Blogroll

Indramayu University Expo 2014 will be held !!!

Desember 29, 2013 |

Countdown for IUE2014. Gathering the largest universities in Indramayu was attended by state and private universities in Java and Bali. For 1100 students who have already purchased tickets, take your dream- January 26th, 2014 !!! Nang, nok, ju bocah kasep bocah ayu, aja pada pegel nunggoni kejutane yaaa !!!! 

http://www.youtube.com/watch?v=wBeq7cPnMZQ&feature=youtu.be




Read More

Cinta dan Jam Beker (sebuah cerita pendek)

Desember 29, 2013 |



            Senyap mengepung seketika. Awan gelap memayungi kami yang sedari tadi tidak saling bicara. Aku menatapnya. Matanya berkaca-kaca. Lelaki mana yang kuasa menahan, untuk memberi ketenangan kepada yang dalam dirinya hanya ada kelembutan, meski hanya tatapan perduli, atau sedikit senyum mengalah. Tapi itu mungkin, bagi kebodohanku  membuatnya diam, kikuk, dan gagap menyikapi situasi rumit ini. Kebodohan bagi arti sikap yang tiada sanggup memecah sebuah arti: cinta bukan mainan yang bisa dimiliki kapanpun ketika ingin, sesuka hati datang dan pergi. Dan senyap itu pecah, seiring pekat awan menggumuli gelegar petir dan riuh angin. Badai bermula,

“kamu pikir kita serius ?!”                                                                                                             

“Pikir kamu ?!”

“Ini hanya permainan, Fietri. Kamu cuma nyari kesenangan. Begitupun aku !”

“Apa yang bisa buat kamu percaya dan yakin kalau aku serius ?!”

“Kamu itu  anak-anak !”

“Aku mencintai kamu !”

“Cinta ? Simpen aja kata bodoh itu dalam saku seragam kamu !”

“Tatap mataku !”

“Hahaha.. Ini bukan lelucon sinetron ! Coba jelasin, kenapa kamu mencintai aku ?”

“Itu ga perlu.”

“Aku butuh penjelasan supaya bisa percaya dan yakin !”

“Apa yang aku rasain ini emang ga butuh di jelasin ! Bahkan terlalu rumit buat dijelasin !”

“Itu negasin kalo kita ini ga serius. Ya emang ga mesti serius kan ?”

                Kulirik dirinya. Dia menatapku dalam. Segera kulempar pandanganku pada ketenangan danau yang mulai terusik oleh titik-titik air hujan. Kulirik lagi dirinya dengan sedikit senyum simpul sinis. Air matanya meleleh bersamaan dengan makin derasnya hujan. Aku agak tersentak. Ada rasa tak tega melihatnya menangis. Apapun itu, ini pertama bagiku membuat wanita menangis. Kemudian terdengar lirih ucap darinyan yang samar ditelan deras hujan,

    “usia kita hanya beda tiga tahun, apa salah ? Bukannya cinta ga kenal usia ? Aku bukan anak SMP lagi. Dua tahun kita jalanin ini, seanaknya kamu ngomong gitu ? Nganggep ini cuma permainan ? Kamu pikir aku ini apa ? Kamu.. kamu brengsek tau ga ?”
Enteng aku membalas ucapannya,

                             “Hahaha.. Kita cukup sampe disini aja ya ? Maaf, aku capek !”

***


      Cinta bagiku rumit. Jauh lebih rumit dari analisis regresi dan korelasi. Tidak banyak memang, kisah cinta kualami sepanjang hidup. Tapi ada sebekas trauma dari sekelumit rasa itu. Rasa yang menjadikan diriku pecundang dan memberikan keyakinan bahwa keindahan dan keluguan cinta hanyalah klise. Berawal dari tatapan gila, kemudian saling kenal, dan berucap janji saling menerima apa adanya. Hipotesisnya adalah, omong kosong !

        Ini kisah pertamaku.  Kadang pahit bila dikenang. Pernah aku memiliki rasa dengan seorang wanita yang ternyata sudah memiliki kekasih. Dia satu SMA denganku. Aku menyukainya sejak pandangan pertama. Namanya Rhesti. Setelah lama saling kenal, akhirnya dia menyatakan bahwa dirinya tidak punya kekasih. Singkat waktu, kuungkapkan apa yang kurasa padanya. Dia menerimaku. Hari-hari pertama membuatku dimabuk kepayang, entah baginya. Suatu ketika dia menuntut supaya aku tegas dengan perasaanku.

“Kamu serius kan sama aku ?”

“Khok kamu ngomong gitu ?”

“Kamu kan cowo, bisa kamu ngomong sama dia ?”

“Dia ? Dia siapa ? Maksud kamu apa ?”

“Nanti malam temui aku di taman. Kita buat awal yang indah.” Dia menutup pembicaraan, tak acuh denganku yang bingung.

       Aku memenuhi permintaannya. Setelah menunggu lama di taman yang sepi, dia datang. Dia duduk disampingku. Aku kikuk. Makin kikuk ketika tiba-tiba dia memelukku. Keringat bercucur deras, aku salah tingkah dengan ketidakwajaran yang baru kualami ini. Tiba-tiba dia berkata lirih di dekat telingaku, “kamu kan cowo, bisa kamu ngomong sama dia ? Aku sayang sama kamu.” Jidatku mengernyit. Alisku beradu.
Tiba-tiba datang segerombolan anak muda menghampiri kami. Beberapa diantaranya berpakaian seperti berandal lampu merah. Seorang laki-laki kurus menghampiri kami. Dia mendekatiku. Dan,

“jadi ini cowonya...” BUKKKKK !!!! Dia menonjok dengan amat kerasnya hingga darah segar kemudian mengalir dari dua lubang hidungku.

“Apa-apaan ini ?” kataku sambil meringis kesakitan. Aku melihat Rhesti tersentak melihatku berdarah-darah. Lantas Rhesti menghampiriku, kemudian meminta agar tidak perlu ada kekerasan. Laki-laki kurus itu kemudian menyambar,

“Rhesti, kamu cinta kan sama aku ? Kita udah lama saling ngerti. Hancur begitu aja Cuma gara-gara dia ?! Itu ga bisa aku terima !” Dia hendak menghajarku lagi, tapi Rhesti menghalangi. “Gaza, kamu kan cowo, ngomong dong !” Rhesti memohon agak keras padaku. Aku gagap. Si kurus menyambar lagi,
 “terus apa arti ciuman kita kemarin malam, Rhes ?” Aku tersentak bukan main. Ciuman ? Si kurus menyambung,
“udah sekarang kamu pilih aku, dia aman. Atau pilih dia, dia mati !” Mati ? Aku pandangi di kejauhan, segerombolan teman si kurus yang siap dengan kepalan tinju dan beberapa balok kayu. Si kurus makin berani, dia hendak menghajarku lagi, tapi lagi-lagi Rhesti menghalangi. Lantas Rhesti berkata, “Biar Gaza yang nentuin.”

       Aku paham akan suatu hal. Aku terdiam sesaat. Raut Rhesti seolah ingin aku segera menentukan. Ini rumit. Aku terbata berkata padanya, “bener kemarin kamu ciuman sama dia ?” Rhesti menunduk. Raut mukanya berubah drastis. Si kurus tersenyum puas. Aku tersenyum sinis, “biar Rhesti yang nentuin,” kataku. Rhesti kaget. “Yaudah, kalian semua ga kaya yang aku harapkan. Kamu sok jagoan. Kamu, Gaza, aku sayang kamu. Aku berharap kamu mau berkorban buat aku. Buat kita,” mati untuk seseorang yang belum tentu menjadi istriku ? Bahkan dia telah membohongiku dan menjebakku dengan rencana busuk ini ? Konyol pikirku. Aku hanya bisa terdiam, Rhesti menyambung berusaha dengan nada terkesan frustasi, “aku ga milih kalian berdua ! Aku ga mau ada yang tersakiti.” Omong kosong. Bangsat.

     Malam itu berakhir indah. Awal yang sangat indah. Seindah duri mawar, menancapi dasar hati, membeku didalamnya sebagai buah simalakama, bersirat kesimpulan yang belum bisa aku mengerti, tentunya dengan pilihan yang tidak memihak. Si kurus lagak sok jagoan membela cintanya dengan kesiapan pecundang main keroyok atau Rhesti yang penuh kebohongan dan rencana omong kosong. Cinta memang rumit. Aih, tunggu. Apa aku saja yang belum bisa mafhum yang namanya cinta ???


     ***


         Dua tahun bukan waktu yang lama. Selama itu pula aku mengabaikan perasaan Fietri. Menjadikan dirinya kambing hitam bagi keegoisanku. Ini semakin diperparah keputusanku melupakannya. Melupakannya untuk mencari sebuah jawaban bodoh dari pola pikirku yang masih belum bisa menerima ketulusan cinta. Lebih-lebih terselip dendam akan pengalaman pahit masa laluku dengan Rhesti. Tapi itu semua sia-sia. Nyatanya sampai saat ini aku tidak membuka hati untuk orang lain dan masih mengangap Fietri adalah yang terbaik. Fietri tidak bersalah !

          Aku tidak bisa fokus mencari bahan skripsi. Entah berapa lembar halaman dari banyak jurnal penelitian yang aku sibak tanpa membacanya. Perpustakan yang sunyi menyudutkanku. Buku-buku tua seolah menatap sinis dan berkata, kamu tidak lebih dari seorang anak-anak. Pikiranku meraba-raba keruh kenangan saat meninggalkan Fietri dengan begitu bengisnya. Tiba-tiba aku teringat Fietri. Dan pertanyaan itu meluncur tegas, runcing sudutnya berkilau tajam, siap menusuk, menancap hatiku paling dalam, dan merobeknya: mengapa harus sekejam itu terhadap Fietri ?

           Derit kursi memecah keheningan. Aku beranjak dari tempat duduk, berjalan menelusur barisan lemari yang berdiri congkak. Buku-buku tua masih menatapku sinis. Aku melangkah hampa, meniti satu per satu anak tangga, menghitung seberapa banyak kesalahan yang harus ditebus. Pandanganku menelusur lantai bawah yang masih tersekat ketinggian, titian anak tangga seolah sepakat untuk melemparku dari lantai tiga. Aku dijegal rasa bersalah yang teramat. Aku brengsek. Teramat brengsek.

           Setengah berlari aku meninggalkan gedung perpustakaan menuju kos untuk mengambil laptop. Rindu tiba-tiba datang menghampiri. Keresahan menghantuiku Dua tahun bukan waktu yang sebentar, tapi sulit bagi kejujuranku yang yakin semua tentang cinta adalah permainan. Fietri tak jauh berbeda dengan Rhesti. Mereka pasti punya tujuan sama untuk bermain-main dengan hati. Seolah menegaskan hadirnya, wanita adalah sosok lembut yang patut diberi kewenangan untuk menentukan kepuasan hasratnya. Aku sadar. Itu samasekali tidak benar !
Kubuka laptop, dengan resah dan gundah aku hendak mencari tahu tentang Fietri. Aku berharap dia masih sudi memaafkanku. Kubuka facebook dan twitternya, ternyata sudah lama tidak aktif, aku sedikit kecewa. Aku menyesal telah menghapus nomor teleponnya. Harapanku tertuju pada mesin pencari, tidak perduli berapa banyak nama Fietri di dunia ini, aku cari satu per satu untuk mencari informasi tentangnya. Setelah sekian banyak, aku menemukan blog pribadinya. Aku tersentak, sampul blog bergambar foto dirinya yang sedang bergandeng tangan dengan laki-laki yang entah siapa. Kubaca arsip terbitan barunya, postingan tertanggal dua bulan lalu, sebagian besar berisi kekagumannya terhadap sorang laki-laki. Kupikir laki-laki itu adalah yang bersamanya di foto. Kubuka arsip empat tahun kebelakang yang berisi ketegarannya menyikapi diriku, aku terenyuh, bahkan banyak dia sebut namaku dalam tulisannya itu. Kupandangi wajahnya pada foto, terlihat lebih dewasa dan modis. Aku merindukannya, tapi sayang dia sudah milik orang lain. Aku menyesal telah menyia-nyiakannya.


                                   ***


          Hari ini aku hendak ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbing skripsiku kemudian meluncur ke Jakarta, mengurus berkas aplikasi dan wawancara beasiswa program masterku di univeritas Melbourne. Setelah konsultasi, Profesor Loekas kebetulan hari itu hendak ke Jakarta juga. Dengan senang hati beliau memberiku tumpangan. Di tengah perjalanan, setelah menerobos kemacetan  daerah Jatibening, aku teringat Fietri.

         Kubuka laptopku untuk melihat kembali blognya. Aku kaget sekaligus senang, dia memosting sebuah tulisan, baru tiga jam yang lalu. Kubaca dengan seksama. Kesenangan itu berubah pilu. Ditulisnya kepedihan dirinya seolah tidak memiliki semangat untuk hidup.  Di akhir cerita, dia menulis nama sebuah tempat, mungkin tempat dimana cerita itu di tulis. Aku trsentak, tempat itu adalah “Rumah Sakit Spesialis Kanker Bhakti Bunda.” Aku bertanya pada Profesor Loekas mengenai rumah sakit itu.

“Di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Limabelas menit lagi dari sini. Kalau kamu mau kesana, nanti saya antar.” Jelasnya. “Iya Prof, tujuan saya pertama kesana. Makasih Prof.”

         Mobil terhenti di depan gerbang rumah sakit. Karena alasan sedang terburu-buru, Profesor Loekas tidak mengantarku ke dalam, aku maklum. Pandanganku menyapu kemegahan rumah sakit. Kemegahan yang menyembunyikan kepiluan penghuni di dalamnya. Aku melangkah sedikit gontai hendak masuk. Aku bertanya pada resepsionis pasien atas nama Fietri Nur Akhwat Bhaskoro. Resepsionis berkata “Komplek G, bagian Kanker Syaraf, ruang 173.” Aku segera berlari mencari ruang tersebut. Cemas, khawatir, resah, gundah, semuanya bercampur. Aku terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Kakiku terhenti. Terpampang jelas susunan angka itu. Aku melangkah perlahan mendekati pintu yang tertera nomor 173. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan air mata berurai mendekatiku, badannya tinggi kekar, ia mengepalkan telapak tangan, lantas dengan sekuat tenaga dia meninjuku. Aku terepelanting.

“Brengsek ! Kamu pasti yang bernama Gaza ! Sialan ! Gara-gara kamu anak saya jadi seperti ini !” Rasa sakit terkalahkan oleh bingung. Aku tidak mengerti, mengapa dia bisa mengenali aku ? Dia meremas kerah bajuku, lantas meninjuku lagi. Darah segar mengalir dari kedua lubang hidungku. Seorang satpam dan beberapa oraang melerai kami.

         Aku duduk diujung selatan koridor komplek G dengan rasa bingung. Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan seperti ini. Tiba-tiba laki-laki tadi menghampiriku, namun dengan raut yang berbeda dengan semula, terlihat sedikit tenang. Dia menuntunku menuju ruang 173. Aku lihat ada seorang laki-laki yang sepertinya pernah aku lihat. Rupanya laki-laki yang ada di sampul blog Fietri. Dia menjabat tanganku, mukanya terlihat sedih dan pasrah, ternyata dia kakak Fietri.

        Aku melihat dari balik kaca pintu, disana tergolek tubuh lemas Fietri, mukanya terlihat sangat pucat. Mulutnya sesekali menganga, seperti sulit bernapas. Kedua tangannya mendekap sebuah bingkai foto. Kakak Fietri menghampiriku dan berkata, “yang ada didekapannya itu foto kamu.” Tanpa sadar air mataku meleleh. Seorang dokter menyiapkan alat kejut jantung kemudian seorang suster menyibakkan gorden dari balik pintu. Aku terduduk lemas di depan pintu. Meratapi semua kesalahan atas kebodohan yang pernah aku perbuat kepada Fietri.

        Kakak Fietri menghampiriku. Dia duduk disebelahku dengan raut pasrah, matanya berkaca-kaca. Dia lantas memberikan selembar kertas diary yang tertulis beberapa kalimat. Aku kenal betul, itu tulisan Fietri. Dengan kepedihan dan kesadaran akan maaf yang mungkin tiada lagi bisa terucap, dan kepiluan rasa sesal yang mendalam, aku membacanya perlahan:

“Aku tulis ini dengan sadar. Aku harap kamu mengerti dan menganggapku bukan anak-anak lagi. Seberat apapun aku kecewa, hingga maut pun tidak pernah bisa membujuk ku untuk berhenti menyayangimu. Selamat ulang tahun, Gaza. 17 Maret 2011. Dari yang selalu mengharapkanmu, Fietri NA Bhaskoro.”


“KRIIIIIIIINGGGGGGGGGG !!!!” Dering jam beker memekakkan telinga. Aku tersentak dan bangun dengan kepala agak pusing karena harus terbentur sisi meja belajar. Laptop masih terbuka. Setelah sedikit sadar, kutilik monitor laptop yang masih menampilkan windows media player classic, kubaca pojok atasnya tertera judul: Surat Kecil untuk Tuhan. Adzan Shubuh pun berkumandang. Ternyata Cuma mimpi. Lifelikeness, bin aneh.

Read More

Jenuh (sebuah cerita pendek)

Desember 29, 2013 |


Hati yang menggebu menjadikan tubuhku tuli akan teriakan resiko. Ford Sierra RS Cosworth/XR4Ti menerobos ramai ibu kota, membuat gedung-gedung congkak itu terbatuk iri, lembut suaranya mesinnya membuat cemburu sirine mobil patroli, terseok-seok, hampir menabrak polisi, bahkan  banyak  pasang mata sangat bernafsu lantas memaki, aku tak perduli. Yang aku tahu, aku merindunya setengah mati.

“Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.. Priiitt..” Bunyi pluit polisi menghardik dari luar. Aku tak acuh, tertanya dalam hati, apa polisi  terdidik untuk tidak memahami orang-orang gila macam diriku yang hidupnya selalu dihantui bayang-bayang rindu ? Apakah mereka tidak paham betapa berat hubungan jarak jauh ? Aih, siapa perduli ? Bodoh aku ini. Benar-benar melawan arus. Arus jalan raya. Pantas saja pluit itu menghardik, hampir aku menabraknya. Bangsat.

Setelah tawar-menawar dengan polisi, lantas segera aku tancap gas lagi. Masih ada waktu lima belas menit untuk tepat waktu. Ah, gila ! Semakin aku ngebut, semakin dekat dengan tempat dimana kau menanti, semakin itu pula aku merasa bahwa saat jumpa, meski hanya sekejap,  lunas sudah penderitaan, tiada perduli apa pun penghalang, aku ingin menatapmu puas-puas.
                                                                                                ***

Dulu. Sulit sekali menjadi diri sendiri. Bukan orang lain atau  wajah kemunafikan yang tersemati topeng jaman. Ataukah diriku saja yang tolol, tidak bisa menyikapi waktu ? Lalu apa gunanya menunggu waktu ?  Waktu yang kejam perangainya telah menyergap, mengepung, dan memenjarakan sebuah jawaban yang belum aku bisa pahami itu. Yang aku tahu, meninggalkanmu adalah kebodohan. Dan menunggumu, adalah usang, adalah kering, adalah hampa, adalah sendiri: waktu telah menggerogoti tulus arti untuk mengakui bahwa terbaik itu adalah dirimu.

Terlalu ikut campur. Lihat saja, wajah-wajah kriminal itu, bola mata dan lidahnya tajam, menari kanan-kiri, mencari mangsa untuk mereka hunus sampai ke dasar hati. Kalau saja bukan kaum yang sudi menaruh nyawa bagi kelahiran anaknya, ingin aku memenjarakan kelaliman kata-katanya itu. Setiap tindak tanduk diriku selalu saja mereka pantau. Jujur, itu membuat kepercayaan diriku anjlok. Dasar tukang gosip.

  Aku melangkah melewati mereka. Sorot matanya tajam mengamati. Dan kasak-kusuk sialan itu harus menjamah telingaku,

    “Heh, si kere kabarnya naksir anak Ibu Guru.”

    “Hus, orangnya lewat.”

    “Harusnya dia ngaca.”

    “Gadis secantik Fietri mana mau ?”

            Tak hirau langkah mencoba. Urus saja urusan sendiri, pikirku. Tapi tetap saja, ada opsi lain, mungkin urusan mereka adalah mencampuri urusanku atau bahkan perduli ?  Teguh pada pendirian saat itu terasa sulit. Aku termakan kasak-kusuk sialan itu. Kepercayaan diriku anjlok akibat menerjemah terlalu jauh. Sejurus aku ciut, merasa diriku tak layak. Betapa susahnya menjadi diri sendiri. Eh, apa aku saja yang terlalu percaya diri ? Tempe bongkrek, semua kemungkinan itu racun. Tahik. Aku bosan mendengarnya.

                                                        ***
     Aku mengerti bukan karena diam. Bergerak searah bahkan melawan arus bagiku itulah proses mengerti. Proses menepis rumit kedewasaan. Ketika kau menatapku, ada getar rindu membelenggu. Ya, lewat matamu tertepislah keraguan terhadap bengis waktu. Aku merunduk malu, kepada diri sendiri dan dirimu. Kau boleh sebut aku brengsek, bajingan, atau apalah. Hanya saja, aku berharap, kau pun bisa rasakan getar itu melalui mataku. Melihat kesungguhanku menepis sampah-sampah busuk di beranda hidung. Aku telah melawan arus untukmu. Lalu, kemana aku harus meluapkan kegundahan ini kalau bukan pada dirimu ?

     Tiba di tempat dimana kau berada. Aku melangkah perlahan mendekatimu. Aku tak kuasa melihat, segala yang ada pada dirimu membuatku gugup. Aku terhenti, binar matamu menamparku, betapa kau pun menyimpan beban yang sama. Tapi aku gugup samasekali. Kau simpulkan sedikit senyum, bunga-bunga rindu itu berterbangan di depan mataku. Aku gemetar. Aku gagap. Keringat dingin membuncah. Masih seperti dulu saat pertama bertemu.

     Selama ini kau yang membuatku yakin pada diriku sendiri. Menepis segala keraguan yang ada. Kau isi sedikit demi sedikit keyakinan dalam diriku, hingga sekat-sekat rasa itu tiada lagi kosong. Aku sangat mencintaimu, dengan segala kelemahan dan kekuranganku. Aku tak perduli. Aku merasa perduli denganmu, merasa ada sesuatu yang harus aku korbankan untukmu, sekalipun itu besar, aku tak perduli. Lihat, ini janjiku padamu dulu, aku sudah mapan, siap membawamu pada kebahagian, buah dari ketulusan cinta yang selama ini ku pertahankan. Harapan dan mimpi yang dulu pernah kita rangkai bersama, selangkah lagi akan terwujud. Kau ingin itu kan, sayang ? Ayolah, mendekat padaku, ini tidak semu.

     Kau rengkuh diriku dengan rindu yang menggebu. Matamu berkaca-kaca. Tolonglah, jangan buat aku bingung. Betapa kepedihan terlihat jelas padamu. Aku kikuk, gugup, entah apa yang harus diperbuat. Kerinduannya itu sangat dalam kurasakan. Tumpahkan. Tumpahkan saja bila itu membuatmu sedikit merasa lega. Jika kata-kata bukanlah solusi, menangislah. Tapi, aku samasekali tak sanggup melihat air matamu, sungguh.

     Dia menatap dalam padaku. Seperti hendak ingin mengatakan sesuatu namun sulit. Dia memalingkan diri pada ketenangan sudut kota yang seolah terkamuflase oleh gerak yang melamban, lalu diam membeku. Hanya ada aku dan dirimu. Dengan terbata, sambil terisak, dia berkata,

“Aku merasa dikucilkan seperti kau merasa terkucilkan. Siapa lagi kalau bukan oleh tetanggaku sendiri. Tapi ini memang sangat patut. Aku ingin mati saja. Gaza, kemana saja dirimu ? Kalimantan bukan tempat sulit sekedar mengirim surat.”

            Aku masih tak paham dengan apa yang ia katakan. Aku hanya terdiam. Pikiranku menembus dimensi relung-relung keasadaran, mencerna semua kalimatnya, menginterpretasi pada suatu hipotesis yang sama: dia merindukanku, bahkan setia menunggu.

   “Aku lelah. Sangat lelah, Gaza. Menunggu itu pahit sekali rasanya.” Sambungnya masih dengan nada terbata. “Aku tak mengerti.” Jawabku. Dan petir tiba-tiba menyambar, tangisnya meledak,



“Aku hamil ! Aku sudah menikah ! Puas, hah ?!”



Read More

Dongeng Cinta Ramayana di Kampus (sebuah cerita pendek)

Desember 29, 2013 |


         Diambang senja muram sandikala, seorang kakek menuturkan cerita kepada cucunya. Tangannya merentang seperti hendak merengkuh senja. Sajak-sajak meluncur deras memetaforakan keberadaan sosok jelita, Dewi Shinta, di sebuah negeri antah-berantah bernama Mantili.


“Prabu Janaka kala itu buat sayembara. Siapa mampu angkat busur panah Siwa, dia layak persunting Dewi Shinta”.

Waktu memang pandai menipu. Bayang-bayang cerita kakek yang meregang nyawa sebab tak bisa buang angin, sekali waktu datang tiba-tiba. Aku yang lugu selalu duduk terdepan untuk mendengarkan dongengnya. Kenyataannya memang hanya aku yang sudi mendengarkan. Tapi itu tidak penting. Beratus kali kakek cerita soal Rama dan Shinta, yang aku paham hanya Rahwana. Sosok jahat yang menculik Dewi Shinta dari Rama. Dan entah kebetulan saja kala itu, di dusun tempatku tinggal sedang gempar dengan penculikan anak untuk dijadikan pengamen di Jakarta. Saat itu aku masih kelas enam.

Casmi. Adalah sosok pertama yang membuatku bergetar ketika memandangnya. Rasa apa aku tidak mengerti saat itu. Aku senang bermain dengannya. Memboncengnya dengan sepeda mengelilingi dusun, berlari melintasi galangan sawah dan kebun, atau mencuri timun-timun suri yang ranum, kemudian dikejar anjing milik sang pemilik kebun. Aku bahkan sangat ingat hari dimana kami penuh riang menghempaskan diri diatas tumpukan jerami, saling pandang, dan kupegang jemarinya tanpa gugup. Aku mengucap janji kepada awan berarak dan langit biru untuk selalu bersama dengannya, selalu menjaganya. Lucu sekali.

Namun keesokan harinya, dusun geger. Casmi diculik. Seminggu kemudian jasadnya diberitakan sebuah surat kabar harian nasional: seorang  anak nyangkut di tumpukan sampah kali Ciliwung. Ini pasti ulah Rahwana, pikirku. Dendam mulai membatu.
                                                                                ***
Agustus, 2012.
Langit Purwokerto hari itu adalah tudung rindu bagi jiwa yang terlunta-lunta dalam gamang. Memang sulit menerka apa yang terjadi lima menit ke depan, sekalipun  bertanya kepada debu-debu, rumput-rumput, atau aspal-aspal jalan kusam. Jawaban mereka pasti sama, diam dan tak acuh. Langit makin teduh. Daun-daun bicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Kuhitung tiap langkah kaki dengan muka merunduk, seakan tidak ingin tahu lebih dulu apa di ujung sana yang sedang menunggu. Setiap sendi alam adalah sajak yang kadang boleh dikata egois, hanya ingin dimengerti saja, tentang begitu kreatifnya alam menata pertemuan-pertemuan.

Roda-roda becak mulai sudi bicara tentang seseorang yang berdiri di sudut jalan seberang. Aku pandang sejenak bila itu bukan dosa. Semuanya menjadi seperti dalam film.  Apa yang ada di depan mata slow motion. Semua terlihat blur, zoom in kepada dirinya. Kamera extrem close up. Menyoroti alis tebalnya yang beradu. Mata teduhnya yang menahan peluh. Seperti kesal menunggu, lalu transisi. Medium shot membicarakan soal jari-jarinya yang saling remas kesal di hadapan perutnya yang mungkin lapar. Zoom out menyoroti mukanya yang mulai murung. Brengsek, aku ingin mengakhiri imaji ini. Gambar fade out, hitam perlahan, sisakan sebuah tanya.

Tiba di kampus untuk hadiri perkumpulan angkatan mahasiswa. Aku duduk dibawah teduh pohon waru, berdiskusi soal wajah-wajah baru. Bukan soal sisa tanya dahulu. Atau Casmi yang jasadnya nyangkut di tumpukan sampah kali Ciliwung. Tapi tetap saja, siapa yang hendak sudi jawab lebih dulu ? Semua dalam diam dan kosong. Hanya retak-retak bangunan tua yang merintih, sebab yang datang tidak sesuai harapan. Aku tidak paham mengapa ranting-ranting rapuh beri persoalan. Rasanya aku masih suka melihat baris-baris bangku kosong, tersudut diam dan bertanya-tanya, siapa aku ? Ranting keropos  membantah keras, saat aku menolehkan muka ke arah kiri. Dia yang ku temui di simpang jalan, tepat duduk di sampingku. Nadi-nadiku gemetar bukan main. Ranting keropos terhempas dari dahan, berdentum menghujam tanah.
                                                                                ***




September, 2012.
Ospek akan berlalu dalam beberapa menit lagi. Ada perasaan sayang untuk mengakhiri. Orasi-orasi berterbangan, menjamah setiap sudut dan sisi kampus. Siswa atau mahasiswa bukanlah soal. Idealisme kecut dalam kemunafikan adalah binal. Omong kosong. Kepalan-kepalan tangan, dan teriak-teriak pembelaan terhadap getir kemiskinan, mesti berjelaga kelak dalam ruang ujian. Di ruang ujian aku merasa percaya diri, kenyataan adalah ujian, lalu mengapa aku masih kikuk begini ? Aku merunduk lagi. Aku bahkan tidak layak disebut pelajar.

Tegas suara terdengar keras, bukan seperti lonceng gereja atau vihara, sedikit lebih dalam. Aksennya khas sekali. Orang sini bilang “Ngapak”. Kuangkat muka perlahan.  Dia. Ya, dia lagi. Berdiri diatas kursi, meski sedikit terkesan alibi, setidaknya berani membawahi pecundang macam aku. Sejurus kata-katanya meluncur,

“rumah saya jauh. Saya kesini jalan kaki untuk hargai ilmu ! Omong kosong bila senioritas mempersoalkan apa itu beda siswa atau mahasiswa !”

Dari sekian banyak orasi, ini prioritas bagiku untuk memperhatikan. Sekalipun belum mengerti hubungan kata apa yang dia bicarakan. Dia adalah  jawaban beberapa waktu terakhir ini. Aku simpulkan senyum ketika dia melihatku. Kata-katanya terngiang. Sudahlah, ini pasti muslihat. Dia bukan Casmi. Bukan !

                                                                                                ***

                Aku tatap sendu lampu dalam kamar kost. Meraba tiap sudut dan sisi kaca jendela, dan membukanya sejengkal. Tembok-tembok masih betah membisu kepada kusen pintu. Mengapa ? Ratap kalut diri coba bicara, dan dia, mana mungkin hendak tertawa, jika di simpang jalan tanpa sengaja saling bertemu ? Ah, aku mulai berharap dia adalah rainkarnasi Casmi. Itu bodoh.

                Gunung Slamet berpuisi. Cerah matahari di sela-sela daun menari-nari. Trotoar jalan bacakan sajak-sajak Rendra. Kabel-kabel listrik menjelma menjadi senar akustik. Burung-burung gereja adalah pegitar adiluhung. Awan-awan saling bergeser. Langit luas ibarat kanvas. Gemercik air sungai adalah cat-cat dengan kontras warna cerah. Batu-batu menjadi palet. Jika aku adalah sang pelukis itu, aku butuh koas.

Masih sama, aku menghitung tiap langkah kaki dengan muka merunduk, seakan tidak ingin tahu lebih dulu apa di ujung sana yang sedang menunggu. Di simpang jalan, awalnya biasa-biasa saja. Namun tiba-tiba keringat bercucur deras seketika. Aku bertemu dia lagi.

Mengiramakan langkah, sejengkal demi sejengkal dalam diam dan tanya. Vena dan arteriku sejatinya menyanyikan sebuah lagu,  Christofer Nelwan dalam sebuah komposisi musik Erwin Gutawa,

apakah ini gerangan yang sedang kurasakan ?
dunia seperti berputar, badanku bergetar
seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku

siapakah engkau gerangan puteri dari khayangan ?
jemarimu begitu cantik, hatiku tergelitik
seperti ada kupu-kupu menari dalam dadaku

sudikah kau genggam tangan puteri dari khayangan ?
jemarimu begitu indah, membuat hati gundah
seperti ingin menggubah seribu lagu untukmu

  Kaki kami mencoba seirama. Lirikan itu cukup membuatku kikuk. Aku kadang tersenyum sendiri. Aku merasakan getaran hati  hanya saat memandang Casmi dulu, setelah sekian lama kini terasa kembali.  Terlalu pecundang jika masih betah dalam diam. Aku coba berani membuka, bicara tentangnya soal kemarin orasi ospek, agak kaku memang. Dia kata itu terlalu berlebihan. “Aku sendiri saja tidak mengerti apa yang aku katakan kemarin dulu,” katanya. Kami lantas tertawa. Manis sekali.

                Kami menulusur koridor kampus dengan sedikit berlari, dengan alasan yang juga sama, tidak ingin terlambat. Tapi nyatanya kami masuk kelas terlambat. Dosen sudah lebih dulu membuka perkuliahan, untung toleransinya memihak. Aku duduk di kursi paling belakang sisi kanan, dia paling belakang sisi kiri. Nafas kami masih tersengal-sengal. Dan tatapan itu, senyuman itu, kerutan alis itu, binar-binar mata itu. Gedung-gedung seperti runtuh, kami berdua berdiri saling pandang diatas puing-puing utuh.  Aku dirundung beribu tanya lagi, siapa dia ? Siapa namanya ?

                                                                                ***
September, 2013.
          Setidaknya aku tahu siapa namanya. Setahun lebih aku kuliah masih saja gugup jika melihatnya, atau ketika sebuah kesempatan mengharuskan kami bicara. Beberapa  minggu terakhir ini aku merasa berontak. Entah terhadap siapa ? Rasanya merokok tidak nikmat bila sembunyi-sembunyi. Bahkan dia satu kelas, mengapa aku mesti sembunyi ? Jujur, soal ini aku tidak mahir benar. Jika ditanya mengapa, aku tidak tahu.

           Terlalu kejam untuk memendam. Terlalu puitis setiap saat memandangnya yang sedang menaiki tangga. Atau dia yang tertidur saat kuliah. Tiap orang memang beda, tapi aku rasa dia bukan mereka. Lalu mengapa sepengecut ini ? Aku berani jamin, banyak kata yang kami bicarakan selama ini masih dapat dihitung dengan jari.

           Hujan turun deras. Sisakan lembayung emas. Sampaikan rindu kepada malam dan debu-debu yang tergilas wangi atsiri. Aku  menerobos lena hujan, pandangi bias wajah pada sisa senja. Koridor kampus yang senyap, perlahan menjelmakan bayang-bayang rindu. Suara kakek mencipta siluet Resi Wisrawa yang bicara pada Sukesi soalSastra Jendra Hayuningrat Pangruating Diyu. Dewa mesti cemas dengan itu. Perlahan dewa menjadi sebuah cahaya yang merasuk, hingga meeleburkan raga-raga itu dalam puncak birahi. Maka lahirlah Rahwana. “Weladalah hong tete kolo rojo dewaku. Dewa nista ! Itu bukan kehendak Romo dan Biyung. Tapi Batara Guru dan Uma !” Kata rahwana geram. Aku masih betah melihat baris-baris bangku kosong, tersudut diam dan bertanya-tanya, apakah dia tahu soal perasaanku ?

  ***
                Wedawati yang tidak sudi dicintai Rahwana, sosok denawa raja angkara murka, akhirnya membakar diri demi cintanya kepada Wisnu. Dia memohon kepada Tuhan Penguasa Jagad Raya, berharap titisannya dapat membunuh Rahwana. Cintanya yang tulus kepada Wisnu telah membenihkan dendam.

November, 2013.
Sore itu aku merasa diriku adalah seseorang yang lain. Aku harus segera menuju lab untuk asistensi praktikum klimatologi. Aku meniti satu per satu anak tangga dengan tegas. Aku memasuki lab, kemudian mendengarkan seksama petunjuk asisten praktik. Kami harus bermalam di kampus selama tiga hari dua malam untuk mengamati suhu dan hujan. Sejauh ini Tuhan membimbingku untuk mempelajari alam. Aku harus lebih banyak bersukur, dan harus menyelesaikan praktikum dengan sebaik-baiknya.

Malam itu kami sekelas berkumpul dalam lingkaran. Suatu keintiman yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. David mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membuat perapian. Ario masih biasa dengan leluconnya yang konyol, membuat suasana makin hangat. Andi masih sibuk dengan buku-bukunya. Belum apa-apa Hilman sudah mendengkur. Dan aku, aku terpaku terhadap sebuah titik. Dia datang dari kegelapan menggendong sebuah gitar akustik. Dia bisa main gitar ?

Pancuran emas sumawur ing jagad, sudah musim penghujan memang, tapi malam masih sudi menjelmakan meteor-meteor di langit sana. A Thausand Years milik Christina Perri dinyanyikan olehnya tanpa perduli ragaku yang pecah berkeping-keping. Bayang-bayang Casmi mulai redup dan berdebu, ditelan konstelasi-konstelasi Cruxatau yang biasa orang Jawa sebut Gubung Medeng, dibawanya ke selatan jauh, entah kemana ? Berharap dia yang didepanku adalah koas yang selama ini aku cari agar bisa segera lukiskan keindahan hari-hari selama berada disini. Aku jatuh hati denganmu, Mutiara.

        Malam berlalu begitu cepat, namun sedetikpun tidak aku siakan dengan rasa kagumku padanya. Seperti ada sinergi dalam tubuhku untuk tetap on fire, tetap terjaga menjalani praktiukum yang menyiksa ini. Aku ingin memandangnya terus-menerus sebagai alasan semangatku ini. Aku pulang ke kost, ganti sift praktikum. Sudut-sudut tembok dan sendu lampu kamar mulai memberikan jawaban pada keluguan kusen pintu. Mataku terasa sangat berat akibat semalaman tidak tidur. Ah, aku mulai merindukanmu.

         Aku bermimpi tentang Shinta yang meragukan ketulusan Rama. Dia merasa ketulusan Rama hanya bermula dari sayembara, bukan suatu keluguan dalam pertemuan saling pandang. Shinta bertanya mengapa hanya sang Putera Mahkota Raja Ayodya yang mampu mengangkat dan membengkokkan busur Siwa ? Rama meyakininya bahwa itu adalah garis restu Sang Pencipta untuk mencintai Shinta. Shinta lantas menyembunyikan keraguan itu dengan beralasan bahwa hanya pikirannya saja yang sedang berkecamuk akibat lelah. Rama memandangnya dengan binar yang sulit diterjemahkan oleh Shinta. Lantas Shinta bersandar diri pada kekar pundak Rama. Rama mulai berpuisi untuk menghapus kegundahan Shinta,

“Tulang rusuk ku, jika engkau sulit memejamkan mata malam ini, hingga matahari sudi menggelincirkan sebuah keyakinan, jangan khawatir, aku akan selalu menemanimu, menjagamu. Aku mencintamu seperti engkau mencintaiku. Biarkanlah cinta ini tumbuh seperti bunga yang terbawa angin.”

Malam itu menjadi milik mereka berdua. Pohon-pohon besar menjadi saksi kesucian cinta mereka. Burung-burung gagak tiada berani mengusik kegundahan Shinta. Rama mulai merengkuh tubuh Shinta, memandangnya dalam-dalam. Shinta  memejamkan mata. Rama membelai rambutnya dengan puisi-puisi, menyentuh wajahnya dengan telunjuk jari yang mendesirkan cinta dan rindu. Shinta membuka matanya perlahan, melihat tatapan Rama yang memberikan keyakinan akan cinta sejatinya. Shinta membalas rengkuhan rama. Mereka saling pandang penuh rasa untuk sebuah kata yang sulit dimengerti. Dan Rama memberi Shinta pengertiaan suci itu. Rama mencium Shinta. Seperti hendak menyampaikan betapa ia pun akan sangat tersiksa bila harus jauh dari Shinta.

                                                                                ***

Hari telah terik. Aku bangun lantas mandi untuk segera menju tempat pengamatan. Aku meminjam sepeda Bhakti, teman kost, untuk menuju lapang. Rimbun-rimbun pohon memberi keteduhan. Subuh hari sepertinya hujan, aku melihat sisa basah pada aspal jalan dan pohon-pohon tua itu. Kukayuh sepeda dengan semangat, dengan harapan untuk bisa segera bertemu Mutiara. Tiba di kampus, beberapa mahasiswi sedang melakukan pengamatan. Mataku tertuju pada Mutiara yang sedang tertidur pulas dibawah pohon kelengkeng. Ya Tuhan, wajahnya yang sedang tidur itu lebih agung dari karya Picasso atau Da Vinci sekalipun !

        Selang beberapa saat, datang seorang laki-laki. Badannya bidang. Kulitnya putih selaras dengan mukanya yang rupawan. Dia turun dari motor besar. Tangan kanannya seperti membawa sesuatu. Teman-teman perempuan hampir terpana seluruhnya, dan salah seorang berkata, “itu Rama, anak Kedokteran Gigi. Mau apa dia kesini ?” Dia memberikan sesimpul senyum kepada kami. Dia lalu mendekati kami,

                “Oh, maaf, Mutiara sedang tidur ya ? Kalau gitu aku titipkan ini buat makan siang dia. Kasihan tadi pagi belum sarapan. Makasih semuanya.” Laki-laki itu kemudian pergi.

Bayang-bayang suara kakek datang. Dia bercerita soal  Shinta yang meminta Rama supaya menangkapkan untuknya seekor kijang cantik yang ia lihat di tengah hutan. Rupanya Rahwana sedari tadi mengamati Shinta. Rahwana begitu yakin, sosok yang ia lihat merupakan titisan Wedawati yang sangat dicintainya.  Shinta tidak tahu bahwa kijang itu hanyalah jebakan Rahwana. Rama mengejar kijang itu, Shinta ditinggal sendiri. Tanpa disia-siakan, Rahwana langsung membawa Shinta pergi.

       Aku memang melihat Casmi dalam raga Mutiara. Tapi Casmi bukan Wedawati yang menolak mentah-mentah. Mengapa sosok Rama dalam kenyataanku adalah rival ? Dan Mutiara adalah Shinta yang harus aku culik. Lantas tepat bila sebut diriku sebagai Rahwana ! Tidak-tidak. Ini tidak bisa aku terima. Aku terlalu dini membayangkan diriku sebagai Rama dan Mutiara adalah Shinta. Tuhan, ini terlalu rumit.

       Aku berdiri menantang Cumulonimbus yang memayungi diri. Aku tidak perduli petir yang menyambar-nyambar. Hujan turun sangat deras. Aku kembali menerobos hujan beberapa jarak, aku terhenti di sebuah simpang jalan. Lalu semua gelap dan gelap. Hanya terasa rinai hujan yang menghujam bagai kerikil tajam. Kutatap bayang-bayang kakek di seberang jalan yang sedang menceritrakan Rahwana yang mati dilalap kobaran api. Aku semakin tajam menatap bayang-bayang kakek. Kesal memuncak. Aku berteriak sejadinya sampai bayang-bayang kakek hancur dan lenyap seperti debu yang tersapu angin.

                “SHUT  UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUP !!!! THIS IS REAL, FUCK !”

                                                                                                ***

Hari berganti hari. Tembok-tembok dan sendu lampu kamar kost tersenyum geli kepada kusen pintu. Matahari pun tidak begitu muram menyambutku. Hari disaat aku tidak lagi berharap kepadanya, namun masih dalam getar yang sama. Daun-daun lembaga tumbuh, pucuk dan tunas-tunas muncul baru. Seperti mengejek memang, tapi aku tidak perduli. Aku ingin fokus belajar. Di depan gerbang kampus, aku melihat Mutiara turun dari boncengan motor Rama. Mereka terlihat sangat akrab. Kupaksakan diriku untuk tidak acuh. Aku berjalan melewati Mutiara, dia menatapku. Aku tidak perduli dan terus berjalan. Rupanya dia mengejarku.

“Hai.. tunggu.. kita masuk kelas sama-sama ya ? Kita ulangi momen saat pertama masuk kuliah. Aha, Kamu pikir aku lupa soal itu ya ?”

Damn. What's wrong with you ? Aku menghentikan langkah dan membalikkan badan, lantas sesimpul senyum kulempar padanya. Kami berjalan menyusuri koridor kampus dengan terburu dan masih dengan harapan yang juga sama seperti dulu, tidak ingin terlambat dan diusir dari kelas. Sayangnya, toleransi tidak lagi memihak kepada kami. Dengan muka murung kami meninggalkan kelas.

Kami sepakat menuju green house untuk melihat angrek-angrek cantik hasil penelitian. Aku masih rikuh dengannya. Perasaanku campur aduk antara cinta dan cemburu. Kali ini dia yang membuka pembicaraan,

“aku tahu dari matamu, kalau setahun ini kamu berusaha sembunyikan perasaan.”

Aku memandangnya penuh tanya sembari memetik daun-daun anggrek yang layu.

“Aku harap kamu tidak terlalu pengecut untuk berani berkata jujur dengan perasaanmu sendiri.”

Aku masih belum mafhum.

“Aku paham apa perasaan kamu saat teman-teman asik membincangkan soal aku dan Rama.”

Jidatku mengernyit. Pupilku melebar menatapnya. Aku merasa seperti manekin.

“Menurutku itu lucu, karena tanpa mereka ketahui, sebenarnya Rama adalah kakak kandungku sendiri !”
Read More