K. Aku mendengar suara provokator dari aksi tersebut. Suara seorang perempuan. Rasanya aku kenal suara itu. Suara yang tidak asing. Suara yang hampir membunuhku. Suara si perempuan sakit jiwa. Ya tidak salah lagi. Ternyata dia satu fakultas denganku. Tempe bongkrek.
“Lihat beberapa dari mereka yang bertingkah manja dibalik ruang P3K hanyalah berpura-pura belaka ! Apa mereka perduli dengan keringat kita yang telah terkuras habis untuk serangkaian acara ini, sedagkan masih saja dikatakan belum layak sebagai mahasiswa ?! Apa kalian sepakat dengan itu ?! Mental tempe !!! Mana pembelaan kalian ?” Panitia ospek mengatur skenario adu domba untuk mahasiswa baru. Esensi kekompakan, pikirku. Lagi-lagi aku terhujam perkataannya yang sekeras batu. Manja ? Sial. Kemudian aku melihat mereka menjadi dua kubu yang saling membela pendapat masing-masing, layak atau belum layak menjadi mahasiswa.
Tapi entah, perhatianku hanya tertuju pada perempuan itu. Mataku tak bisa berpaling dari perempuan itu. Perempuan yang keras. Ah, atas dasar apa aku menilai perempuan itu keras ? Seumur hidup yang aku pahami dari seorang perempuan adalah kelembutan dan ketulusan yang kudapat dari Ibu. Aku terpikat dengan tingkahnya. Aku melihat dirinya. Aku saat ini melihat perempuan dari sisi yang lain yang entah sulit untuk dijabarkan sebab-musababnya. Raut mukanya yang kontras dengan bicaranya yang keras adalah alasan tepat untuk menyatakan bahwa pribadinya itu unik. Ya alasan. Alasan itu adalah aku yang tidak menyesali ketia harus tertukar kartu antrian dengannya kala itu. Bukan berlebihan untuk dapat berjumpa dengannya setiap waktu, dia satu fakultas dan itu bukan bencana. Pertanyaannya masih sama, apakah semata kebetulan atau sekedar imaji ?
***
Semua masih sama. Seirama sang surya planet berotasi. Detik berganti menit. Menit berganti dengan jam. Jam berganti hari. Hari berganti bulan.. Bulan berganti tahun. Begitu seterusnya. Masih sama. Burung-burung bertebaran. Awan-awan berarak. Daun-daun yang bergerak. Sungai yang mengalir. Adalah sebuah sistem penciptaan yang tak terbantahkan. Sistem yang terdiri dari jawaban-jawaban untuk disiasati. Sistem itu tidak membelenggu. Sistem itu menegaskan bahwa semua yang terjadi di bumi ini bukan semata kebetulan. Adalah takdir Tuhan yang membawa pergerakan kehidupan.
Waktu yang tiada direncanakan memang pandai menipu. Ketika lelah mengantri di sudut ruang registrasi. Ketika pertama menjumpainya. Mendengar suaranya. Bertanya-tanya untuk apa waktu menipu rencana ? Pertanyaan yang sama. Jawaban untuk pertanyaan itu sudah jelas; takdir. Takdir yang tidak dapat diubah. Takdir yang tidak semestinya aku sesali ketika keras kata-katanya menghujam nurani. Takdir yang memberitahuku sebuar rasa nan suci. Takdir yang mengajariku tentang itu lebih dalam. Pertemuanku dengannya bukan lagi semata teka-teki. Melainkan sebuah pelajaran hakiki yang membawaku terjun bebas untuk mempelajari sisi lain hidup ini: cinta.
Suara dan gambar dari bayangan itu lenyap. Seketika hilang menjadi kecemasan yang begitu dahsyat. Aku tersenyum geli setelah membayangkan sebuah rangkaian peristiwa menjadi sebuah sistem yang tidak akan pernah aku sesali. Kulangkahkan kaki dengan cepat. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Gawat. Sepuluh menit lagi masuk. Setiba di halaman kampus, aku terseok-seok menyelusuri lorong-lorong dan tangga. Kemudian aku memasuki sebuah ruang kelas yang ternyata bukan kelas yang aku tuju. Aku bingung mencari-cari kelas. Tiga menit lagi masuk. Ini soal idealisme. Aku tidak boleh terlambat. Ini hari pertama kuliah. Akhirnya aku menemukan ruang kelas yang aku tuju. Aku masuki ruang yang telah penuh dengan mahasiswa. Seorang dosen sedang bersiap, membuka salam pertama. Aku kebagian bangku paling belakang. Kulihat jam tangan, tepat satu detik sebelum perkuliahan pertama dimulai. Masih bisa dikatakan sebagai awal yang baik untuk sebuah sistem esok hari yang masih menjadi misteri. Lantas aku menganalisa sebuah transisi, dari siswa menjadi mahasiswa. Ah, mahasiswa.
Dosen membuka salam pembuka. Pembuka lembaran baru hidupku sebagai mahasiswa. Kedua bola mataku perlahan menyisir ruang kelas. Pandanganku terhenti pada sebuah binder yang terletak di meja kursi, milik sesorang di samping kanan tempat aku duduk. Motif binder dengan sampul bunga-bunga menegaskan pemiliknya adalah seorang perempuan. Aku melihat sisi bawah sampulnya tertera sebuah nama: Diara. Sejurus mataku beralih kepada sang pemilik binder itu. Bola mataku hampir melompat. Tempe bongkrek.
“Heh, koe maling !!! Teroris !!!”
Read More

MAAF (sebuah cerita pendek)

Juli 12, 2013 |


June 24, 2013 at 1:06pm
                Cahaya saling kejar-mengejar kulihat dari sisi jendela bus yang lembab karena hujan. Kurebahkan badanku yang terasa remuk. Kulemaskan sendi-sendi dengan sedikit menggerakkan badan. Lalu kupandangi wajahnya yang pias dan lelah. Kusisihkan rambut yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Gurat-gurat kemarahan itu masih terlihat jelas. Namun ketulusan dan kelembutan tidak terbantahkan dari sudut kelopak matanya yang sendu, menyeretku pada rasa sesal yang begitu mendalam. Wajahnya terlihat cantik sekali saat tertidur seperti ini. Seandainya kamu mengetahui, aku sangat menyayangimu. Kemudian pertanyaan demi pertanyaan menyerbu, untuk apa sejauh ini kamu mengikutiku ? Melawan arah yang tidak semestinya dilalui ? Kupejamkan mataku yang mulai terasa berat. Tiba-tiba sunyi merapat, menyusul keheningan yang membawaku entah ke negeri asing.

“Jangan pergi.”

“Sudah cukup jelas bagiku.”

“Aku bilang jangan pergi. Kamu tidak mengerti..”

“Karena kamu tidak mau mengerti !”

“Kamu brengsek !”

“Terserah apa katamu.”

“ Tapi kejenuhan itu selalu menyiksa.”

“Itu karena kamu sudah berbeda.”

“Kamu brengsek !”

“Apakah brengsek itu saat aku melihatmu bergandengan tangan dengan laki-laki selain aku?”

“Tidak  sseperti itu kejadiannya..”

“Sudahlah..”

Seketika dialog itu samar-samar terngiang, seperti pergi menjauh, hingga kemudian lenyap. Deru mobil kembali terdengar, aku terbangun. Bus terhenti di sebuah pombensin di daerah Majalengka. Aku turun untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan. Dia masih tertidur pulas. Aku tatap wajahnya dalam-dalam.

“Fit, kamu belum makan. Ini  aku belikan roti untukmu. Makan dulu ya ?” kataku pelan, mencoba membangunkannya dengan perlahan.

“Aku tidak lapar,” sahutnya perlahan namun dengan alis yang beradu.

“ Badanmu panas.”

“Aku tidak apa-apa, kok.” Suasana seketika hening.

Bus kembali berjalan. Saling diam itu datang lagi. Tidak pula tatapan yang beradu penuh kerinduan. Pandangan kami saling berlawanan arah. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tapi dalam pikiranku yang ada hanyalah ingin sekali memandangnya, namun keinginan itu aku urungkan. Kulempar pandanganku keluar kaca jendela bus. Bus melaju perlahan, menerobos perkebunan tebu yang gelap. Segelap hatiku saat ini.

                                                 ***



                Rabu malam di awal januari. Setelah beberapa bulan terakhir kuliah, masa liburan pun datang. Aku bergegas melangkah menyusuri koridor kampus. Jas lab lusuh yang menempeli badan, kulepas dengan sigap dan terburu. Jarum jam tangan menghujam angka dua belas. Aku harus mengurungkan niat untuk melepas rindu dengan keluarga karena harus menyelesaikan penelitian yang merupakan bagian dari proposal skripsi yang kuajukan sebulan lalu dan harus diselesaikan segera. Ini bukan perkara sepele. Pertaruhan nasib masa depan sekaligus kesempatan terakhirku untuk memperoleh tiket beasiswa program master di Melbourne yang telah lama kuimpikan, semata untuk orang-orang yang menyayangiku. Tidak terkecuali dirinya.

Setiba di kost, aku langsung mengambrukkan tubuh di kasur. Lelah sekali, tapi bola mataku belum bisa terpejamkan. Kutatap langit-langit. Kemudian pandanganku beralih, menyapu deretan bingkai foto yang tersusun rapi di atas meja belajar. Senyum simpul foto keluarga mengobati rasa lelahku seketika. Pandanganku terhenti pada sebingkai foto seorang wanita. Rambutnya panjang tergerai, senyumnya tipis dengan hiasan dua lesung di bagian wajahnya. Sejenak aku mengingat masa lalu. Entah bagaimana jadinya, jika empat tahun silam aku tidak bertemu dengannya. Pertemuan yang tidak disengaja berawal dari sebungkus nasi.

Singkat cerita. Waktu itu aku pulang sekolah, dengan perut yang lapar dan uang saku habis. Ibu sedang pergi mengunjungi saudara yang sakit, maka tidak ada makanan tersedia di rumah. Sialnya warung nasi yang ada di sekitar rumahku tidak ada yang buka satu pun. Aku mengayuh sepeda dengan gontai mencari warung nasi. Tiba di ujung desa, aku menemukan warung nasi yang ramai pembeli. Aku harus mengantre untuk mendapatkan sebungkus nasi. Sekian lama menunggu, akhirnya bagianku tiba. Nasi tinggal porsi sebungkus, pas sekali, aman pikirku. Tapi tiba-tiba seorang wanita menyambar dan berdalih bahwa itu adalah porsi yang sudah ia pesan. Si penjual menganggukkan kepala, mafhum dengan pernyataan wanita itu. Aku melangkah menuju sepeda dengan lemas. Kutatap wanita itu yang tersenyum dengan kemenangan. Sejak kejadian itu tanpa di sengaja, secara terus-menerus aku bertemu dengannya. Di tempat yang tidak terduga dan tidak terencana samasekali, di pasar, angkot, persimpangan jalan, dan tempat yang sebelumnya juga tidak aku sangka, dia satu komplek sekolah denganku, dia kelas dua menengah pertama, aku kelas tiga menengah atas. Ketika jam pulang sekolah, aku berjalan untuk pulang. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Aku memutuskan untuk berjalan bersamanya. Kami masih saling tak acuh. Tiba-tiba hujan turun deras. Aku berlari mencari tempat untuk berteduh. Dia mengikutiku. Saat itulah, di sebuah teras warung, aku mengenalnya. Namanya, Fitriani Yudhistira Asmayanto, putri tunggal lurah desa sebelah dimana aku tinggal. Sejak perkenalan itu kami semakin dekat, entah dimulai dari mana, dari awal yang saling benci, sampai akhirnya kami merasa saling nyaman. Tepat pada saat hari ulang tahunku yang ke-17, tanggal 17 Maret, kami berpacaran. Hari-hari yang kami lalui penuh dengan keindahan, kerinduan dengan rasa kasih sayang yang begitu mendalam. Seperti selayaknya sepasang kekasih ada umumnya. Dia adalah satu-satunya orang yang membuat aku percaya dengan diriku sendiri. Cinta pertamaku, dan berharap adalah yang terakhir.

        Kulihat jam tangan, pukul satu pagi. Aku meraih handphone yang sehari ini lupa kubawa. Mataku terbelalak melihat ada 175 panggilan tak terjawab dan 105 pesan. Aku buka satu per satu. Semuanya dari Fitri. Tiba-tiba rindu dan rasa bersalah berkecamuk. Kulihat semua pesan berisi sama. Aku membacanya dengan penuh rasa sesal.
                “Assalamualaikum. Mas apa kbar ? Mas, kmu tau kn ini hari ulang tahunku. Kmu jg sdh brjanji kalau ingin menjengukku ke pondok saat aku ulang tahun. Dan kita pulang sma2 ke Indramayu. O ya, alhamdulillah, Mas, aku lulus sbg santri, bsok acara wisudanya. Mas, aku sengaja tdk menghubungimu sebulan ini, supaya saat kita bertemu nanti, kita bisa saling berpandangan dgn lama. Aku sangat merindukanmu. Merindukan saat2 memandang matamu. Satu2nya mata yg membuat hati ini teduh. Yasdh mas, itu saja. Smoga ini tdk mengganggu kesibukanmu dan kmu baik-baik saja disana. Sekali lg aku sangat merindukanmu. Untuk yang  ku sayangi selalu, Bayu Samudera Bhaskara. Dariku yang sedang gundah menunggumu, Fitriani YA. Wassalam.”

                Rasa rindu itu membuncah. Air mata tidak mampu kutahan, membasahi pelipis yang lelah. Mengapa aku bisa lupa ? Aku meraih tas ransel. Berkemas seadanya. Aku bergegas menuju terminal Purwokerto. Angin malam yang dingin  menamparku dan menciutkan sendi-sendi egoisme yang ada. Sunyi kota Purwokerto menyergap hati yang kalap diterkam rasa sesal. Tidak ada kendaraan yang melintas. Tidak ada yang perduli dengan kebodohanku ini. Bahkan, setiap sisi dan sudut kota menatap sinis terhadapku. Sebuah taksi melintas, aku segera menaikinya. Setibanya di terminal, kesunyian itu kembali menghakimi. Aku segera menuju loket bus tujuan Tasikmalaya. Bus berangkat pukul tiga pagi, meluncur melewati gelapnya kaki gunung Slamet. Kesunyian lagi-lagi menyergap, menangkap, merayap dan menghakimiku.

Sepanjang perjalanan aku tidak dapat memejamkan mata. Aku hanya memikirkan dirinya. Bus berhenti di terminal Tasikmalaya pukul sembilan pagi. Tak acuh dengan lelah tubuh dan perut yang belum terasupi makanan. Aku langsung mencari angkutan umum jurusan Singaparna. Angkutan membelah kemacetan kota Tasikmalaya. Ramai penduduk kota lalu-lalang dengan urusan masing-masing. Tapi keramaian itu seolah menyedutkanku. Aku merasa sendiri ditemani rasa sesal dan rindu, sebuah urusan yang begitu menyiksa. Aku turun di sebuah jembatan panjang perbatasan. Matahari sudah naik, tapi hatiku terus menggerakkan seluruh tubuh hingga sampai di sebuah pondok pesantren.

        Aku memasuki gerbang pondok. Seorang satpam bertanya padaku dengan curiga. Aku menjelaskan maksud dan tujuanku untuk menjenguk saudaraku padanya. Aku memasuki pelataran pesantren yang dipenuhi tanaman hias. Tanaman itu mengingatkanku seketika dengan penelitianku. Tapi lantas aku tak hirau. Aku bergegas menuju asrama putri. Rupanya sedang ada wisuda santri, sehingga pesantren dipenuhi orang tua dan santri yang saling bercengkrama. Aku terus berjalan.

                Langkahku terhenti seketika. Aku melihatnya dari jauh. Di sampingnya ada ayah dan ibunya. Aku sangat rindu sekali padanya. Ingin sekali segera supaya dia mengetahui keberadaanku disini. Aku mencoba mendekat. Tiba-tiba kulihat ada seorang laki-laki  yang agaknya seumuran denganku, pakaiannya rapih, persis seorang putera keraton, wajahnya tampan dan bersih. Laki-laki itu mendekati Fitri. Lantas ia menggandeng tangan Fitri menuju panggung untuk bernyanyi. Tidak pantas pikirku seorang santri bergandengan seperti itu. Tapi kesadaranku mengatakan, mungkin dia saudara atau kakak yang muhrim dengannya.

                Tanpa sengaja, ayah Fitri melihatku. Dia menghampiriku. Kulihat raut mukanya yang menunjukkan ketidaksukaan dengan keberadaanku disini. Dia menggenggam erat tanganku. Ibu Fitri melihat kami dari jauh. Aku dibawanya ke sudut ruang kelas kosong. Aku mencoba tenang. Namun serta-merta dia berkata kepadaku dengan keras,

“sudah saya bilang kamu jangan dekat-dekat dengan anakku. Kamu itu siapa ?! Hanya orang yang beruntung mendapat kuliah gratis. Dengar. Itu tetap bukan jaminan untuk kebahagiaan masa depan anakku. Kamu harusnya berkaca diri dong. Keluargamu itu miskin. Tidak punya apa-apa. Begini, asal kamu tahu ya, dik Bayu, Fitri itu akan kami tunangkan dengan anak dari pemilik pesantren ini. Jadi saya mohon, kamu jangan dekati dia lagi. Kalau kamu menyayangi Fitri, hargai keputusannya.”

        Awan pekat serta-merta menyelimuti hatiku. Petir menyambar menemani langkah ayah Fitri yang meninggalkanku tanpa acuh di sudut ruangan. Setetes air mata jatuh, aku mencoba mengusapnya, dengan tenang dan tegar. Dengan mata berkaca-kaca kuseret kaki ini, entah lelah tidak lagi kurasakan. Langkahku terlihat oleh Fitri yang baru turun dari panggung. Dia memanggilku dengan suara keras. Aku mencoba tak acuh. Kupandang sesaat, dia berusaha mengejarku, namun orang tua dan calon tunangannya mencegah. Aku muak melihatnya. Aku segera keluar, melewati gerbang dengan perasaan yang remuk redam. Aku  hanya bisa diam berjalan. Kesejukkan Singaparna sirna, berubah menjadi sengak tak terperi. Aku berusaha tegar, tapi terlalu lemah untuk menerima kenyataan. Pembalasan nyata atas kesalahanku padanya.

                Entah sejauh mana aku melangkah hingga sampai di terminal Tasikmalaya. Aku segera menuju loket bus tujuan Indramayu. Aku ingin istirahat sejenak, mungkin bertemu keluargaku bisa mengobati sedikit luka yang aku rasakan saat ini. Saat aku menoleh ke belakang, Fitri dengan tas ransel di pundaknya berdiri. Matanya berkaca-kaca. Aku tidak sanggup menatapnya. Kupalingkan pandanganku darinya. Kami saling diam sesaat. Waktu seperti terhenti. Cuma ada kami berdua yang saling meluapkan emosi. Pertengkaran yang tidak semestinya itu pecah tanpa alsan yang jelas. Rindu itu diluapkan oleh panasnya amarah. Hingga waktu benar-benar terhenti saat tangan kanannya dengan keras menampar wajahku. Aku hanya bisa diam dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin sekali menjelaskan padanya betapa situasi ini sangat rumit, tapi lagi-lagi aku terlalu lemah untuk itu. Kami saling diam. Hingga dia dengan nada lemah dan air mata yang menetes, berbisik di depan wajahku,
                “aku ingin pulang bersamamu.”
                                                                                                ***


          Bus berhenti di sebuah jembatan di Indramayu jam sepuluh malam. Kami sedikit kebablasan turun. Kami melangkah menebas kesunyian malam, lalu menaiki becak yang kebetulan melintas. Lampu kuning yang teduh menerangi sepanjang jalan. Sungai Sindupraja mengalir sunyi, hanya riak-riak air kecil terdengar. Rumput-rumput yang bernaung divatas tanggul sungai itu, hanya patuh tanpa banyak kata kepada angin menggerakkannya. Rumah-rumah yang berbaris sepanjang jalan pun membisu. Semuanya diam. Diam yang menyergap kami berdua.

Becak terhenti, sampai di rumah Fitri. Kami masih saling diam. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa acuh terhadapku. Aku hanya bisa memandangnya. Pedih sekali. Aku merasa tidak ada lagi yang memahami perasaanku, bahkan dari orang yang kusayangi selama ini. Keputusan untuk membatalkan pertemuanku dengan Profesor Loekas, pembimbing skripsiku, dan ajakan beliau untuk menghadiri seminar hasil penelitian seorang Guru Besar di Melbourne, tiba-tiba hadir. Penyesalan itu datang kembali, kalau saja aku bisa menepati janjiku, mungkin tidak akan serumit ini. Hujan pun turun deras. Aku merasa semuanya sia-sia. Aku melangkah menuju rumah. Aku tidak perduli hujan yang mengguyurku. Rumit sekali. Namun tanpa kesadaran penuh, Aku membalik arah langkahku untuk menuju rumah Fitri lagi. Ada suatu hal yang harus aku katakan, entah tepat atau tidak, aku rasa akan sedikit mengurangi beban ini. Tiba di rumah Fitri, aku mendengar suara tangis. Itu suara Fitri. Aku semakin pias dan gundah. Tanpa sadar, dengan mata yang berkaca-kaca, kata itu meluncur deras dan keras menghancurkan keheningan,

“Fitri. Maafkan aku ! Maafkan aku ! Aku sangat merindukanmu ! Tolong dengar ! Aku tidak jauh lebih brengsek daripada kamu ! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Fit ! Tolong dengar aku, aku mohon kamu jangan menangis !!!”

Aku berteriak sejadinya. Kuhujamkan lutut yang terasa lemas ke tanah ditengah guyuran hujan. Aku memalingkan diri dari rumahnya. Hujan semakin deras. Hingga terdengar suara sahutan yang keras. Aku merasakan getaran kuat dari suara itu.

“Kenapa kamu tidak datang ?! Aku menunggumu ! Kenapa kamu datang disaat semuanya akan terlambat ?! Kamu benar-benar brengsek ! Kamu tega denganku, Bayu !”

Diam itu kembali menyergap. Hanya deras hujan dan isak tangisnya yang terdengar. Aku bangun mendekatinya. Wajahnya pias, ari matanya mengalir. Kami saling pandang. Pandangan yang begitu dalam. Dia mendekatiku. Menebas hujan rindu yang menggebu. Kurasakan getaran hati yang hebat saat memandangnya dari dekat. Aku sungguh sangat merindukannya. Bersamaan dengan hujan, dengan pandangan yang begitu sarat dan dalam, mencoba merobek belenggu amarah dengan kasih sayang dan rindu yang membuncah, hingga mampu menghentikan butir-butir hujan. Meluapkan rasa yang telah terjaga sekian lama. Sejak peristiwa nasi bungkus dan kepedihan yang telah kami lalui selama ini. Dan kata itu meluncur tulus dari dalam jiwa masing-masing secara bersamaan,

“maaf.”
Read More

Skenario iseng-iseng film pendek DARAH JUANG

Juli 12, 2013 |


“Darah Juang”

SCENE 1.JALAN RAYA.PAGI
PROLOG

SIARAN BERITA MENYIARKAN BENTROK YANG TERJADI ANTARA MAHASISWA DAN WARGA DALAM SEBUAH AKSI DEMONSTRASI BERTURUT-TURUT TENTANG KEMISKINAN DAN KENAIKAN HARGA BBM (FADE OUT). DI TEMPAT KEJADIAN DEMONSTRASI SUASANA TIDAK TERKENDALI KARENA TIDAK ADA APARAT YANG BERTINDAK. BOM MOLOTOV MELEDAK. KOBARAN API DIMANA-MANA. KACA DAN BATU BERSERAKAN. ADI CEMAS TERJEBAK DIANTARA SITUASI TERSEBUT, TIDAK TAHU APA YANG SEDANG TERJADI. DIA BERJALAN MENEROBOS KERUSUHAN. TIBA-TIBA SALAH SEORANG MAHASISWA MELEMPAR BATU BESAR DAN TANPA SENGAJA MENGENAI PELIPIS ADI. SAPU TANGAN PENINGGALAN IBU YANG SEDARI TADI DIPEGANGYA TERJATUH TANPA SADAR.  SEMBARI MEMEGANGI KEPALANYA YANG BERDARAH-DARAH, ADI MELANGKAH GONTAI DENGAN PANDANGAN SESEKALI KABUR DAN GELAP. LANGKAHNYA MENUJU SUDUT TEMBOK. PERLAHAN ADI DUDUK SAMBIL MERINGIS KESAKITAN. IA MELIHAT JARI-JARI TANGANNYA YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMEGANGI KEPALANYA  TADI PENUH DENGAN DARAH. IA KEMBALI MERINGIS. KEMUDIAN TATAPANNYA KOSONG, KABUR, DAN SEKETIKA GELAP.

                                                                        FADE OUT

SCENE 2. RUMAH ADI.PAGI

ADI MENGANGKUT AIR DENGAN EMBER. DILANJUTKAN MENCUCI PIRING. IBUNYA KELUAR DENGAN WAJAH PUCAT, KOYO MENEMPELI KEDUA PELIPIS, SYAL DAN BAJU TEBAL YANG LUSUH KUMAL MEMBALUTI TUBUHNYA. LANGKAHNYA GONTAI MENGHAMPIRI ADI.

IBU
(SUARA LEMAH DAN TERBATA SESEKALI BATUK)
 ADI, HARI INI NDAK USAH SEKOLAH YA, MAAF IBU  NDAK PUNYA UANG BUAT SANGU KAMU. BAHKAN DARI KEMARIN SAJA KITA BELUM MAKAN.


ADI
(KAGET DENGAN KEHADIRAN IBUNYA)
IBU. GAK APA-APA BU, KAN ADI UDAH BIASA. IBU ISTIRAHAT AJA BIAR CEPET SEMBUH
(BERDIRI MENUNTUN IBU MASUK RUMAH)

IBUNYA TERBATUK. SAPU TANGANNYA TERJATUH DAN DIAMBIL OLEH ADI. LANTAS ADI MENUNTUNNYA KEDALAM RUMAH. ADI BERGEGAS MANDI DAN MEMAKAI SERAGAM. AYAHNYA YANG MENGALAMI SEDIKIT GANGGUAN MENTAL MENGOCEH DI SUDUT KANAN RUMAH. JENGGOTDAN JAMBANGNYA YANG LEBAT SERASIH DENGAN RAMBUTNYA YANG SEMRAWUT. SESEKALI ADI MELIHATNYA DENGAN IBA SEMBARI MENGIKAT TALI SEPATUNYA.

AYAH ADI
(PANDANGAN KOSONG SESEKALI MERINGIS DAN TERTAWA GELI)
 SEMUANYA NDAK ADA YANG BERES. PEMERENTAH KERJANYA CUMA NGERAMPOK DUIT RAKYAT. KEPARAT. NDAK TAHU ISTRI KU YANG LAGI SEKARAT.  NDAK PEDULI PERUT ANAK KU YANG BELUM MAKAN MESKI HANYA JAGUNG SEIKAT. BANGSAT.

ADI
(MENATAP IBA PADA AYAHNYA LANTAS PERGI)
ASSALAMUALAIKUM

AYAH ADI
(MENATAP ADI, DENGAN SUARA BERGETAR SEDIH, LANTAS TERTAWA)
SEKOLAH BIAR PINTER. JANGAN KEBLINGER. BIAR HIDUPMU  NDAK TERUS-TERUSAN SENGSARA DAN DIBOHONGIN SAMA PEMERENTAH. HAHAHA



CUT TO
SCENE 3. JALAN SETAPAK. PAGI
LANGIT  CERAH. DAUN DAN RUMPUT MELAMBAI DIGERAKKAN ANGIN. RANTING MERANGGAS. ADI BERJALAN MENYUSURI JALAN SETAPAK. LANGKAHNYA TERHENTI, ADI MEMEGANGI PERUTNYA YANG TERASA LAPAR. IA MENATAP JALAN SETAPAK  YANG SEOLAH TANPA UJUNG. TIBA-TIBA DATANG TIGA TEMANNYA BERLARI DARI BELAKANG.ADI KAGET.

TEMAN 1
(TERGOPOH-GOPOH)
DI,KAMU KEMANA AJA ? PERASAAN AKU LIHAT KAMU SETIAP HARI PAKAI SERAGAM SEKOLAH, TAPI KAMU GA PERNAH NONGOL DI SEKOLAH ?
TEMAN 2
(TERGOPOH-GOPOH)
IYA DI, KAMU DICARIIN IBU GURU. KATANYA KAMU HARUS NGELUNASIN TUNGGAKAN UANG BUKU DAN SERAGAM.
TEMAN 3
IYA DI. KALAU GA CEPET DILUNASIN, KAMU GABOLEH IKUT ULANGAN.

ADI MENATAP SINIS KEPADA TEMANNYA. INGIN RASANYA MENITIPKAN RASA KESAL YANG TERAMAT SANGAT KE TEMANNYA ITU UNTUK DISAMPAIKAN KEPADA GURUNYA YANG SEAKAN TIDAK MAU MENGERTI KONDISI KELUARGANYA. TAPI APA DAYA. IA HANYA BISA MENGEPALKAN TANGA LANTAS PERGI MEMBAWA RASA KESAL ITU. KETIGA TEMANNYA MELIHAT ADI DENGAN HERAN DAN BINGUNG. ADI TERUS BERJALAN DENGAN CEPAT SEDIKIT BERLARI DAN SESEKALI MENPLEH KE BELAKANG UNTUK MEMASTIKAN KALAU TEMANNYA TIDAK MENGIKUTI.

CUT  TO




SCENE 4. TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH. PAGI

ADI MELIHAT SITUASI SEKITAR UNTUK MEMASTIKAN BAHWA TIDAK ADA YANG MELIHATNYA. IA MEMBUKA TAS RANSELNYA. MENGAMBIL KARUNG DAN PAKAIAN. LALU MENCOPOT SERAGAMNYA DENGAN PERLAHAN DAN MENGGANTINYA DENGAN PAKAIAN KUMAL, MEMASUKKAN SERAGAMNYA KE DALAM RANSEL. IA MELIHAT SAPU TANGAN IBUNYA YANG TERBAWA. MENATAP SAPU TANGAN ITU DENGAN RASA PEDIH YANG MENDALAM. KEMUDIAN ADI MENUTUPI WAJAHNYA DENGAN SECERCAH KAIN. BEBERAPA PEMULUNG TERLIHAT SEDANG MENGAISI SAMPAH. LANTAS ADI BERGABUNG BERSAMA MEREKA, MENGAISI SAMPAH DAUR YANG LAKU TERJUAL, LALU MENGAMBILNYA. MENCARI NAFKAH DI ATAS TUMPUKKAN SAMPAH BERSAMA ANJING DAN KUCING. ADI MENEMUKAN SEBINGKAL ROTI DI DIBALIK TUMPUKKAN SAMPAH KEMUDIAN MEMAKANNYA. ASAP MENGEPUL DARI SAMPAH YANG TERBAKAR. ADI TERUS MENGAIS.
ADI MONOLOG
HIDUP MEMANG KEJAM. GAK ADA PILIHAN BUAT ORANG-ORANG SEPERTI KAMI. APA-APA SERBA SUSAH. TERUS SALAH SIAPA ? MANA AKU  TAU. YANG AKU TAU, GAK ADA YANG PERDULI. ADA JUGA MEREKA YANG BISANYA MEMBUAI DENGAN JANJI. TAPI KALAU URUSAN PERUT LAPAR, MEREKA PURA-PURA TULI. YANG AKU TAU, PAK RT AJA GAK PERNAH NENGOKIN IBU YANG TIAP HARI SEKARAT. PALING CUMA BERAS TENGIK YANG BERNAMA RASKIN YANG MENGOBATI PERUT KAMI YANG LAPAR AKAN KEADILAN. ITUPUN SEKETIKA. APALAGI SOAL GURU YANG BISANYA NAGIH UANG BUKU DAN SERAGAM YANG HARGANYA SELANGIT. BENER KATA BAPAK, HIDUP MEMANG GAK ADA YANG BERES.









SCENE 5.JALANAN KOTA.PAGI

ADI BERJALAN MENYUSURI TROTOAR. TAS RANSEL HITAM MASIH MENGGANTUNGI PUNDAKNYA. TANGAN KANANNYA MEMEGANG KARUNG DAN TANGAN KIRINYA MEMEGANG KAYU. TERLIHAT BEBERAPA PENGEMIS ANAK-ANAK YANG MEMINTA BELAS KASIH DI LAMPU MERAH. ADI MENGAISI TEMPAT-TEMPAT SAMPAH. LANGKAHNYA TERHENTI DI SEBUAH EMPERAN TOKO. IA MERASA LELAH.MATAHARI SUDAH NAIK, MEMANGGANG TUBUHNYA YANG BERCUCURAN KERINGAT. MATANYA MEMICING KEMUDIAN IA MEMBUKA KAIN YANG MENUTUPI WAJAHNYA. JARI-JARINYA MENGUSAPI KERINGAT YANG MENGALIRI WAJAH. ADI MELIHAT SEORANG ANAK PEREMPUAN KECIL BERJALAN DENGAN IBUNYA. AGAKNYA ORANG KAYA, TERLIHAT DARI PARASNYA YANG PUTIH BERSIH DAN PAKAIAN YANG MEMBALUT RAPIH. ADI MELIHAT ANAK ITU SEPERTI INGIN MEMINTA SESUATU KEPADA IBUNYA. MEREKA TERHENTI DI DEPAN ADI. ANAK KECIL ITU MENATAP JIJIK PADA ADI. ADI NAMPAK MEMPERHATIKAN MEREKA.


ANAK
MAH AYO DONG BELI ECE CREAM. DEDE PENGEN ICE CREAM COKLAT. BELI YA MAH
(MEMINTA MANJA)

IBU ANAK
(MEMEGANG PUNDAK ANAK)
IYA DE. NTAR MAMAH BELIKAN. ASAL, DEDE MAU TEMENIN MAMAH BELI OBAT BUAT PAPAH DI APOTIK DULU YA ?

ANAK
YEE..MAMAH BAIK DEH. AYO MAH KITA BELI OBAT BUAT PAPAH. KALO  PAPAH SEMBUH KAN DEDE BISA JALAN-JALAN LAGI SAMA PAPAH.


IBU DAN ANAK ITU PERGI TANPA MENGACUHKAN ADI. ADI TERUSMEMANDANGI MEREKA. IA MELIHAT DIRINYA YANG LUSUH, KUMAL DAN KOTOR. PANDANGANNYA MENULUSUR SUASANA KOTA YANG LAMAR.NAMUN ADI MERASA TERSUDUT DAN TERABAIKAN KEBERADAANNYA. ADI MENERUSKAN LANGKAHNYA.
ADI MONOLOG
IBU TIAP HARI CUMA BISA MINUM JAMU. JAMU YANG HAMPIR KADALUARSA. AKU BAHKAN MERASA GAK BERHAK SEKALIPUN CUMA NGEBAYANGIN  BISA BELI OBAT BUAT IBU. APALAGI ICE CREAM ? HIDUP MEMANG MANIS. TERUTAMA KALAU GAK JADI PECUNDANG.

CUT TO


















SCENE6.RUMAH ADI.PAGI

TERLIHAT AYAH ADI SEPERTI MEMBAWA SESUATU. IA BERGEGAS MENUJU SERAMBI RUMAH. WAJAHNYA GIRANG. DISUSUL IBU ADI YANG KELUAR DENGAN LANGKAH TERGOPOH DAN SESEKALI MEMEGANGI DADANYA YANG TERASA SAKIT.

AYAH ADI
(SESEKALI TERTAWA, MERINGIS, LAGAK ORANG GILA)
IBU ! COBA LIHAT APA YANG BABAK BAWA ! INI SANGAT SPESIAL BUAT IBU ! SEBUAH ROTI DENGAN TABURAN KEJU DAN LELEHAN MAYOUNES YANG MEMBALUT ACAR-ACAR YANG BERTEBARAN. DAN DAGING SETENGAH MATANG MELAPISI SUDUT BAGIAN TENGAHNYA.WAH. EEENAK SEKALI. BAPAK BELI INI DARI RESTORAAN YANG SAAAAAANGAT MEWAH. SEBAGIAN PEMBELINYA BERDASI, BU.KECUALI BAPAK. HIHI. ASAL IBU TAHU, PEMILIK RESTORAN ITU ORANG BARAT ! AIH, TAPI BAPAK LUPA NAMA RESTORAN ITU. EH, YA. BAPAK INGAT. SEMEGAH DAN SEBAGUS ARSITEKTUR DAN LANSEKAPNYA, RESTORAN ITU BERNAMA: TONG SAMPAH !!! HAHAHA. YASUDAH, BU. BAPAK MAU PERGI MEETING DENGAN PEJAAAAABAT YANG BERPERUT BUNCIT. BAPAK INGIN MEMBICARAKAN PROYEK OMONG KOSONG BERSAMANYA.OH. KALAU SEMPAT. BAPAK INGIN PULA MELUDAHI WAJAHNYA. HAHAHA

AYAH ADI LANTAS PERGI. IBU ADI MENGAMBIL SEBINGKAL ROTI BERJAMUR YANG DILETAKKAN SUAMINYA. LALU IA MEMAKANNYA DENGAN LAHAP. TIDAK PERDULI SEKALIPUN ROTI ITU BERJAMUR, IA MEMAKANNYA DENGAN PENUH RASA SUKUR. SESEKALI IA MENATAP IBA SUAMINYA YANG BERJALAN DENGAN LAGAK TAK WARAS. IA MENATAP ROTI ITU DALAM-DALAM. KEMUDIAN MEMAKANNYA DENGANPERLAHAN. AIR MATANYA MENETES.
                                                                                                                                              






SCENE7.TEMPAT JUAL RONGSOKAN.PAGI
ADI MENUKARKAN HASILNYA KEPADA TUKANG RONGSOKAN. ADI MENATAP HASIL JERIPAYAHNYA, BERUPA UANG RIBUAN LUSUH DAN KOTOR. ADI TERSENYUM. ADI KEMBALI MELANGKAH UNTUK MEMBELI SEBUNGKUS NASI DAN OBAT.

SCENE8.APOTIK.PAGI
IBU DAN ANAK TADI KELUAR DARI APOTIK. MEREKA MENUNGGU DI SAMPING TROTOAR JALAN. AYAH ADI BERADA DI SITU. DIAM-DIAM AYAH ADI MENGAMATI MEREKA.
AYAH ADI
(SESEKALI TERSENYUM DAN MERINGIS)
DI TAS ITU PASTI ADA SETUMPUK OBAT YANG BARU MEREKA BELI DARI APOTIK. JELAS. WONG MEREKA ABIS KELUAR DARI APOTIK. HEE..HEE
ANAK
(MERENGEK MANJA)
MAH AYO KATANYA BELI ICE CREAM ?
IBU ANAK
IYA DE, INI KITA LAGI NUNGGU TAXI. NANTI KITA LANGSUNG KE MALL. IBU MAU BELI MAKANAN YANG ENAK BUAT PAPAH.

ANAK PEREMPUAN ITU GIRANG. IBUNYA TERSENYUM. SI ANAK MELIHAT AYAH ADI. IA MERASA DIPERHATIKAN DAN MENARUH CURIGA PADA AYAH ADI.  AYAH  ADI MASIH TETAP PADA POSISI  SEMULA. AYAH ADI KEMUDIAN MENDEKATI MEREKA PERLAHAN. LALU DENGAN SIGAP MENCOBA MEREBUT TAS SI IBU. MEREKA BERADU TARIK HINGGA AYAH ADI MENDAPATKAN TAS TERSEBUT. IBU DAN ANAK ITU BERTERIAK HISTERIS.


IBU
(PANIK)
JAAAAAMBRRREEEEEEEETTT  !!!


AYAH ADI
(MUKA BINGUNG)
AIH, SAYA BUKAN JAMBRET.  SAYA KEPENGEN MINTA OBAT, ISTRI SAYA SEDANG SAKIT DI RUMAH. HEE.. HEE..

KEMUDIAN  WARGA DATANG. AYAH ADI MENCOBA BERLARI DENGAN TERUS MENGATAKAN BAHWA DIRINYA BUKAN JAMBRET. LALU AYAH ADI TERSANDUNG  DAN JATUH, TANPA KOMPROMI WARGA MENGHAJARNYA SAMPAI BABAK BELUR. IBU TADI MEMINTA WARGA UNTUK BERHENTI MEMUKULI AYAH ADI. AYAH ADI TERKAPAR. DI UJUNG JALAN ADI MELIHAT KERIBUTAN YANG TERJADI. AWALNYA IA TIDAK INGIN MENCARI TAHU APA YANG TERJADI. TAPI RASA PENASARAN MEMBAWANYA UNTUK MELIHAT KERIBUTAN TERSEBUT. BETAPA IA KAGET MELIHAT AYAHNYA YANG BABAK BELUR DAN SEKARAT. IA MERASA ADA KESALAHPAHAMAN, TAPI APA YANG DAPAT IA PERBUAT,SEMUANYA TELAH TERJADI. ADI MENANGISI AYAHNYA YANG SEDANG SEKARAT. AYAHNYA MEMEGANG KEPALA ADI DENGAN RAUT WAJAH YANG MENAHAN SAKIT. TIBA-TIBA TANGANNYA TERKULAI DAN MATANYA TERPEJAM. AYAH ADI MENINGGAL SEKETIKA. ADI SANGAT TERPUKUL. IA BINGUNG HARUS BERBUAT APA. IA MENCOBA BERDIRI TEGAR. NASI BUNGKUS MASIH IA BAWA DI TANGAN KANANNYA, IA BERNIAT PULANG MEMBERI TAHU IBUNYA PERIHAL KONDISI AYAHNYA. IA BERJALAN GONTAI MENUJU RUMAH DENGAN AIR MATA BERURAI.










SCENE9.RUMAH ADI.PAGI
BENDERA KUNING TERKIBAR DIATAS POHON DEKAT RUMAH ADI. IA HERAN BANYAK WARGA BERKUMPUL DI RUMAHNYA. IA BINGUNG DENGAN WARGA YANG MENATAPNYA IBA. LALU ADI MERASA SANGAT TERPUKUL. LUTUTNYA LEMAS. NASI BUNGKUS YANG DIPEGANGNYA JATUH MENGHUJAM TANAH. IA TAK MAMPU LAGI BERKATA-KATA SELAIN TANGIS YANG MELEDAK. BEBERAPA WARGA MENCOBA MENENANGKAN. ADI MERONTA SEAKAN TIDAK INGIN MENERIMA KENYATAAN YANG ADA. SUNGGUH IA MERASA TAKDIR YANG SANGAT KEJAM. SEORANG WARGA BERBISIK PADANYA BAHWA IBUNYA MENINGGAL DENGAN MULUT BERBUSA AKIBAT KERACUNAN ROTI BERJAMUR.

FADE OUT


SCENE.10.JALAN RAYA.PAGI
ADI MONOLOG
OMONG KOSOSNG. HARAPAN ITU OMONG KOSONG. OMONG KOSONG BAGI ANAK KULIAHAN YANG KATANYA PINTER, TAPI CUMA BISA TERIAK DAN MERUSAK. OMONG KOSONG BAGI DARAH YANG MENGALIR INI. OMONG KOSONG BAGI BAPAK YANG MATI BABAK BELUR. OMONG KOSONG BAGI IBU YANG HARUS MEREGANG NYAWA AKIBAT MENELAN ROTI BERJAMUR. AKU TIDAK BERANI MENYALAHKAN SITUASI INI KEPADA TUHAN. LEBIH TEPAT ADALAH MEREKA YANG DIBERI  KESEMPATAN UNTUK TIDAK MERASAKAN BETAPA PAHITNYA HIDUP INI. BRENGSEK.

TATAPAN ADI NANAR.TAK PERDULI DENGAN DARAH YANG TERUS MENGALIRI PELIPISNYA. NAFASNYA MEMBURU MENAHAN BEBAN YANG INGIN SEKALI RASANYA IA TUMPAHKAN. LALU BEBAN YANG ADI RASA TIDAK MAMPU LAGI TERBENDUNG. KEDUA TELAPAK TANGANNYA MENGEPAL.LANTAS IA BERTERIAK. IA MELANGKAH MENUJU ARAH DEMONSTRASI. PARA MAHASISWA TERLIHAT MENAHAN MOBIL DANMENGIKRARKAN SEBUAH SUMPAH DENGAN BAHASA YANG TIDAK ADI MENGERTI. YANG ADA DALAM BENAK ADI HANYALAH KEKESALAN YANGMEMBUNCAH AKAN NASIB YANG IA ALAMI. IA MELEWATI PEMIMPIN AKSI. LANTAS MELUDAH  DAN MEMBERIKAN JARI TENGAH KEPADANYA. SUNGGUH GETIR APA YANG IA RASAKAN SAAT ITU. IA TIDAK TAHU HARUS MENUMPAHKAN AMARAHNYA.
FADE OUT

SCENE11.TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH.PAGI
EPILOG

ADI MENYULUT KOREK API.MEMBAKAR SAMPAH DISUSUL BUKU-BUKU PELAJARAN DARI TAS RANSELNYA. PELIPISNYA MASIH MENGUCURKAN DARAH. IA KEMUDIAN MELEPAS BAJU SERAGAM YANG BERLUMURAN DARAH LALU MEMBAKARNYA. IA MERASA TIDAK ADA LAGI HARAPAN.SENYUM GETIR SESEKALI IA TAMPAKKAN. API MENYALA-NYALA SEIRING GEJOLAK PERASAAN ADI YANG MERASA TIDAK DIPEDULIKAN OLEH NASIB. KEMUDIAN  IA DUDUK MEMANDANGI KOBARAN API YANG PERLAHAN PADAM DAN MENYISAKAN KEPULAN ASAP. TATAPANNYA KOSONG. BEKAS DARAH MASIH MENGHIASI WAJAHNYA. LALU DATANGLAH PEMIMPIN AKSI. MENEPUK PUNDAK ADI. PEMIMPIN AKSI ITU MEMBERIKAN SAPU TANGAN YANG TANPA SADAR DIJATUHKAN OLEH ADI. ADI KAGET SEKETIKA, IA MEMANDANGINYA, DAN PEMIMPIN AKSI MEMBALASNYA DENGAN SENYUMAN TULUS. LANTAS PEMIMPIN AKSI MENGAMBIL KEMBALI SAPU TANGAN YANG DIBERIKAN KEPADA ADI. LALU IA MENGUSAPI BEKAS DARAH DI WAJAH ADI DENGAN SAPU TANGAN TERSEBUT. ADI MASIH MENATAPNYA DENGAN HERAN. PEMIMPIN AKSI ITU KEMBALI TERSENYUM. DI SENJA YANG TEMARAM,MEREKA DUDUK BERDUA DIANTARA KEPULAN ASAP YANG TERSISA.LANTAS PEMIMPIN AKSI TADI MERANGKUL PUNDAK ADI DENGAN PENUH KETULUSAN DAN RASA INGIN MENOLONG.

FADE OUT
THE END
Read More

Panduan Penulisan Esai Kompetisi Esai Mahasiswa “Menjadi Indonesia” 2013

Juli 12, 2013 |

Panduan Penulisan Esai

Kompetisi Esai Mahasiswa “Menjadi Indonesia” 2013

Esai adalah karya yang bersudut pandang personal subyektif si penulis, bukan sekadar makalah ilmiah yang penuh dengan catatan kaki dan taburan kutipan teori. Esai berisi pemikiran yang dipadu dengan pengalaman, observasi lapangan, anekdot, dan pergulatan batin si penulis tentang subyek yang ditulisnya. Jenis tulisan ini sangat tepat untuk menggambarkan gagasan seseorang.
Indonesia akan sangat membutuhkan banyak pemimpin dan pemikir muda masa depan yang punya gagasan orisinil untuk kemajuan negeri ini. Seorang pemimpin harus mampu menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.
1.   Naskah ditulis menggunakan MS Word, disimpan menjadi file *.doc atau *.docx. Bukan dalam bentuk Adobe PDF.

2.   Cara Penamaan file: “Nama depan penulis-Judul Esai“,  contoh: “Galih-Industri Budaya dan Pencitraan Indonesia.doc”

3.   Format Dokumen Naskah Esai:
a.   Ukuran Kertas: A4
b.   Margin Atas: 2 cm
c.   Margin Bawah: 2,5 cm
d.   Margin Kiri: 3 cm
e.   Margin Kanan: 2 cm

4.   Naskah esai terbagi menjadi 3 bagian (dalam satu bundel) dengan urutan halaman sebagai berikut: Lembar Judul dan Ringkasan Esai (maksimal 1 halaman), Isi Esai (maksimal 5 halaman), dan Lembar Lampiran Biodata (maksimal 1 halaman).
5.   Lembar Judul dan Ringkasan Esai (maksimal 1 halaman). Memuat:
a.   Judul Esai
Posisi tulisan: Beberapa spasi di bawah Topik Esai.
Huruf (font): Times New Roman; ukuran 16 poin; bold; posisi di tengah halaman (align center).
b.   Ringkasan Esai, 1 hingga 3 paragraf rangkuman tulisan, memaparkan persoalan yang dibahas penulis dan gagasan yang ditawarkannya.
Posisi ringkasan: beberapa spasi di bawah Judul Esai.
Huruf (font): Times New Roman; ukuran 12 poin; regular; spasi 1,5; rata kiri-kanan (justify).
6.   Isi Esai (maksimal 5 halaman). Memuat:
Keseluruhan naskah esai, minimal 2 (dua) halaman dan maksimal 5 (lima) halaman. Jumlah halaman sudah termasuk (jika ada): gambar penjelas dan catatan kaki atau catatan akhir (end note), atau daftar pustaka.
Huruf (font): Times New Roman; ukuran 12 poin; regular; spasi 1,5; rata kiri-kanan (justify).
7.   Lembar Lampiran Biodata (maksimal 1 halaman). Memuat:
a.   Judul Naskah Esai
b.   Nama Penulis
c.   Tempat & Tanggal Lahir
d.   Nama Perguruan Tinggi
e.   Nama Fakultas & Jurusan
f.   Domisili (Alamat Surat)
g.   Alamat Email
h.   Telepon/Ponsel
i.   Pindaian (scan) kartu tanda mahasiswa (KTM) yang masih berlaku.
[]
Read More

Kompetisi Esai Mahasiswa 2013 “Menjadi Indonesia”

Juli 12, 2013 |

Kompetisi Esai Mahasiswa 2013 “Menjadi Indonesia”

“MENJADI INDONESIA adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.” (Goenawan Mohamad — Surat dari & untuk Pemimpin)
Menjadi Indonesia = (men)dingan (ja)ngan (di)am untuk Indonesia; Sebuah gerakan moral, ajakan berbuat nyata, memberi makna pada Indonesia. Lebih baik menyalakan lilin ketimbang sekadar mengutuk kegelapan.
Pada tahun keempat ini, TEMPO Institute kembali menantang mahasiswa Indonesia untuk menetaskan buah pikiran melalui kompetisi esai. Tuliskan esaimu. Jangan berangkat dari teori yang muluk-muluk. Mulailah dengan mengamati, observasi, kondisi di sekitarmu. Gambarkan permasalahan paling menarik atau paling penting di sekelilingmu, di wilayahmu, di “area kekuasaanmu”.
Ini bukan kompetisi membuat makalah dengan basis teori yang rigid, tapi tentang pendapat subyektif. Tulisan bisa berupa refleksi, observasi mendalam, atau gagasan konkret atas sebuah persoalan nyata di sekitarmu.

Pemenang dan Hadiah

Ini bukan sekadar kompetisi menulis. Kami memilih 30 (tiga puluh) penulis esai terbaik untuk mendapatkan kesempatan berharga, yakni mengikuti “Kemah Kepemimpinan — Menjadi Indonesia” di Jakarta dan Bogor, selama dua (2) minggu pada 16-30 Oktober 2013.
Kemah Kepemimpinan adalah bagian dari rangkaian penilaian untuk mendapat tiga pemenang terbaik.
Pengumuman 30 Esai Terbaik akan dipublikasikan pada Selasa, 1 Oktober 2013.

Hadiah

  Juara I: Laptop + Rp 6.000.000
  Juara II: Laptop + Rp 4.000.000
★  Juara III: Laptop + Rp 2.000.000

TOPIK ESAI

MENJADI INDONESIA bukan semata-mata tentang karut-marut dunia politik. Ada banyak topik dan sudut pandang yang bisa disoroti, antara lain:
1. Indonesia Bebas Korupsi
Mewujudkan Indonesia tanpa korupsi adalah sebuah cita-cita bersama. Tak jarang ikhtiar menuju Indonesia bebas korupsi ini membuhulkan rasa frustrasi mendalam. Manipulasi pajak, korupsi pembangunan gedung olah raga di Hambalang, sampai korupsi pengadaan Alquran adalah satu dari deretan panjang bukti betapa susahnya memberantas korupsi. Lalu, adakah cara membangun budaya bebas korupsi sedari muda? Bagaimana menumbuhkan sebuah pemahaman bersama antikorupsi hingga di tingkat lokal dan individu?
2. Indonesia yang Bhinneka
3. Kewirausahaan, Indonesia yang Mandiri
4. Kepemimpinan, Indonesia yang Kuat
5. Indonesia yang Hijau
6. Indonesia yang Berbudaya
7. Indonesia dan Pendidikan
8. Indonesia yang Demokratis
9. Indonesia yang Cinta HAM

Syarat Peserta Kompetisi Esai Mahasiswa 2013

1.   Peserta Kompetisi Esai ini adalah mahasiswa Diploma dan Strata-1 (S1).
2.   Naskah esai yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan belum pernah dipublikasikan di mana pun.
3.   Esai ditulis berdasarkan salah satu topik yang dipilih peserta. Pilihan Topik Esai: Korupsi, Bhinneka Tunggal Ika, Kewirausahaan, Kemandirian, Kepemimpinan, Lingkungan Hidup, Budaya, Pendidikan, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (Sila cermati uraian tentang Topik Esai di atas).
4. Kami sangat menanti karyamu yang benar-benar orisinil, berbeda namun tetap mengutamakan esensi. Kami akan sangat menghargai karya yang mengambil tema berbeda dari pemenang tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pembeda, untuk 30 esai terbaik tahun 2012 bisa dilihat di tautan berikut. 
5.   Peserta boleh mengirim lebih dari satu judul naskah, baik dengan pilihan topik yang sama atau berbeda, tetapi hanya satu judul yang dapat masuk dalam daftar 30 Esai Terbaik.
6.   Pendaftaran dan pengiriman naskah dilakukan melalui halaman Pendaftaran dalam web tempo-institute.org
7.   Peserta wajib menyertakan pindaian (scan) Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang masih berlaku, dimuat di Lembar Biodata naskah yang dikirimkan (Lihat Panduan Penulisan Esai), dan diunggah saat pendaftaran online.
8.   Hanya naskah yang penulisannya memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Panduan Penulisan Esai yang akan dinilai oleh Dewan Juri.
9.   Hak publikasi naskah menjadi milik Panitia.
10.   Batas akhir pengumpulan naskah adalah  Sabtu, 17 Agustus 2013, pukul 24.00 WIB
Selama masa pengumpulan esai berlangsung, kami akan memberikan tips-tips jitu dari para pemenang tahun sebelumnya dan dewan juri. Juga ada kuis-kuis berhadiah lainnya. Oleh karena itu, ikuti kami di Facebook: Tempo Institute Indonesia dan Twitter: @TempoInstitute @Menjadi_ID

Seleksi Naskah dan Penjurian

Tahap penilaian terdiri dari:
1.   Seleksi administratif oleh Panitia. Naskah yang tidak lolos seleksi karena kesalahan administratif bisa dikirim ulang sebelum tenggat pengumpulan. Lagi: cermati Panduan Penulisan Esai.
2.   Seleksi naskah oleh Panitia. Aspek yang dinilai pada tahap ini antara lain:
No.ASPEK PENILAIANURAIANBOBOT
1.Gagasan:
Orisinal, Kreatif, Aktual
Orisinal: gagasan baru, belum pernah dipublikasikan sebelumnya
Kreatif: gagasan menunjukkan pemahaman baru penulis atas persoalan yang dibahas
Aktual: gagasan sesuai kekinian (ada fakta dan data)
35%
2.Kesesuaian dengan Topik EsaiEsai selaras dengan dan tidak menyalahi Topik Esai yang ditentukan.10%
3.Tuturan/PenulisanEsai ditulis dengan gaya bahasa yang komunikatif, relatif mudah dipahami. Cara bertuturnya menunjukkan pemahaman penulis yang mendalam terhadap pokok bahasan.20%
4.ArgumentasiAlur berpikir penulisnya tertib dan jelas (mudah dirunut).35%
3.   Seleksi oleh Dewan Juri. Dari Seleksi akhir ini akan dipilih 30 penulis esai terbaik untuk mengikuti program Kemah Kepemimpinan (Leadership Camp). Keputusan Dewan Juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
4.   Dari 30 besar penulis esai tersebut akan dipilih 3 orang pemenang melalui mekanisme penilaian dalam Kemah Kepemimpinan (Leadership Camp).
Selamat berkompetisi!



Panitia Kompetisi Esai Mahasiswa “Menjadi Indonesia” 2013
email: kem2013[at] tempo-institute.org
telepon: 021-3916160
Gedung TEMPO Komp. Ruko Kebayoran Centre BlokA11–A15
Jl. Kebayoran Baru-Mayestik Jakarta 12240

Read More