Semalam
nyusun bahan buat tanya dan sharing di acara BEM. Bahannya sederhana aja sih.
Cukup beralasan lah buat bangun pagi. Tapi ada maksud lain buat datang; kepingin
pelajari dekorasi dan teknis acaranya gimana, dan dapat snack buat hemat uang
sarapan. Hehe
Pagi-pagi
saya bergegas menuju auditorium pusat kampus. Tentu biar kebagian snack dan
sertifikat yang katanya terbatas. Saya ambil tempat duduk paling depan.
Sialnya, bokong saya harus tambah amblas, sebab acaranya mesti ngaret
berjam-jam. Itu bukan soal. Panelis akhirnya datang dengan sambutan gemuruh,
kayak kemarin dulu saat pengumuman kenaikan upah disambut para buruh. Ada
capres dari parpol antahberantah Wiranto, Ketua DPD RI Irman Gusman, ketua Asosiasi
Kabupaten sekaligus Bupati Isran Noor sampai ketua Asosiasi Provinsi sekaligus
Gubernur Syahrul Y. Limpo. Acara dimoderatori Hanta Yuda dari Poltracking
Institute. Semuanya memiliki track record cukup baik. Kemudian dibuka dengan
pidato Presiden BEM yang begitu berapi-api. Saya sedikit suka singgungannya
terhadap kondisi politik bangsa yang sekarang lagi carut-marut. Selanjutnya
oleh panelis adalah menjenuhkan, tidak lagi disinggung persoalan bangsa yang up
to date. Misalnya Dahlan Iskan yang nilep uang bencana alam gitu ?
Selain dapat dua buku gratis,
beberapa hal sempat saya catat. Bisa jadi lebih berharga dari snack dan buku
tadi. Seperti Irman Gusman yang mengatakan bahwa demokrasi kita masih
prosedural, belum substantif. Demokrasi yang berkualitas akan berdampak bagi
kehidupan masyarakat. Dan kampus bukan menara gading yang jauh dari isu-isu
masyarakat. Atau Limpo dengan gaya
nyentriknya mengatakan, tidak ada negara yang berjalan baik tanpa pemerintahan
yang baik. Lalu Isran Noor nyambung soal mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa yang
memiliki tanggung jawab moral sudah cukup menjadi bekal untuk menjawab
persoalan bangsa. Karena kepedulian moral adalah hal yang tak ternilai
harganya. Kemudian Limpo nyeletuk lagi. Katanya, pemerintah yang mampu mengatur
adalah pemerintah yang tangannya tidak terluka karena korupsi. Saya tidak mau
tanggapi kata-kata Wiranto, takutnya kampanye hitam. Soalnya yang saya tangkap
tadi juga demikian. Tapi nggak tau juga. Saya terkesan karena beliau salah satu
tonggak berdirinya reformasi. Saya suka ketika beliau bicara soal jaman edan
menurut kisah orang jawa kuno 700 tahun silam, pastinya bukan kisah Rahwana
dari Nalengka Diraja. Kayaknya masih ada korelasi sama goro-goro Petruk jadi
Ratu yang pernah dikisahkan @TrioMacan2000. Kedua kisah tersebut menyimpulkan,
akan ada gerakan dahsyat melebihi 98 mengiringi transisi demokrasi Indonesia
yang mendewasa. Sayangnya, mahasiswa-mahasiswa sekarang, atau pemuda pada
umumnya, terluka otaknya gara-gara globalisasi yang salah serap. Nyontek pas
ujian, atau bikin daftar pustaka setan (nggak jelas keberadaannya) kalau lagi
ngerjain laporan, dan jadi hakim atas orang yang dituduh maling ayam. Termasuk
saya yang akhir-akhir ini idiot menekuni twitter dan melanggengkan sistem
belajar SKS. Halah, belajar aja elo nggak ! Hihi
Saya mesti pulang lebih dulu, alasan
datarnya ada responsi. Soalnya semalam bukannya siapkan bahan responsi, malah
nonton ulang film Gie dan bikin bahan pertanyaan. Lagian acaranya jadi nggak
asik karena saya sungguh kebelet beol. Ketika sedang memenuhi panggilan alam,
saya jadi merenung. Entah karena larut dengan suasana beol atau saraf idealisme
sedang aktif, tiba-tiba terngiang soal betapa peliknya kondisi bangsa ini.
Kata-kata Gie merayapi toilet sempit.
Para intelektual yang berdiam diri dari persoalan bangsa yang ada, telah
melunturkan semua kemanusiaannya. Tapi, Gie. Saya kan idiot, nggak intelek
? Gie malah nanya balik, bukannya Isran
Noor bilang kepedulian moral saja sudah cukup jadi bekal ? Gie meradang. Kita, adalah generasi muda yang dilahirkan
untuk memberantas generasi tua yang mengacau ! Gie, please deh. Kritis aja
sama jaman loe. Gue bukan hidup di abad loe yang nggak ada internet, android
dan antek-anteknya. Godaan sekarang makin gede. Persoalan makin pelik. Gie
terdiam, entah karena sedang berpikir atau sedang menikmati bau adonan yang
keluar dari pabrik alam. Plung, plung,
plung.. Kemudian datang lah TrioMacan2000 nyanyi iwak peyek. Si Gie malah
goyang oplosan. Bayang-bayang baru muncul, Hitler dan Soekarno lagi duet goyang
Caisar, disusul lenguhan panjang dari saya.
Seperti yang dulu pernah saya tulis.
Saya merasa dilahirkan di masa lampau dan menyangsikan hidup di abad sekarang.
Namun yang patut disyukuri adalah tantangan yang begitu berat itu sendiri.
Bukan lagi soal peralihan orde lama, orde baru atau reformasi. Tapi lebih
kepada mengendalikan gejolak dalam diri atas kemudahan-kemudahan yang
terfasilitasi jaman. Saya sadar akan
kepahitan menjadi realis. Saya mulai memikirkan bagaimana cara untuk
berperan. Memang benar kata Mahatma Gandhi, ketika kita perjuangkan kebenaran,
orang akan mengabaikan, menolak dan menentang, tapi akhirnya kita pasti menang.
Dan TrioMacan2000 bisa jadi pandangan baru di era yang degil dan munafik ini. Setelah
sebelumnya ada Soekarno dengan orde lamanya, Soeharto dengan orde barunya dan
SBY dengan reformasinya. Saya lega semalam TrioMacan2000 dikemukakan Metrotv,
setidaknya mematahkan keraguan teman kost terhadap ideologi yang saya anut,
Pancasila. It is not about preception ! Tapi lebih kepada ideologi yang tidak
menyerukan golongan. Saya sepakat karena Indonesia multikultur, tidak seperti bangsa Arab yang
monokultur. Sayangnya Metrotv masih mengopinikan akun TrioMacan2000 yang
anonim, kejelasannya kabur. Padahal sudah beberapa kali admin singgung akun
tersebut adalah pseudonim. Bahkan sekali waktu foto-foto para admin diunggah. Saya
sendiri yakin Dahlan Iskan cemas.
Perjuangan
manusia idiot baru dimulai. Beol selesai. Saya jadi menemukan jawaban sendiri
dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat. Belum cukup menjawab sih, tapi
bisa jadi bahan bakar buat mulai bergerak memahami persoalan-persoalan bangsa
ini: kepedulian moral. Tadinya mau menanyakan begini pas Dialog Kebangsaan,
sayang acungan saya nggak terlihat moderator:
Akhir-akhir ini akun
pseudonim (komunitas intelejen RI) TrioMacan2000 sangat populer di media sosial twitter. Setelah
diinformasikan oleh seorang teman mengenai akun tersebut dan mengikutinya, saya yang awalnya awam dan buta soal politik,
menjadi sedikit tahu dan paham apa itu politik. Khususnya perkembangan politik
di Indonesia.
Analisa-analisa dan
gagasan-gagasan yang dipaparkan melalui kuliah twit oleh beberapa adminnya,
membuat saya jadi tahu sisi lain sosok
Jokowi, Dahlan Iskan, bahkan Presiden RI, dan bagaimana perjalanan
politiknya. Saya sadar saya awam. Namun terlepas dari itu, bukan masalah fakta
atau tidak fakta, suka atau tidak suka. Menurut saya, secara “logis” data dan
analisa mereka benar dan masuk akal. Bahkan, beberapa kasus telah disinggung
sebelum dikemukakan media. Salah satunya tentang Bunda Puteri yang ternyata
Sylvia Sholeha, Ratu Atut yang secara eksplisit menjadi sebuah dongeng nyata,
atau media yang tidak henti-hentinya mencitrakan Jokowi. Semalam kasus Dahlan Iskan diangkat di
Metrotv. Baru-baru ini telah dianalisa twit @Yusrilihza_Mhd yang menggugat MK dan
hubungannya dengan kondisi beberapa partai politik besar, juga KPU. Kesimpulan
dari analisa tersebut; lagi-lagi ada skenario dibalik itu semua, yang
memungkinkan pemilu 2014 batal. Tidak ada pemilu di bulan april nanti. Entah
siapa dalang dan apa motifnya. Katanya sih RI 1.
Tapi disini saya
sampaikan, itu semua bukan soal, karena sekali lagi saya sadar saya awam. Yang jelas, yang ingin saya
sampaikan adalah timbulnya suatu
keyakinan dalam diri saya menyikapi hal-hal tadi, sekaligus menegaskan kembali
pendapat Soe Hok Gie yang menyatakan bahwa politik adalah barang yang paling
kotor, lumpur-lumpur kotor. Penuh deception point. Saya jadi muak dan pesimis
kalau mesti berperan. Pertanyaan saya adalah, bagaimana bapak-bapak sekalian
menyikapi hal tersebut ? Dan, mohon maaf, berikan saya pandangan bahwa politik
tidak demikian adanya, bukan lumpur yang selamanya menjijikan. Saya terlalu
skeptis dengan sebuah kalimat twit TrioMacan2000 yang mengatakan “politic is
about preception”. Terimakasih.
Purwokerto, 05
Januari 2014
03.17 WIB
Sekre Forum
Mahasiswa Indramayu Purwokerto