March 31, 2013 at 5:35pm
Udara sejuk adalah suatu kewajaran bagi kota kecil yang terletak di kaki gunung Slamet ini; Purwokerto. Aku melangkah mantap meniti jalan setapak dan gang sempit. Kulihat jam tangan, sudut jarum pendeknya menghujam angka tujuh, tegas menyalak. Ini hari pertamaku masuk kuliah. Aku tidak ingin kalau sampai terlambat. Cukup idealis. Aku mempercepat langkah. Langkah penuh ambisi meraih mimpi.
Awal yang baik adalah bagian wajib dari mekanisme proses yang indah. Awal yang indah itu adalah sebuah pagi yang ramah. Matahari bersinar cerah, membiaskan sinar jingga yang menari-nari di atas gemercik air sungai, tak kenal lelah, mengalir searah, batu-batu granit memenuhi permukaannya, timbul tenggelam tiada bertitah. Sesekali kulihat dari sela-sela rimbun daun dan rumah-rumah penduduk, menjulang tinggi gunung Slamet, kabut menyelimuti pundaknya, tersibak perlahan, membuka lembar-lembar keluguan, bocah-bocah berlarian, mengejar cahaya.
Sepanjang jalan setapak titian pinang sebatang, keindahan alam itu mengantri dengan rapih. Silih berganti. Sungguh. Antrian yang menawan hati. Kian terpikat aku jatuh hati. Keindahan panorama yang berbaris rapih itu, adalah bagian kecil dari segolongan besar keindahan yang sarat maknawi, penuh misteri. Seperti pertemuanku dengannya hari itu, saat itu, ketika itu, dan kala itu, adalah teka-teki. Pertanyaannya, apakah ini semata kebetulan atau sekedar imaji ?
***
Perjumpaan yang terlalu lugu kemarin adalah sebuah penipuan waktu. Malam sebelum hari itu, aku hanya merencanakan hari yang sangat melelahkan. Jika aku bangun lebih siang barang satu menit, maka kepastianya hanyalah satu, mendapat antrian paling akhir dari sekian banyak calon mahasiswa baru yang hedak melakukan registrasi. Benar saja, hari itu aku terlambat tujuh menit karena harus mengantri mandi. Hukum alam bagi anak kos. Nomor antrian 167. Tempe bongkrek. Lebih sialnya, butuh waktu lebih dari seperempat jam untuk satu calon mahasiswa melakukan registrasi. Maka jika dikalkulasikan, aku harus menunggu giliran setidaknya 6 jam. Parahnya menunggu itu mutlak bagi para penerima beasiswa, jika tidak ingin kesempatan itu meluap sia-sia. Sungguh sebuah sistem yang membelenggu. Namun tiada kilah mengorbankan harapan yang sudah di depan mata. Maka bukan menggerutu, sabar mungkin lebih baik dan bijak.
Matahari telah naik, perutku terasa sakit sebab sejak semalam belum terasup makanan. Kubeli roti dari kakak-kakak mahasiswi yang menjajahkan beberapa jenis makanan. Secepat kilat aku merogoh saku untuk membayar, secepat itu pula kuhabisan roti tanpa sisa. Setelah berkompromi dengan nafsu, sesekali atau bahkan berkali-kali setelah itu, aku cek ulang semua berkas aplikasi beasiswaku, walau hanya sekedar niatan mengisi waktu atau antisipasi kekurangan berkas bilamana terjadi sesuatu. Semua masih lengkap utuh. Maka selanjutnya adalah menunggu, dengan kesabaran penuh. Sekian lama menunggu, nomor antrian sudah sampai 160. Sebentar lagi pikirku. Lega rasanya.
Akhirnya hanya menunggu seorang lagi untuk tiba giliranku. Namun lagi-lagi sial itu datang tanpa antri dan kompromi. Ketika kuraba saku celana, aku tidak menemukan kartu antrianku. Jika harus mengambil antrian baru yang tentunya akan mendapat giliran lebih akhir. Kurogoh semua saku, barangkali terselip disana, tapi tidak ada. Sial ! Kucari-cari di sekitar tempatku duduk. Tidak ada. Ketika aku menengok arah belakang, tiba-tiba ada seorang perempuan mendekat dengan raut cemas seperti mencari sesatu yang hilang. Wajahnya pias. Keringat mengucuri pelipisnya. Aku kasihan dibuatnya. Tetapi, masalahnya, keberanian tak lantas datang, aku hanya diam memperhatikan. Pengecut. Ah, tidak. itu naluri yang wajar bagi seorang lelaki yang semasa hidupnya sedikit mengenal sisi.
“Ini dia kartuku, akhirnya ketemu.” Perempuan itu merunduk, lantas mengambil sesuatu, seperti sebuah kartu antrian.
“Ehh..Maaf, Emm.. itu.. it..itu kartu antrian saya, Mbak, Tadi jatuh.”
“Bongkrek. Enak saja koe. Mbok jelas-jelas baru datang begitu sudah main serobot ! Tidak usah ya, aku masih ingat betul nomor antrianku.” Perempuan itu berkata dengan sorot mata tegas. Lalu bola matanya menjelajahi kartu antrian yang dipegangnya.
“Tuh lihat, apa aku bilang. Nomor 167. Ya. Ini nomor antrianku. Aku ingat betul.” Aku melihat sorot matanya sperti sedang mengingat dan menegaskan sesuatu namun ragu. Aku berpikir, dia pasti sedang berdusta. Dasar, perempuan tak berperasaan, jelas-jelas itu kartu antrian milikku. Tiba-tiba kata itu meluncur deras, entah mewakili atau tidak, aku merasa benar,
“ehh..sa..sa..saya masih rasional untuk menahan diri dari persoalan sepele macam begini, Mbak. Jelas-jelas Anda yang main serobot. Cepat kembalikan kartu antrian saya. Setelah ini akan dipanggil untuk registrasi. Sini cepat.” Aku mencoba meraih kartu itu namun perempuan itu memalingkan lengan menyembunyikan si kartu.
“Nomor antrian 167..Sekali lagi nomor 167..,” speaker TOA melengking-lengking, “..167..”
“Cepat, Mbak. Itu giliranku.”
“Dasar lelaki. Teroris. Menghalalkan segala cara untuk kepuasan diri sendiri. Enyah kau, pecundang, pendusta.” Aku gagap, tak bergerak. Berani sekali dia.
Sejurus perempuan itu lenyap dari pandanganku. Dia mengambil kartu antrianku. Ini tidak adil. Teroris ? Kepuasan diri ? Apa hubungan kedua hal itu dengan lelah aku mengantri berjam-jam lamanya ? Tak adil. Lagi-lagi aku harus menjadi korban dari sistem yang membelenggu. Aku melangkah gontai menuju meja di ujung barat gedung administrasi untuk mengambil kartu antrian baru. Agaknya semua calon mahasiswa hanya tinggal menunggu giliran. Maka dapat dipastikan akulah yang mendapat giliran terakhir diantara mereka. Huh, bongkrek.
Ini sepele sebenarnya, hanya soal menunggu antrian, mengapa mesti kelu ? Laknat bagi sebuah rasa putus asa karena hal sepele, hanya pecundang saja yang menganggap itu anugerah. E, pecundang ? Aku duduk dibawah pohon palem dekat ruang tunggu antrian. Pikiranku berlari meraih momen aneh beberapa menit lalu. Siapa perempuan itu ? Aku bertanya dalam hati tanpa dasar yang jelas. Seorang penjaga mengingatkanku untuk jangan terlalu jauh dari ruang tunggu antrian, barangkali nomor antrian disebut, jika tidak ada batang hidung untuk menanggapi, maka hangus beasiswanya. Aku mafhum. Ketika hendak bangun dari duduk, mataku secara tidak sengaja menelusur ke bawah, aku menemukan sesuatu. Sebuah kartu antrian. Kartu itu lusuh dan kotor. Sepertinya telah terinjak-injak. Kartu antrian itu bernomor 617 ! Akhirnya jawaban dari sorot keraguan perempuan penghakim tanpa dasar tadi terungkap, dia keliru. Bahkan dusta sekaligus. Kartunya bernomor 617, 167 itu miliku. Tempe bongkrek!
***
Mentari yang cerah, secepat mata mengedip, telah menjadi sejarah. Malam pun datang. Akhirnya proses registrasi telah berlalu. Sesuai rencana walau dengan sedikit skenario yang berbeda. Hari ini memang sangat melelahkan. Aku berjalan menyusuri koridor kampus fakultas ekonomi. Sesekali aku tersenyum geli, menikmati sebuah awal dari proses panjang yang telah lama aku nanti-nantikan: menjadi mahasiswa. Ah, senangnya. Seketika pikiranku menikung. Tiba-tiba bayangan perempuan tadi muncul. “Teroris..kesenangan diri…,” kata-katanya terngiang di kepalaku. Aku masih merasakan sorot matanya yang tegas tapi teduh. Ketika ia berbicara, ada lekuk yang sangat indah yang menghiasi kedua permukaan pipinya. Alis tebalnya yang beradu ketika mengekspresikan keraguannya, semakin kontras dengan raut wajahnya yang polos, putih bersih dan rambutnya yang hitam tebal tergerai rapih. Ah, siapa perempuan sinting tadi ya ? Ini kali pertama semasa hidupku, merasakan suatu rasa, bahkan entah penjelasan seperti apa yang pantas mewakili rasa itu. Tidak ada teori. Meski pikiranku secara mutlak menganggapnya sinting, tapi sugguh aku berharap lain waktu bisa berjumpa lagi dengannya. Berharap ? Untuk apa ? Aku tersenyum. Masih satu kampus, ingin berjumpa lagi bukan sesuatu yang muluk. Bencana.
***
Masa ospek pun tiba. Aku disibukkan dengan segala tetek-bengek atribut ospek yang harus dipersiapkan. Waktu itu aku harus membeli karung untuk bahan dasar membuat tas. Aku berinisiatif untuk membelinya di pasar tradisional terdekat. Menurut masyarakat sekitar kampus, menjelang tahun ajaran baru, karung adalah sesuatu yang sangat spesial seperti padi di musim paceklik, karena sebagian besar panitia ospek fakultas mensyaratkan atribut ospek berbahan dasar karung bagi mahasiswa baru. Maka karung adalah benda yang paling dicari oleh ribuan mahasiswa baru.
Pagi-pagi aku berangkat ke pasar agar tidak keduluan orang lain, pikirku. Setibanya di pasar, setelah melalui proses pencarian yang sulit, akhirnya kutemukan juga sebuah karung. Itu karung satu-satunya yang tersisa, padahal hari masih pagi. Rupanya banyak mahasiswa yang telah memborong semua karung kemarin. Setelah bernegosiasi laksana transaksi jual-beli barang berharga, akhirnya diperoleh kesepakatan harga. Segera aku membelinya. Aku membawa uang yang begitu pas hanya untuk membeli karung dengan harga dahsyat.
Tiba-tiba perutku terasa sakit. Perutku melilit seperti diputar-putar. Pesan alam yang tidak bisa diprediksi kedatangannya. Lantas aku segera mencari toilet tanpa peduli dengan karung yang kemudian aku titipkan sementara kepada si penjual tadi. Jika sampai buang hajat di celana, bencana. Setelah dari toilet aku kembali untuk mengambil karung. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui ada seorang perempuan yang rasa-rasanya tidak asing bagiku. Aku amati dari kejauhan.
“Pak, karungnya saya beli dua kalilipat harga. Mau ya ?”
“Karung ini sudah terjual, Mbak.”
“Khok karungnya masih di bapak ?”
“Yang punya sedang ke toilet. Kebelet.”
“Saya beli tiga kalilipat harga, Bagaimana ? Nanti bapak tinggal kasihkan lagi saja uangnya kepada pembeli sebelumnya. Beres. Lagi bapak bisa dapat untung besar.”
“Yasudah, Mbak, bener ya tiga kali lipat ?”
Tempe bongkrek, sinting benar ini perempuan. Awas akan aku labrak, pikiru dalam hati. Aku melangkah menju mereka. Si penjual karung mendekatiku lantas berbisik kemudian menyerahkan uangku kembali. Perempuan tadi melangkah tak acuh di depanku. Lagi-lagi entah mengapa, seketika aku gagap, tak berkutik. Aku lalu memberanikan diri untuk mengikutinya. Tiba di sebuah persimpangan, ia memasuki sebuah toko sepatu. Ia meninggalkan belanjaannya. Kesempatan untuk memberi pelajaran. Aku beranikan diri untuk mengambil karungnya. Dan gawat. Dia melihatku. Dia meneriaki aku maling. Bencana. Hina sekali jika episode hidupku berakhir dengan bogem-bogem mentah, mati seperti anjing kurap di tengah pasar seperti ini hanya untuk sebuah karung.
“MAAAALIIIIIIIIIING !!! TEROOORISSSS !!! MAAAAAALIIIIIIIING !!!!”
“Ini karung saya, heh. Kamu yang maling !”
Aku berlari. Entah mengapa kakiku mesti berlari. Sebuah keputusan yang penuh resiko. Aku melihat perempuan sinting tadi masih meneriakiku maling. Warga mulai berlarian mengejarku. Aku lari sekencang-kencangnya. Lalu, disela-sela gang smpit, aku menemukan sebuah tempat sampah besar. Aku bersembunyi didalamnya. Busuk bukan main tempat sampah ini. Aku menunggu sampai keadaan tenang ketika semua warga berlalu. Akhirnya aku bisa pulang ke kosan dengan tenang. Dasar perempuan gila. Jika aku sampai mati dikeroyok, dia orang yang akan selalu aku hantui malamnya. Sejak itu, aku tidak lagi berharap bertemu dengannya.
***
Ketika hari terakhir ospek, kejutan itu hadir lagi. Aku sedang mengantri untuk didampingi menuju ruang P3K. Aku salah satu dari beberapa mahasiswa yang mendapat perlakuan spesial karena riwayat penyakit, dengan dicirikan pita warna hitam tersemat di lengan sebelah kanan. Bagi sebagian mahasiswa, ini adalah kesmpatan yang mahal untuk bisa melarikan diri dari proses ospek yang melelahkan. Bagiku, ini adalah jalan penyesalan untuk sebuah momen ospek yang terlewatkan. Bahkan selama proses ospek berlangsung, aku terpaksa berdiam di ruang P3K untuk menghindari hal yyang lebih buruk. Padahal kondisi kesehatanku baik-baik saja. Seketia aku menyesal menuliskan riwayat penyakit di lembar database pesrta ospek.
Saat itu, mahasiswa seangkatanku sedang melakukan orasi. Mereka tidak terima disebut tidak layak menjadi mahasiswa oleh kakak angkatan yang ganas dan sok senior. Agaknya lelah mengimbangi rasa marah mereka. Begitupun aku yang terpenjara di ruang P3K. Aku mendengar suara provokator dari aksi tersebut. Suara seorang perempuan. Rasanya aku kenal suara itu. Suara yang tidak asing. Suara yang hampir membunuhku. Suara si perempuan sakit jiwa. Ya tidak salah lagi. Ternyata dia satu fakultas denganku. Tempe bongkrek.
“Lihat beberapa dari mereka yang bertingkah manja dibalik ruang P3K hanyalah berpura-pura belaka ! Apa mereka perduli dengan keringat kita yang telah terkuras habis untuk serangkaian acara ini, sedagkan masih saja dikatakan belum layak sebagai mahasiswa ?! Apa kalian sepakat dengan itu ?! Mental tempe !!! Mana pembelaan kalian ?” Panitia ospek mengatur skenario adu domba untuk mahasiswa baru. Esensi kekompakan, pikirku. Lagi-lagi aku terhujam perkataannya yang sekeras batu. Manja ? Sial. Kemudian aku melihat mereka menjadi dua kubu yang saling membela pendapat masing-masing, layak atau belum layak menjadi mahasiswa.
Tapi entah, perhatianku hanya tertuju pada perempuan itu. Mataku tak bisa berpaling dari perempuan itu. Perempuan yang keras. Ah, atas dasar apa aku menilai perempuan itu keras ? Seumur hidup yang aku pahami dari seorang perempuan adalah kelembutan dan ketulusan yang kudapat dari Ibu. Aku terpikat dengan tingkahnya. Aku melihat dirinya. Aku saat ini melihat perempuan dari sisi yang lain yang entah sulit untuk dijabarkan sebab-musababnya. Raut mukanya yang kontras dengan bicaranya yang keras adalah alasan tepat untuk menyatakan bahwa pribadinya itu unik. Ya alasan. Alasan itu adalah aku yang tidak menyesali ketia harus tertukar kartu antrian dengannya kala itu. Bukan berlebihan untuk dapat berjumpa dengannya setiap waktu, dia satu fakultas dan itu bukan bencana. Pertanyaannya masih sama, apakah semata kebetulan atau sekedar imaji ?
***
Semua masih sama. Seirama sang surya planet berotasi. Detik berganti menit. Menit berganti dengan jam. Jam berganti hari. Hari berganti bulan.. Bulan berganti tahun. Begitu seterusnya. Masih sama. Burung-burung bertebaran. Awan-awan berarak. Daun-daun yang bergerak. Sungai yang mengalir. Adalah sebuah sistem penciptaan yang tak terbantahkan. Sistem yang terdiri dari jawaban-jawaban untuk disiasati. Sistem itu tidak membelenggu. Sistem itu menegaskan bahwa semua yang terjadi di bumi ini bukan semata kebetulan. Adalah takdir Tuhan yang membawa pergerakan kehidupan.
Waktu yang tiada direncanakan memang pandai menipu. Ketika lelah mengantri di sudut ruang registrasi. Ketika pertama menjumpainya. Mendengar suaranya. Bertanya-tanya untuk apa waktu menipu rencana ? Pertanyaan yang sama. Jawaban untuk pertanyaan itu sudah jelas; takdir. Takdir yang tidak dapat diubah. Takdir yang tidak semestinya aku sesali ketika keras kata-katanya menghujam nurani. Takdir yang memberitahuku sebuar rasa nan suci. Takdir yang mengajariku tentang itu lebih dalam. Pertemuanku dengannya bukan lagi semata teka-teki. Melainkan sebuah pelajaran hakiki yang membawaku terjun bebas untuk mempelajari sisi lain hidup ini: cinta.
Suara dan gambar dari bayangan itu lenyap. Seketika hilang menjadi kecemasan yang begitu dahsyat. Aku tersenyum geli setelah membayangkan sebuah rangkaian peristiwa menjadi sebuah sistem yang tidak akan pernah aku sesali. Kulangkahkan kaki dengan cepat. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Gawat. Sepuluh menit lagi masuk. Setiba di halaman kampus, aku terseok-seok menyelusuri lorong-lorong dan tangga. Kemudian aku memasuki sebuah ruang kelas yang ternyata bukan kelas yang aku tuju. Aku bingung mencari-cari kelas. Tiga menit lagi masuk. Ini soal idealisme. Aku tidak boleh terlambat. Ini hari pertama kuliah. Akhirnya aku menemukan ruang kelas yang aku tuju. Aku masuki ruang yang telah penuh dengan mahasiswa. Seorang dosen sedang bersiap, membuka salam pertama. Aku kebagian bangku paling belakang. Kulihat jam tangan, tepat satu detik sebelum perkuliahan pertama dimulai. Masih bisa dikatakan sebagai awal yang baik untuk sebuah sistem esok hari yang masih menjadi misteri. Lantas aku menganalisa sebuah transisi, dari siswa menjadi mahasiswa. Ah, mahasiswa.
Dosen membuka salam pembuka. Pembuka lembaran baru hidupku sebagai mahasiswa. Kedua bola mataku perlahan menyisir ruang kelas. Pandanganku terhenti pada sebuah binder yang terletak di meja kursi, milik sesorang di samping kanan tempat aku duduk. Motif binder dengan sampul bunga-bunga menegaskan pemiliknya adalah seorang perempuan. Aku melihat sisi bawah sampulnya tertera sebuah nama: Diara. Sejurus mataku beralih kepada sang pemilik binder itu. Bola mataku hampir melompat. Tempe bongkrek.
“Heh, koe maling !!! Teroris !!!”
