Blogroll

Topeng Monyet (sebuah cerita pendek)

Desember 29, 2013 |


   “Bukan. Itu bukan, Bapak !” Tegas Tangguh kepada adiknya. Mereka lantas berlari menerobos keramaian itu. Salah seorang dalam keadaan babak belur. Pemandangan tragis itu harus disimpan dalam benak seorang anak seusia Tangguh dan Senja. Langkah-langkah mereka adalah kegetiran yang merindu ketenangan, sebab terik matahari sepertinya telah meluapkan mimpi-mimpi dan harapan. Namun siapa perduli ?

***
            Aku kadang terkagum-kagum, betapa pesatnya kota ini berkembang. Gedung-gedung tinggi, mobil-mobil bagus, dan segala kemewahan-kemewahan lain. Kesenangan-kesenangan dan mimpi-mimpi bertumpu disini. Kadang kota ini juga terlihat seperti kandang macan yang siap mengintimidasi siapa saja yang memasukinya. Aku Gaza. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Komunikasi, program studi perfilman dan broadcasting di salah satu perguruan tinggi swasta cukup terkemuka di kota ini. Beasiswa yang aku peroleh adalah alasan untuk berkata tidak kepada kesempatan yang tersia-siakan; memahami intrik demi intrik kota ini: Jakarta.

  Deadline berita mulai buat aku gila. Aku masih mengotak-atik kamera, mengatur komposisi kepekaan lensa dan diafragma. Setahun bergumul dengan pers kampus, mana hasilnya ? Aku menelan ludah. Beritaku selalu dianggap berat, provokatif, tidak menarik. Menurut pahamku, pendapat itu hanya alasan untuk selalu menempatkan pers mahasiswa dalam zona aman dan manja. Apa guna aku bicara begini ? Tidak ada bedanya dengan kentut di remang senja. Kumasukkan kamera kedalam ransel.

  Aku dijegal rasa gusar. Menatap diri sendiri dengan penuh tanya adalah hal yang boleh dikatata sia-sia. Kuhadapkan muka di depan cermin wastafel. Kubasuh muka yang lusuh itu. Sejurus kugerakkan kaki menyusur lorong demi lorong kampus tua. Aku muak melihat tembok-tembok yang berjelaga, bicara tentang media-media yang selalu mewartakan sosok gubernur sempurna, buruh-buruh yang selalu tuntut kenaikan upah atau artis-artis bunting yang dicerai suaminya, apalagi drama kasus-kasus korupsi yang tak henti-henti. Sebagai obat sementara, seperti biasa, aku gemar melihat matahari terbenam di salah satu sisi Jakarta.

“Mas, Buto Cakil kata biyung itu sosok raksasa jahat, culas dan licik. Aku ngeri membayangkan sosoknya yang begitu seram itu. Dan katanya dia juga tidak suka monyet, makannya aku pelihara monyet. Biar Buto Cakil tidak berani ganggu biyung lagi. Bahkan bapak bisa cari uang dengan monyet ini.” Tangguh bicara dengan nada dramatis. “Oh, biyungmu suka cerita wayang juga ?” Tanyaku penasaran. Sejurus ia menjawab seperti ingin meloncatkan rasa kagum dari kedua bola matanya yang mendelik, “iyo kak, saat di Solo, biyungku itu sinden ! Sekarang tidak lagi. Kata sepuh, biyung kena tulah Buto Cakil. Dia sering kejang-kejang setelah digigit monyet sepulang mentas.” Aku prihatin mendengarnya. “Oh, mungkin rabies kali ? Sudah diperiksakan ke dokter ?” Tangguh lantas menjawabnya dengan muka lesu, “dokter kak ? kemarin sempat dirujuk ke rumah sakit dengan bekal jaminan kesehatan warga miskin, tapi pihak rumah sakit bilang kamar rawat penuh.” Aku merunduk prihatin, lantas bertanya lagi, “mengapa biyungmu bisa digigit monyet ?”

  Aku bertemu Tangguh ketika sedang meliput demonstrasi mahasiswa di bundaran Hotel Indonesia suatu hari. Dia bersama ayah dan adiknya sedang mementaskan topeng monyet di pinggir jalan. Kujadikan mereka sebagai objek liputan hari itu. Sejak saat itu kami menjalin keakraban, terutama dengan Tangguh dan adiknya, Senja. Mereka adalah keluarga baruku selama berada disini. Aku banyak belajar makna hidup dari mereka. Kami biasa menghabiskan waktu sore dengan bercengkerama soal bias matahari yang buru-buru tenggelam dibalik sisi barat gedung-gedung dari atas halte busway bundaran HI.

  Tangguh adalah remaja berusia tujuh belas belas tahun yang boleh dikata dewasa. Dia berhenti sekolah sejak kelas tujuh menengah pertama lantaran harus turut mencari uang untuk membiayai ibunya yang sakit-sakitan. Ayahnya adalah pengamen topeng monyet. Ayahnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan sejak tahu isterinya sakit-sakitan. Tangguh memiliki seorang adik bernama Senja, usianya tujuh tahun. Senja bernasib sama dengan Tangguh, tidak sekolah. Mereka hidup di Jakarta sejak Tangguh berusia sepuluh tahun. Awalnya, mereka pikir Jakarta adalah tempat paling tepat untuk memperbaiki nasib, tapi ternyata Jakarta tidak semudah mereka menduga.

“Biyungku kenal sama gubernur baru sini mas, yang terkenal itu lho ?” Kata Tangguh sambil menaiki sisi pengaman tangga, “iyo, yang suka blusukan itu. Kata biyung, semasa kecil beliau dijuluki Petruk.” Tangguh mengalihkan pembicaraan. Pertanyaanku entah sengaja atau bagaimana, yang jelas tidak ia jawab. “Oh, begitu ya ? Bagaimana Ibumu bisa kenal Pak Joko..” Belum selesai pertanyaan, Tangguh nyerobot, “yo jelas tho mas, biyung itu sahabatnya. Biyung tahu setelah nonton tipi tetangga, dan pak gubernur juga pernah blusukan di kelurahan kami, Penjagalan.” Kami saling diam seketika, memandang bias lelah matahari di ujung barat. Cahaya jingga merona menari-nari diatas gedung kaca, sampaikan salam rindu yang larat. kemudian Tangguh menyambung, “sayangnya beliau tidak kenal biyung lagi. Beliau itu hebat tho mas ? Tapi aku kurang setuju kalau dia musti jadi orang nomor satu negeri ini.” Muka Tangguh berubah muram.

  Kata-kata Tangguh menggema dan memantul pada tiap-tiap gedung yang congkak. Aku menutup hari dengan memotret sesimpul senyum Tangguh yang penuh tanya. “Sampaikan salamku buat bapak dan biyungmu. Semoga Senja lekas sembuh.” Kami berjalan berlawanan arah. Aku terbayang bagaimana sang gubernur berkampanye kemarin dulu dan media-media yang sampai saat ini mencitrakan sosoknya seolah tanpa cacat. Kenapa mesti demikian ? Ternyata orang selugu Tangguh punya pandangan lain tentang kehebatan sosok itu. Sebabnya apa, aku tidak tahu, yang jelas aku satu paham dengannya.

***

  Kata Soe Hok Gie, tiada hal lebih puitis selain bicara soal kebenaran. Kebenaran ? Aku meramu artikel dalam perpustakaan. Ada perasaan sesak melihat buku-buku tua yang seolah bicara kerinduan dirinya terhadap tangan-tangan terpelajar itu. Disudut lain kulihat teman-teman sedang asik mengkopi paste tugas dan laporan praktik dari internet. Padahal acapkali kulihat mereka dengan tangkas bersuara soal kebenaran, kemiskinan, atau apalah. Sayang ketangkasan itu mesti tergadai dengan diplomasi-diplomasi jaman yang mengajari kepraktisan, dan harus berjelaga ketika ujian semester. Lalu apa bedanya dengan tokoh-tokoh negeri yang kini bersarang dalam bui ? Aku merasa ada satu hal yang kian lama kian terkikis dan hilang dalam diri semua orang, sehingga loby-loby yang menjamin keberadaan harta, takhta dan wanita, membuat diri tak tahan: kejujuran.

  Ironis memang. Ada saja alasan untuk mengeluh dan tidak kuliah karena hujan atau jadwal yang terlalu pagi. Padahal ada pula sosok Tangguh dan Senja, yang melangkahkan kaki subuh hari meskipun langit menurunkan deras hujan. Tidak ada pilihan bagi mereka walau sekedar memperoleh sarapan. Demokrasi memang membaik, mahasiswa-mahasiswa makin berani bicara, tapi dengan dalih omong kosong. Lihat saja keributan-keributan yang kadang merusak fasilitas itu. Rasanya peribahasa diam adalah emas boleh berlaku lagi, tapi bukan dalam konteks stagnan terhadap mekanisasi tubuh.

  Aku mulai bosan berada disini dengan terus bertanya-tanya. Aku ingin mencari udara segar. Kulangkahkan kaki keluar dari dalam perpustakaan. Setelah berjalan kaki beberapa jarak, aku naik mikrolet yang penuh sesak dari Slipi Jaya, entah kemana tujuannya ? Memasuki kawasan Pekojan, Jakarta Barat, dari jalan Tubagus Angke terlihat sebuah jembatan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Aku turun dari mikrolet, berharap ada objek bagus disana.

   Jembatan kambing. Aku pernah dengar soal jembatan kambing dari salah seorang teman. Keberadaan jembatan yang dinamakan Jembatan Kambing ini punya sejarah panjang katanya. Karena kambing-kambing yang didatangkan dari berbagai tempat, sebelum disembelih di pejagalan lebih dulu dilewatkan jembatan Kali Angke yang memisahkan Pekojan dan jalan Tubagus Angke. Hingga kini nama Pejagalan merupakan salah satu kampung di Kelurahan Pekojan.

  Jembatan Kambing ini berhadapan dengan Masjid An-Nawir yang dibangun tahun 1760. Pada akhir abad ke-19 masjid ini diperluas oleh Sayid Abdullah Bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus di jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda.

  Ah, aku teringat kata Tangguh kemarin. Rumah keluarganya berada di dekat sini. Aku melihat bangunan-bangunan kumuh berdiri diatas tanggul Kali Angke. Pupil mataku mengecil seketika. Diujung jalan Tubagus Angke teronggok mobil-mobil besar. Beberapa pamongpraja menghancurkan bangunan-bangunan kumuh itu. Beberapa warga menangis pasrah. Aku teringat metode Walter Croncide School of Jurnalist and Telecommunication Arizona State University, metode EDFAT, sebagai pembimbing dalam peliputan yang tepat. Aku ingin mendapat gambar dengan entire, detil, frame, angel dan timming yang bagus terhadap peristiwa disana. Mungkin bisa jadi headline kalau kukirimkan berita ini ke salah satu redaksi surat kabar, mengingat hanya ada beberapa jurnalis saja yang terlihat. Tapi segala teori itu pupus, setelah melihat Tangguh yang menggendong Senja. Disampingnya seorang Ibu yang terlihat renta, dan seorang laki-laki yang menuntun seekor monyet sambil menggendong beberapa perkakas. Mereka berjalan dengan wajah terisak melewati jembatan kambing.

  ***

  Terlalu bengis untuk ini. Kemarin adalah peristiwa memilukan seumur hidup baru kulihat. Kartu tanda penduduk dan berkas-berkas kependudukan lain milik keluarga Tangguh harus hilang dalam peristiwa penggusuran itu. Mereka tidak mendapat kompensasi untuk tinggal di rumah susun yang dijanjikan. Tidak seperti penduduk lain, mereka harus terlempar dan tersudut di kolong jembatan. Mendirikan bangunan seadanya, dan kantong plastik adalah media tanpa pengecualian ketika  buang air besar. Perantara Tuhan untuk membuat mereka tetap bertahan hidup adalah seekor monyet. Monyet seolah-olah pengejawantahan nasib mereka. Hari-hari mereka kini dihabiskan dengan mengamen topeng monyet di jalan-jalan dan sela-sela kota Jakarta, untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan dan menabung agar dapat kembali ke Solo. Perjumpaan kami di sebuah warung nasi adalah yang terakhir kalinya. Sejak saat itu, aku tidak tahu lagi keberadaan mereka. Namun kata-kata Tangguh selalu terngiang,

sayangnya beliau tidak kenal biyung lagi. Beliau itu hebat tho mas ? Tapi aku kurang setuju kalau dia jadi orang nomor satu negeri ini.”

  ***

  Suatu malam yang dingin. Aku berjalan meniti jembatan penyeberangan jalan. Aku melihat di ujung jembatan Senja tertidur di pangkuan Tangguh. Aku mendekati mereka. Tangguh mulai menitikan air mata tentu bukan tanpa sebab. Ia menceritakan biyungnya yang terjerembab di sebuah lubang  yang lembab dan gelap. “Saat kami sedang menumpang mandi di pemandian umum Pintu Seng,” Tangguh berbicara dengan pilu, “aku dan Senja sedang asyik diguyuri air oleh bapak. Keriangan itu terampas ketika terdengar seperti ada benda terjatuh ke dalam sumur. Kami terkejut melihat biyung tidak ada di tempat,” Tangguh terdiam dan air matanya bercucuran, tangisnya tak terbendung lagi. Dengan terbata-bata Tangguh melanjutkan, “awalnya kami pikir biyung jatuh ke dalam sumur. Dan ternyata benar,” aku mendekati  Tangguh dan mengelus pundaknya untuk sekedar menenangkan, “biyung meninggal !” Air mataku meleleh. “Bapak kalian sekarang dimana ?” Tanyaku. Tangguh menggelengkan kepala. “Yasudah, sekarang kalian tidur di tempat kost mas saja ya ? Sini biar mas yang gendong Senja.” Kami berjalan membelah dingin dan gemerlap malam Jakarta.

  Tiba di kost. Tangguh langsung mengambrukkan diri diatas sofa. Senja aku baringkan di kasur. Kupandangi sejenak Tangguh dan Senja yang tertidur lelap. Ada perasaan sayang yang dalam kepada mereka. Kegetiran mereka sangat melebihi daripada apa yang selama ini aku keluhkan. Sekejam inikah kehidupan ?

***


            Hari telah terik. Hari ini aku tidak ada kelas. Senin yang riang bagi senyum Senja. “Mas Tangguh, kita dimana ?” Tangguh tersenyum dan menjawab, “kita ada di kost mas Gaza.” Senja tersenyum dan melihatku yang sedang mengotak-atik kamera. “Sini kalian mas foto dulu ya.. satu.. dua.. tigaa..” Senja lantas mendekatiku. “Wah bagus fotonya mas. Senja manis ya kalau sedang senyum ?” Aku melihat kepedihan yang tersembunyi dibalik kepolosan mata Senja. Ya Tuhan, aku ingin membuat mereka selalu tersenyum.

“Mas Gaza, kamera itu pasti mahal ya ? Boleh Senja pinjam ?”

“Hust, ngawur. Jangan nanti rusak.” Cegah Tangguh.

Aku menjawab dengan sesimpul senyum, “ini punya kampus. Mas dikasih pinjam buat cari berita. Senja boleh pinjam asal jangan dibanting ya ?”

“Siap mas. Wah mas Gaza ini ternyata wartawan tho.”

“Masih wartawan kampus khok, Senja. Senja tau apa itu wartawan ?”

“Hmm.. Wartawan itu yang suka foto-foto orang demo dan pak gubernur kalo lagi blusukan mas ! Hehehe” 

“Pernah tidak tulisan mas dimuat di media ? Misalnya koran gitu ?” Sejurus tanya Tangguh penasaran.

“Belum. Waktu itu pernah mas coba kirim berita soal imbas penggusuran yang membuat kalian tidur di kolong jembatan, dan membuat artikel tentang kebijakan pemerintah mengenai biyungmu yang ditolak dari rumah sakit tanpa alasan yang adil. Menurut mas, pemerintah mestinya tahu dan bertanggung jawab.”

Dahi Tangguh mengernyit. Senja masih asik memainkan kamera.

“Tapi tulisan mas ditolak mentah-mentah. Bahkan sampai-sampai mereka bilang mau menuntut mas. Sejak saat itu mas tidak lagi percaya dengan yang namanya media, entah itu televisi atau surat kabar.”

“Wah musti mereka nerima berita tentang pemerintah yang baik-baik saja tho mas ?”

“Mungkin.”

“Balik lagi ke jaman orde baru dong mas ?”

“Orde baru ?”

  Tangguh bukan hanya sosok tangguh dibalik tubuhnya yang bidang dengan urat-urat yang menyembul pada lengan. Dibalik legam kulit dan rambutnya yang lusuh, terdapat sorot kecerdasan dari kedua bola matanya. Ternyata, Tangguh suka membaca koran-koran bekas dan meminjam buku-buku di taman bacaan masyarakat atau perpustakaan keliling pemerintah saat rumahnya masih diatas tanggul kali Angke. Tangguh mulai bercerita tentang apa yang ia tahu sebagai pembicaraan ringan sambil menyantap gorengan ubi, tapi aku memperhatikan dengan serius.

“Dalam budaya jawa ada kepercayaan bahwa pemimpin bangsa atau presiden Indonesia setelah ini adalah sosok pemimpin ‘Cakil’. Presiden sendiri dipercaya sebagai akhir dari siklus noto nogoro yang berakhir dengan goro-goro atau kerusuhan atau revolusi hebat di Indonesia,”

“pada Budaya Jawa dalam kisah yang lain, pak gubernur juga dianalogikan sebagai sosok Petruk. Kebetulan yang tepat kalau biyung dulu panggil dia Petruk. Terutama dalam kisah ‘Petruk Dadi Ratu’. Cakil dalam budaya Jawa dianggap sosok yang jahat, culas, licik namun mampu berkuasa karena kehebatannya. Namun kekuasaanya hanya sebentar,”

“ada juga yang menganggap Presiden kita lah sebagai cakil itu. Ketika awal berkuasa, bencana muncul di mana-mana di seluruh Indonesia, hampir setiap saat terjadi bencana. Lepas dari banyak gempa bumi, disusul dengan gempa politik,”

“sebagian lagi masyarakat Jawa percaya bahwa bencana yang timbul hanyalah baru awal dari bencana sesungguhnya yang ditimbulkan oleh Cakil. Sosok cakil itu adalah Pak Gubernur. Si Petruk Yang Pengen jadi Raja. Pak gubernur yang culas, licik, ambisius namun mampu mengelabui rakyatnya. Dia tampil seolah-olah sempurna. Kemarin blusukan dan ramah kepada rakyat, esok hari rumah warga digusur. Janji atasi banjir dan macet pun luntur.”

“Meski Cakil itu hebat, culas dan jahat. Namun dia punya kelemahan yaitu akan sial jika melihat monyet. Ya. Sial jika melihat monyet. Monyet menjadi mahluk yang sangat mengganggu dan menakutkan bagi Cakil. Rencananya akan gagal jika ada monyet di depan mata. Maka, sebelum Cakil itu menjalankan rencananya menjadi penguasa Indonesia, semua monyet harus dibasmi, dibuang jauh-jauh. Tidak ada jalan lain, semua monyet harus disingkirkan. “

“Pak gubernur kabarnya sangat ingin jadi orang nomor satu di republik ini,” potongku. Pembicaraan ringan berubah menjadi diskusi serius. Aku lantas menyambung,

“meski betul dia seorang kapitalis liberalis yang menjadi musuh soekarnois dan marhaenis, tapi rakyatnya tidak tahu. Cakil dengan dukungan para konglomerat hitam indonesia dan 87 persen media bayaran yang dibayar mahal untuk pencitraannya, mampu menipu rakyat Indonesia. Rakyat kecil tertipu. Marhaenis dan soekarnois terperdaya, seolah-olah melihat sosok Cakil sebagai penerus jiwa dan semangat Bung Karno. Luar biasa. Cakil yakin akan bisa berkuasa. Uang, media, dukungan cukong-cukong dan agen-agen asing ada padanya. Dia pasti menang jika monyet-monyet disingkirkan. Bukan begitu, Tangguh ?”

Tangguh menganggukkan kepala, Senja masih sibuk dengan kameranya. Tangguh lantas menyambung, “jika monyet-monyet pembawa sial Sang Cakil sudah disingkirkan, maka jalan Cakil untuk berkuasa terbuka lebar. Cakil tak akan terhentikan. Namun cakil hanya berkuasa sebentar. Hanya sebentar sekali. Goro-goro akan meledak. Muncul banyak sebab dan sumbernya. Indonesia kena bencana. Namun, bencana besar dan goro-goro itu adalah keniscayaan. Sudah jadi suratan takdir yang tercatat di buku saku para dewa di khayangan sana. Goro-goro dan bencana yang nanti terjadi adalah prasayarat bagi Indonesia untuk kembali bangkit menuju kejayaan dan kemakmuran bangsa,”

“republik ini akan menghadapi kerusuhan besar. Namun sebelumnya pemimpin yg sekarang akan turun telanjang, penuh malu. Presiden yang sekarang akan mengakhiri masa jabatannya dengan penuh aib di sekelilingnya yang satu per satu dibukakan Allah. Dan kalau kita cermati, memang begitulah adanya. Satu per satu aib presiden terbuka.” Sambungnya.

Aku nyeletuk dengan semangat. “Dan ketika rakyat tersadar bahwa cakil itu adalah durjana yang menyamar jadi arjuna, maka rakyat akan marah semarah-marahnya menciptkan angkara murka. Meledaklah goro-goro, kerusuhan hebat, huru hara. Bencana besar yang ditimbulkan bukan oleh alam, tapi dari manusia, dari rakyat indonesia sendiri. Lalu siapakah cakil itu?” Tanyaku penasaran.

Tangguh menjawab dengan yakin, “Cakil itu adalah Sang Petruk yang menjadi Cakil ketika takdirnya sebagai Petruk dia ingkari dan tetap ngotot menjadi Raja. Jika Petruk sadar, maka cakil akan menghilang dari jiwanya, tapi jika Petruk tetap ngotot, maka roh jahat cakil bersemayam dalam jiwanya !”

  Diskusi selesai, diakhriri dengan riang canda tawa. Senyum penuh tanya Tangguh kemarin dulu yang aku potret telah memberikan jawaban. Aku lantas menyalakan televisi, memastikan sandiwara apa yang sedang dipaparkan media. Benar saja, Sang Gubernur merazia monyet-monyet dari ibu kota. Menurutnya monyet-monyet perlu dilindungi. Mempekerjakan monyet dianggapnya tidak ber-peri-kehewanan. Kenapa tidak anak-anak seperti Tangguh dan Senja saja yang dilindungi ? Ada apa ini ?

  Tangguh terkejut melihat gambar bapaknya dalam siaran langsung berita tersebut. Bapaknya dengan muka tidak berdosa menghadap kamera lalu berkata, “Tangguh dan Senja. Sebentar lagi bapak pulang bawa martabak..”  Gambar tersebut langsung terpotong jeda pariwara. Kami lantas bergegas untuk menuju lokasi. Agaknya aku tahu lokasi pemaparan berita tadi. “Ayo kita segera kesana buat ketemu bapak kalian.”

  ***

  Tiba di lokasi, nampak pamong praja yang berjaga-jaga dan beberapa wartawan yang sedang entah merembukkan apa. Kami tidak menemukan yang kami cari. Kami bertanya kepada beberapa orang bahwa pemilik monyet-monyet dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Ketika hendak bergegas menuju kantor polisi, diseberang jalan terjadi keributan. Terdengar jeritan seorang wanita, “iya.. dia jambretnya.. bakar saja...” Aku lantas bergegas untuk melihat. “Kalian tunggu disini.” Kataku sambil memegang pundak Senja. Tangguh terlihat menanyakan sesuatu pada seseorang yang melewatinya, sayup-sayup terdengar olehku, “tadi ada orang setengah gila yang coba jambret tasi ibu itu. Orang-orang langsung menghajar dia.” Tanpa berpikir panjang, tangguh berlari menuju keramaian sambil berteriak,

“bapaaaaaak !!!”

  Senja sembari terisak berlari mengejar kakaknya. Beberapa pamong praja juga bergegas untuk menghentikan aksi orang-orang yang main hakim sendiri. Wartawan-wartawan lantas sibuk mengambil gambar. Aku berlari mengikuti arah Tangguh dan Senja. Senja menangis dan meneriakkan nama bapaknya. Tangguh membelah keramaian, betapa ia sangat terkejut sekaligus heran dengan apa yang ia lihat.

“Bukan. Itu bukan, bapak !” Tegas Tangguh kepada adiknya. Mereka lantas berlari menjauhi keramaian itu. Salah seorang kulihat dalam keadaan babak belur. Pemandangan tragis itu harus disimpan dalam benak seorang anak seusia Tangguh dan Senja. Aku sangat lega ternyata yang dihajar massa itu bukan bapak mereka.

            Kami lantas menuju kantor polisi dengan harapan menemukan bapak Tangguh dan Senja disana. Di ujung jalan, terlihat massa buruh yang berkonvoi dan meneriakkan tuntutan kenaikan upah, ironis sekali. Kami melawan arus tersebut dengan berlari untuk segera menuju kantor polisi. Tiba di kantor polisi. Seorang laki-laki dengan rambut ikal keluar dari dalam kantor polisi. Tubuh kurusnya seperti terbakar terik matahari. Dia melangkah gontai. Pakaiannya yang menyisakan ruang terombang-ambing oleh angin. Tangan kanannya memegangi pelipis. Alisnya beradu dan tatapan matanya sendu. Sejurus tubuhnya ambruk menghujam tanah. Tangguh dan Senja berlari menghampiri laki-laki itu sambil terisak dan dan berteriak sejadi-jadinya,

            “BAPAAAAAAAAAAAAAAK !!!” 



  Purwokerto, 13 November 2013.

Read More

Telfon dari Ibu (sebuah cerita pendek FTS)

Desember 29, 2013 |



            Aku hanya melirik sebal kepada telfon genggam yang berdering di sudut meja belajar. Seketika perhatianku kembali tertuju pada monitor laptop yang menampilkan serangkaian data-data statistik. Telfon genggam berhenti menyalak. Kuseruput kopi hitam perlahan. Aku suka sekali kopi hitam. Selain efek kafein membuat mata terjaga lebih lama, kopi hitam juga sangat pas untuk metaforakan kepahitan hidup. Telfon kembali berdering. Kulihat ada sepuluh panggilan tak terjawab. Oh, Bu, kali ini saja ya. Anakmu harus menyelesaikan tugas dan laporan praktikum yang menumpuk. Sejurus kumatikan telfon.

            Itu mulai membuatku jenuh. Mengolah serangkaian data pada sebuah software kemudian membahasnya dengan sistem bahasa yang kaku. Kopi dalam gelas sudah tinggal ampas. Aku memaksa kuat meski badan terasa lemas. Tak terasa hari sudah sangat larut. Kedua bola  mataku belum juga mengerucut. Kurebahkan tubuhku diatas dipan dengan tangan menegadah. Pandanganku menelusur  langit-langit kamar kos yang sempit, dan terhenti pada sebingkai foto yang membalut wajah ibu. Ah, Ibu. Sejurus aku larut dalam kenangan masa lalu.

            Saat itu aku berumur tujuh tahun. Perang berkecamuk di dusun Bondan dan Gunungsari akibat soal sepele, pemuda berebut joget diatas panggung orkes. Aku sedang lahap menyantap nasi jamblang dengan ibu di teras rumah di temani rembulan yang bundar. Seketika penduduk dusun berlarian sembari memukuli kentungan tanda bahaya. Ibu lantas menggendongku. Di ujung jalan kulihat api berkobar-kobar. Beberapa pemuda saling tonjok dan bacok. Ibu berlari tergesa. Ditutupnya kepalaku dengan kain. Aku menangis ketakutan.

Kuintip disela kain, gelap. Sesekali samar terlihat pohon-pohon jati berdiri tegap dalam remang. Setelah itu penduduk terhenti dari lari. Aku sangat ketakutan, hingga tak tahan, akhirnya buang hajat sembarang. Kulihat senyum ibu yang dibias cahaya rembulan. Ibu menyeboki aku dengan daun seadanya. Lalu teduh suaranya membelah malam, mecoba menghapus rasa takutku,

“jangan takut, ada ibu disini.”



            Aku selalu semangat untuk sekolah, tidak perduli sekalipun tanpa uang saku dan jarak yang jauh. Hari itu aku mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat di kecamatan. Aku hanya dibekali air putih oleh ibu. Aku memang tidak berhasil merebut gelar juara. Namun ada hal yang lebih berharga dari itu. Ibu datang jauh-jauh dari rumah membawakanku sepotong roti. Lantas kami duduk dibawah teduh pohon beringin. Kumakan roti dengan lahap. Kulirik ibu. Alisku beradu melihat ibu yang menelan ludah. Agaknya ibu tahu apa yang ada dalam pikiranku,

“ibu tadi sudah makan sebagian.” Itu adalah kebohongan tertulus yang pernah aku tahu.

Bayanganku beralih pada slide-slide peristiwa pilu lain. Pernah suatu ketika, muak memuncak dalam benak ibu terhadap kebiasaan mabuk bapak, dihadapan bapak ibu meminum arak. Atau ibu yang menceriterakan pengalamannya menjadi TKW. Banyak TKW Indonsia tidak diperlakukan secara manusiawi di kantor kedutaan. Atau tentang masa kecilnya yang harus berbagi sebutir nasi dengan penggembala kambing. Itu sangat membekas sekali.

            Saat aku SMP ibu selalu menghadap sekalipun diperlakukan tak pantas oleh staf tata usaha. “Kalau mau dapat kartu ujian, ibu harus lunasi tunggakannya. Kalau tak punya biaya, tidak usah sekolahkan anak.” Tapi ibu terlalu tak tega melihat anaknya yang nakal ini harus menggadaikan waktu mengerjakan soal ujian. Segala usaha dia kerahkan untuk itu. Aku kadang menyalahkan ibu dalam situasi ini. Kadang timbul pertanyaan dalam benak, mengapa aku dilahrikan olehmu untuk susah begini ? Tapi semua luruh. Setelah aku masuk ruang ujian dan melihat langkah beliau dari sela-sela jendela. Aku tidak tahan untuk tidak menangis. 

            Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak lagi mengecewakan beliau. Kusisihkan waktu luang untuk membersihkan masjid SMA supaya dibebaskan biaya SPP dan tidak lagi terkendala kartu saat ujian sehingga ibu kembali jadi korban. Sangat kunikmati ketika menyikat WC masjid yang kotor akibat kebiasaan siswa yang jorok itu. Ibu juga menyikat WC saat jadi TKW, pikirku. Aku juga belajar segiat mungkin. Hingga akhirnya aku berkesempatan untuk medapat beasiswa S1.

Ibu sangat tahu apa yang aku inginkan. Hingga aku harus merelakan ibu yang kembali mempekerjakan dirinya di rantau nun jauh untuk membiayai awal kuliahku. Namun lebih dari itu, yang membuatku bahagia adalah; atas kebaikan majikan ibu berkesempatan naik haji. Betapa tangisnya membuatku tergetar, ketika suatu waktu dalam sambungan telfon ibu mendeskripsikan Ka’bah.

Sejauh ini ibu telah membawaku. Kepahitan demi kepahitan hidup telah kami lalui dengan baik.  Aku semakin sadar atas peranku yang telah susah payah dilahirkan oleh ibu. Tidak terasa air mataku mengaliri pelipis yang peluh. Kuusap debu yang menyelimuti bingkai foto ibu. Kutatap wajahnya yang dulu kencang, kini mulai berkeriput. Ya Tuhan, seangkuh inikah aku ? Bahkan aku yang belum menjadi apa-apa ini harus mementingkan tugas-tugas dan laporan kuliah daripada telfon dari ibu.

Kunyalakan telfon genggamku. Aku segan untuk menelfon ibu. Beliau pasti sudah tidur. Tapi kemudian telfonku berdering dan tertera nama ibu di layar. Kuangkat telfon dari ibu.

“Ibu belum tidur ?” Air mataku mengembang. Kemudian kudengar suaranya yang lemah dan serak.

“Belum. Ibu kangen, nak. Kamu sudah makan ?” Hati mana yang tahan untuk tak menangis ?

“Kamu menangis ? Jangan menangis, ibu ada disini.” Sambung ibu.

“Ibu Cuma mau bilang satu hal sama kamu.”

“Iya, Bu. Apa ?” Jawabku parau.

“Selamat ulang tahun ya. Ibu sayang kamu.”
Read More

Emak dan Sandal Baru (sebuah cerita pendek FTS)

Desember 29, 2013 |



Purwokerto, 7 Agustus 2013

Hanya petak berukuran tiga kali dua setengah meter. Itu pun berdiri diatas tanggul sungai Cimanuk, jelas bukan tanah sendiri. Aku kadang menyangsikan harus bernyaman ria dalam kamar kost yang bertembok dan berkeramik. Hujan turun deras di Terminal Purwokerto. Gelegar-gelegar terdengar keras mengalahkan deru mesin mobil yang baru saja dinyalakan. Aku disudutkan oleh rasa yang berkecamuk dalam dada. Sebuah nada simpatik datang dari dalam jiwa, menggelayuti relung-relung kosong itu. Adakah hal yang lebih buruk daripada lari dari kenyataan ? Jika ada, akulah adanya.

Keputusan emak kadang terkesan semau sendiri. Kiranya lebih baik dari bapak yang gemar tak acuh. Emak menawar bekas warung di tanggul kali dengan raut yang mengharap simpatik kepada bibi. Tapi bibi yang masih saudara itu tetap kasih harga tinggi. Dia hanya beri kebijakan agar emak melunasinya dengan diangsur. Tentu emak biasa dengan sukurnya. Emak pulang lantas menyuruh bapak untuk mengemasi barang-barang. Bapak tetap dengan dengkurnya. Aku masih sembunyi dibalik bantal ketika emak membangunkan bapak  dengan bentakkan dahsyat. Emak menghampiriku. Kemudian berkata lirih,

“sebenarnya emak sudah capek. “

Aku masih rikuh dengan keadaan ini. Ingin rasanya memarahi Tuhan yang telah demikian hebat memberikan persoalan. Kudengar emak mulai terisak. Aku pun demikian. Rasanya mimpi yang telah dibangun selama satu semester runtuh tak berbekas. Kuliah tidak lagi ada harganya. Harapan itu hanya sekecil debu. Aku ingin sekali membawa mereka lari sejauh-jauhnya dari kehidupan yang pelik ini. Aku keluar dari persembunyian dengan katup mata yang bengkak.

            “Baiknya aku berhenti kuliah saja, mak ! Biar bisa kerja dan segera dapat uang banyak ! Aku juga capek. Memangnya kuliah gampang ?! Apalagi dengan pikiran yang terus-terusan dibebani masalah rumah yang tidak habis-habis !” Jawabku berusaha terkesan tegas. Tapi pelupuk mata yang hendak membuncahkan setampung air mata itu tidak terbantahkan. Kemudian hanya detik-detik kosong dalam diam. Emak menggeser duduknya, membalik badan, dan membelakangiku. Setelahnya hanya tangis yang berat. Tangis paling berat yang pernah kudengar. Parunya seperti tercekat, terlihat jelas dari garis-garis tulang rusuk yang tergambar pada baju lusuh itu. Aku seperti tersambar rasa bersalah yang teramat. Emak dengan terisak dan terbata-bata menanggapi permintaanku tadi,

            “kamu harapan emak satu-satunya. Maafkan emak kalau keadaan ini menyusahkanmu, mengacaukan pikiranmu. Emak tidak bermaksud melibatkanmu dalam keadaan seperti ini. Emak minta maaf, nak.”

Tangisnya terhenti. Hanya gerak pundaknya saja yang berbicara kalau tangis emak sudah tidak bisa lagi dikatakan mewakili kepiluan. Aku masih dikuasai amarah. Seolah yang patut dipersalahkan dari semua ini adalah emak.

“Mak. Kita mau buang hajat dimana kalau tinggal di gubug itu ?”

Emak terdiam.

“Kita mau sehina apa tinggal disana ? Bahkan kandang kerbau masih lebih bagus dari gubug itu !”

Emak menatapku. Matanya berkaca-kaca. Tidak menyangka akan didengarnya kata-kata yang menyakitkan hatinya itu. Amarahku berkurang saat melihat kening emak mengernyit, kedua lapis bibirnya saling pagut, dan air mata itu kembali meleleh.

“Emak tidak mau gara-gara emak masa depan kamu jadi berantakan. Nita nanti emak titipkan sama Uwa. Kamu belajar yang rajin di Purwokerto. Biar emak saja yang tinggal di gubug itu. Maafkan emak sudah menyusahkan kamu sejauh ini.”

Ragaku seperti dihantam panas batu-batu kalsit, meleleh tak berbekas. Merasa kehadiranku di dunia ini tidak lebih dari sampah. Seketika memori-memori masa lalu terbayang kembali.

Betapa pedihnya ketika ditinggal emak bekerja di negeri nun jauh. Ketika itu aku kelas satu SMP. Aku dititipkan di rumah saudara bapak. Adik ku di Jakarta dengan Uwa. Sedangkan kakak ku entah dimana, begitu juga dengan bapak. Hari itu malam lebaran. Semua orang sibuk dengan kegembiraan masing-masing; kedatangan sanak famili, menyalakan kembang api, menyantap makanan khas lebaran, dan menjajal pakaian baru. Sedangkan aku tersudut di ruang belakang. Bau kamar mandi menyerukan nasibku yang sengak. Aku ingat dua tahun lalu masih bisa melihat senyum Nita yang girang dibelikan emak sandal baru. Sandal itu masih kusimpan di lemari pakaian. Kuambil sandal itu, sisi-sisinya sudah bopeng, apitnya sudah putus. Kupandangi  sandal Nita. Aku rindu sekali dengan emak dan Nita. Suara takbir membuat hati demikian lirih, membawaku dalam ratap yang tak terperi. Suara uwa Wasturi membuyarkan lamunanku. Aku segera mengusap pipi ku yang dibasahi air mata.

“Nak. Bantu-bantu sedikit uwa kerja ! Jangan enak makannya saja !”

“Sebentar, wa. Dari pagi saya belum istirahat.”

“Baru disuruh angkut-angkut kayu sedikit sudah punya alasan ! Kamu pikir tinggal disini bisa sepenak wudelmu ?”

“Baik, wa. Maaf.”

            Saat baru lulus SD dulu. Aku marah besar ketika emak menggadaikan televisi 14 inci, satu-satunya benda berharga di rumah kontrakan kami. Nita yang masih berumur tiga tahun hanya ikut menangis ketika sumber hiburan satu-satunya itu tidak ada lagi di dalam rumahnya. Aku juga masih belum bisa mengerti maksud emak berlaku demikian. Namun perkataannya di sudut selasar sekolah SMP Negeri Jatibarang seminggu setelah kajadian itu, sangat membekas sekali dalam ingatanku,

            “Kamu diterima di sekolah negeri nak. Bismillah. Kamu pasti bisa sekolah duwur. Sebagai hadiah nanti emak belikan sandal baru di Pasar Rebo.”

Aku akhirnya lulus SMP. Kemudian lanjut SMA berkat emak yang berjuang mati-matian di rantau orang. Aku semakin menyadari peran emak. Sejak saat itu tidak ada lagi alasan untuk mengecewakan beliau. Aku turut berusaha walau tidak sebanding dengan usaha emak, sedikitnya bisa meringankan beban. Aku lulus SMA dan berkesempatan untuk melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi melalui program beasiswa pemerintah. Satu-satunya hal yang membuatku segan terhadap pemerintah adalah program beasiswa ini. Selebihnya tidak. Mengapa demikian ? Nanti aku ceritakan.

            Aku menghampiri emak yang masih dengan kepedihannya. Aku merasa sangat bersalah. Aku peluk beliau dengan ratapan memohon maaf. Emak menangis dan menguatkanku. Padahal seharunya posisi emak lah yang butuh untuk dikuatkan. Anak macam apa aku ini ?

            “Kamu harapan emak. Harapan Nita. Jangan ada niatan lagi ya buat berhenti kuliah ? Maafkan emak, nak.”

Aku hanya bisa memeluknya dengan erat. Nita datang bergabung dengan kesedihan yang larut ini. Tidak. Ini tidak patut disebut kesedihan. Aku seperti tersulut oleh rasa yang lain. Bapak kemudian bangun dari tidurnya dan dengan sigap mengemasi barang-barang. Kami lantas pindah dari rumah kontrakan itu menuju gubug terpencil disudut tanggul sungai Cimanuk.

            Aku hanya tersenyum melihat Nita yang sangat bersemangat merapihkan barang-barang di rumah barunya yang berukuran tiga kali dua setengah meter ini. Emak menyiapkan makan. Bapak sedang membetulkan genting yang hendak lepas dari sanggahannya.  Aku membaca koran terbitan dua hari yang lalu, dipenuhi dengan berita korupsi, kebohongan publik terhadap citra seorang tokoh, dan kemiskinan yang melanda di perbatasan negeri. Ironis sekali.  Pak Kades kebetulan melintas dengan motor dinasnya, lantas menghampiri kami.

            “Wah warga saya balik maning kemari. Tenang saja, tinggal lah disini untuk beberapa tahun selama belum ada program perbaikan tanggul.” Aku menjawab keramahan beliau, “terimakasih Pak Kades.” Dia hanya tersenyum dan menyambung, “pak Narto, kalau butuh terpal bekas ambil saja di gubung Mang Dimplong. Nanti biar saya yang ngomong sama dia, dan  biar dia saya belikan yang baru.” Bapak tidak menanggapi. Suara tawa Pak Kades pecah disusul deru motornya yang meraung-raung. Motornya memasuki halaman rumah, sekitar 15 meter dari rumahku. Yang aku tahu disitu tempat bandar judi mesin. Aku jelas kecewa dengan perkataan Pak Kades barusan. Kenapa yang baru tidak dikasihkan saja sama kami, dan tidak perlu menyuruh kami untuk mencuri barang milik orang ?! Kataku dalam hati. Memang demikian kalau Kades yang nongkrongnya di tempat bar-bar. Dendam mulai membatu.

            Setelah rumah beres, aku meminta ijin untuk menghadiri audiensi dengan Bupati di pendopo pusat kota. Kusarankan agar emak menulis curahan hatinya sebagai aspirasi untuk sang Bupati. Emak lantas membuat sepucuk surat. Audiensi diisi dengan isu-isu politis yang bikin aku muak. Terlihat sekali Bupati yang didampingi suaminya itu mengada-ngada. Entahlah, itu hanya pandanganku terhadap mereka. Audiansi ditutup dengan kampanye. Kampanye hitam tepatnya. Surat emak memang ditanggapi, tapi sampai detik ini kata “di-tindak-lanjuti” seperti berjelaga dalam bangsal arsip yang berdebu. Satu lagi rasa ketidak-percayaanku terhadap seorang pemimpin terbukti dan tertegaskan. Dendam yang membatu lalu turun ke dasar hati.

             Malam pertama di gubung tanpa cahaya lampu. Hanya lilin dan riuh nyamuk-nyamuk ramai membicarakan keburukan nasib kami. Aku acuh dengan mereka. Aku tidak bisa tidur. Dari kegelapan ujung utara gang, datang seorang mantan perwira berpangkat menghampiriku. Aku tidak begitu kenal, tapi sering lihat beliau. Berbeda sekali ketika dulu aku melihatnya segar bugar. Dulu, menyapa pun tidak, aku hanya tahu beliau adalah perwira berpangkat. Sekarang seluruh rambutnya hampir memutih. Dia berjalan agak invalid, bibirnya menyon, jelas mencirikan orang terkena strooke. Dia duduk disampingku dan mulai bercerita panjang lebar. Mulai saat dulu pengalamannya sebagai komandan tertinggi di resimen mahasiswa hingga terkucilkan sesaat setelah terkena strooke. Aksennya yang keluar dari getaran lidah dan mulut yang terpelintir itu butuh waktu untuk bisa dipahami.

            “Dulu. Aku ini disegani. Makan daging anjing tiap malam sebelum tembak mati bromocorah di toang-toang jalan.”

Dia bercerita sampai adzan subuh berkumandang. Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Beliau sahabat baruku disini untuk memetaforakan sejenak pahit kenyataan. Banyak pelajaran yang aku dapat dari cerita-ceritanya.

            Indramayu, 7 Agustus 2013

Bus melaju dengan perlahan. Aku sampai. Terlihat jelas bias lampu-lampu kuning jalan yang mengerucut. Gema takbir mengudara di setiap pori atmosfer Indramayu. Kembang api menyala-nyala menerangi langit. Konstelasi-konstelasi bintang demikian riang membicarakan malam yang besar menjelang Idul Fietri. Aku terkagum-kagum dari atas becak melihat arak-arakan. Ribuan masyarakat tumpah ruah memenuhi jalan sisi barat sungai Sindupraja. Becak memasuki gang Prakawayat. Diujung gang sana, gubug kecil terlihat hiruk-pikuk dengan cahaya lampu dan segala rupa jajanan warung. Emak terlihat sibuk melayani pembeli. Nita sedang menyalakan mercon dengan Djovan, anak kakak ku. Bapak mondar-mandir, agaknya menjinjing beras fitrah, langkahnya menuju pesantren Al-Fauzi. Aku putuskan untuk turun dari becak. Sang perwira berpangkat yang biasa aku panggil “Ayah” terlihat keluar dari markasnya dan menghampiriku.

“Jagoan ! Gimana IPK semester ini ?” Aksennya masih sama, tidak jelas. Tapi aku paham.

“Lapor komandan ! IPK semester ini aman !” Jawabku sambil memperlihatkan sikap sempurna, kemudian hormat. Kami lantas tertawa terbahak-bahak.

Aku teruskan langkah menuju rumah. Betapa emak telah membawaku sedemikian jauh. Menyisipkan ketegaran dalam diriku untuk melewati krisis demi krisis hidup ini. Membuatku mampu melihat kedamaian dalam segala keterbatasan. Membuatku yakin bahwa roda nasib memang berputar. Nita dengan girangnya menghampiriku. Bapak tersenyum melihatku. Kakak ku mencoba menangkap Djovan yang dengan lincahnya berlari menghampiriku. Ibuku segera menuju serambi rumah dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian suara seraknya terdengar keras,

“nak, emak sudah belikan kamu sandal baru !”


Purwokerto, 22 Desember 2013
03.00 WIB
Selamat Hari Ibu
Read More

BIOSKOP (sebuah cerita pendek FTS)

Desember 29, 2013 |




Waktu kecil aku selalu memikirkan kaktus yang bersahabat dengan gurun-gurun. Atau daun-daun jati yang berguguran saat kemarau mengepung dusun. Saat itu aku tidak pernah memikirkan bahwa tanpa tanaman, kehidupan ini tidak ada. Namun kali ini aku sedang terlibat dengan sepucuk daun waru tua yang melayang-layang di udara lengang. Daun itu  terhempas diatas air yang tenang. Seketika kelengangan itu teratasi oleh bunyi dentum daun yang beradu dengan air. Dentum yang mencipta lingkar-lingkar longitudinal itu menyeruak dan menyeru kepada kami untuk segera menyusul. Aku menatap Ario dengan sesimpul senyum. Aku yakin dia punya pemikiran sama soal ajakan daun  tadi. Lantas kami menjawabnya dalam satu detik saling pandang, penuh kepastian. Buuuuuuuurrrr ! Badan kurus kami membelah ketenangan Cimanuk. Kulihat di timur matahari genit mengintip kami. Burung-burung terbang dengan riang. Langit jingga menudungi hiruk-pikuk kota Jatibarang. Episode baru dimulai.

“Gila lo ! Dingin banget !” Ario berkata terbata dengan gigi-gigi saling gemeletuk.

“Ah, kampret. Sungai cemar gini lo bilang dingin ? Makan tuh E. Colli !”

“Masih pagi, kampret. Nggak usah sebut istilah sok tahu dulu. Jam berapa lo berangkat ke Purwokerto ?” Tanya Ario dengan nada yang sama.

“Busnya sekitar jam setengah sepuluhan lah.” Jawabku pasti.

“Jangan berangkat sebelum dapet restu gue !”

“Sinting !” Setelah itu kami larut dalam tawa.

            Namanya Ario Senno. Entah angin apa yang membawaku untuk kenal dengan manusia super idiot itu. Waktu kelas sepuluh aku pernah mendengar namanya sering disebut-sebut oleh teman perempuan satu kelas.  Naik kelas sebelas aku mulai tahu rupanya saat wali kelas mengabsen. Apa spesialnya ? Pikirku saat pertama melihat dia. Dia satu kelas. Waktu itu pelajaran biologi. Guru membuka pelajaran dengan memberikan pertanyaan apa itu definisi sel. Sel ? Anak SD juga tahu ! Aku lantas mengangkat tangan dan entah karena kebetulan secara bersamaan manusia ajaib itu ikut angkat tangan. Aku melihat binar-binar matanya penuh dengan kepastian akan sebuah jawaban. Namun aku lebih dulu menjawab.

            “Sel adalah unit terkecil dari kehidupan.” Kataku mantap.

            “Ya. Benar. Ario mau menambahkan ?”

            “Nggak, Bu. Saya kepingin ijin pipis ! Hehe.” Penuh kepastian !

            Bel istirahat berbunyi. Aku sibuk dengan rasa laparku. Kuputuskan untuk berdiam diri di dalam kelas. Manusia idiot itu datang menghampiriku.

            “Sejak kapan sel jadi unit terkecil ? Sok tahu lo !” Kata-katanya meluncur deras. Aku hanya meliriknya sesaat. Dia kembali menyambung, “unit terkecil itu atom. Seperti kata Rutherford, Niels Bohr dan kawan-kawan.” Alisku beradu. Kalau begitu masih ada proton, neutron dan elektron di dalam atom, kataku dalam hati. Dia duduk di sebelahku sambil meletakkan jinjingan plastik, lantas bertanya lagi, “nama lo siapa ?”  Aku menjawab dengan suara tergetar menahan lapar. “Vaza.” Dia lantas menutup rapat hidungnya dengan kedua jari. “Anjrit. Mulut lo bau banget ! Pasti lo belum makan ?!” Sesimpul senyum menahan malu kulemparkan padanya. Kemudian aku merunduk memandang saku baju yang kosong tak berpenghuni. Rupanya dia tahu gelagatku. “Ah. Kebetulan banget gue habis beli jajanan di kantin. Kita makan bareng-bareng. Nama gue, Ario. Ario Senno.” Dua manusia sok tahu lantas berjabat tangan.
                                   
            Sejak saat itu kami berteman. Bahkan kalau boleh pertemanan itu aku anggap sebagai persahabatan. Lagian siapa yang mau larang ? Banyak hal yang telah kami lalui. Tidak cukup kalau harus menuliskannya disini. Yang jelas, dia adalah sosok teman yang tidak seperti teman kebanyakan. Rasanya dia satu-satunya temanku di planet ini. Ketika bersamaku, tidak ada kesan darinya untuk menunjukkan bahwa sebenarnya dia adalah anak seorang manager unit pengolahan minyak terbesar di Indramayu. Dan yang pasti, harus punya kuping tebal untuk menghadapinya jika sedang galau karena soal pacar. Saran cerdas tak cukup untuk menghadapi pemikirannya yang keras dan susah ditebak. Sekali waktu bahkan sering aku kasih saran soal dia yang mula-mula meminta saran, malah dibalasnya, “udah gue duga lo bakal ngomong gitu.” Atau ketika asyik diskusi soal isu baru dari kuliah twit akun @TrioMacan2000 dia menanggapi begini, “baru aja gue mau ngomong gitu !” Seolah hal-hal yang aku pikirkan dan katakan adalah buah jejaknya yang harus dikuti.

            Kebersamaan kami lebih gila ketika ide-ide kreatif menjelma. Mungkin bagi yang lain ini biasa, tapi bagi kami adalah hal yang luar biasa. Nyatanya kelas-kelas lain iri dengan aksi kami sehingga dicap sebagai kelas yang suka cari sensasi. Kami, IPA-1 yang menyekat diri dengan label Student Independent Comunity (SIC) 381 tidak rikuh dengan itu. Pimpinannya tentu si begundal Ario. Kami terlibat dalam produksi film dokumenter sekolah setelah terinspirasi menonton Catatan Akhir Sekolah-nya Hanung Bramantyo. Siang malam kami mengedit sampai teler karena makan mie goreng bikinan Ario yang kebanyakan minyak. Dan akhirnya dokumenter itu sukses membuat teman-teman dan guru-guru terkesan saat acara perpisahan. Produksi itu berbuntut pembuatan film pendek yang dinaungi kepala sekolah. Judulnya “Kidung Senja di Kota Mangga”, Ario tokoh utamanya. Film kacau itu berhasil menyabet piala festival di pendopo kabupaten. Kalau mau nonton, cari saja di youtobe dengan judul yang sama. Jangan ketawa lihat muka konyol Ario dan jangan bertanya kenapa film ini bisa dapat gelar film fiksi pendek SMA terbaik sekabupaten ! Wkwk

Saat kelas sebelas, kami pernah membikin sebuah musikal yang terinspirasi dari Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata. Tentu dengan melibatkan anak-anak super kreatif (kere tapi aktif) IPA-1 lainnya. Ario sangat mengidolakan sosok Pak Balia yang diaudiovisualkan Riri Riza dalam film dengan judul yang sama. Dalam musikal pertama di SMA kami yang berhasil menggegerkan seantero sekolah saat pentas ujian praktik itu, Ario berdaulat untuk memerankan sosok Pak Balia dan aku memerankan sosok Arai. Dialog yang selalu dia ulang-ulang dengan gaya khasnya adalah:

“Para pelopor ! Sebelum kita mengakhiri kelas ini. Pekikkan kata-kata yang memberimu inspirasi !”
Kami juga senang membaca. Pernah suatu ketika terlibat dalam pemikiran tentang Tuhan yang mungkin belum terjangkau oleh teman-teman lain setelah membaca roman Atheis, aku lupa karya siapa. Pernah juga tersedu-sedu meratapi sosok Keke dari uraian kata-kata Agnes Davonar dalam Surat Kecil untuk Tuhan. Berontak saat membaca catatan harian Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran. Penuh peluh saat membaca cerita dewasa agak porno yang berjudul “Bercinta dengan Gigolo”. Atau berapi-api setelah membaca novel Edensor karya Andrea Hirata,

            “Aneu Diara. Jarahlah jantunggku. Curi. Curi semua yang ada.”

Aku senang mengutip puisi dalam novel itu untuk menggoda Aneu. “Kalo lo cuma tau puisi itu doang, gimana Aneu mau terkesan ?! Gue aja mual.” Begitulah tanggapan Ario. Kami juga sepakat kala itu bahwa suatu saat nanti kalau Edensor difilmkan, harus menontonnya sama-sama langsung di bioskop. Ada kata-kata yang paling membekas dari novel tersebut yang sering kami ucapkan bersama, dimanapun ketika ingat. Nanti aku beri tahu.

            Aku sadar Ario turut andil dalam perjalanan hidupku. Dia masuk dalam orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia yang mengajarkanku untuk sekuat kaktus yang bersahabat dengan gurun. Dia yang mengajarkanku beradaptasi dengan terik lingkungan seperti pohon jati. Dia yang mengajarkanku bahwa harapan ibarat tanaman, tanpanya tiada kehidupan. Dan tidak pernah sedikit pun aku merasa digurui olehnya. Dia adalah salah satu batu tapal untuk tetap menghidupkan harapan-harapanku.

Aku ingat sekali saat pertama kali berangkat ke Purwokerto untuk kuliah. Demi Tuhan ini benar-benar terjadi. Aku menyembunyikan kepiluan saat kereta Kuto Jaya merapati peron dan peluit mulai melengking-lengking. Aku lihat teman-teman lain diantar oleh keluarga sambil meritualkan haru salam perpisahaan. Aku hanya bisa menelan ludah. Bapak bekerja di Jakarta. Ibu bekerja  nun jauh disana. Nenek mengurusi adik ku yang mengamuk karena tidak ingin aku pergi. Tapi inilah kehidupan. Aku menaiki kereta dengan perasaan getir-se-getir-getirnya. Aku hampir tidak punya semangat lagi. Rasanya percuma. Namun saat aku menoleh ke luar jendela sambil membopong kopor yang berat, aku melihat seorang kurus, kulitnya sawo matang dengan sorot mata yang dalam melambai-lambai sambil menyungginggan senyum. Hp berbunyi, kubuka sms dari Ario; sori, Boi. Terlambat beberapa detik ! Demi Tuhan aku menangis saat itu. Dia memang tahu apa yang aku pikirkan.

            Sejak itu, saat libur maupun berangkat kuliah ke Purwokerto, dia selalu menjemput dan mengantarku. Aku senang suatu ketika dia mengunjungiku ke Purwokerto, walaupun tujuannya hanya sekedar mampir ketika mengantar pacarnya tes SNMPTN. Aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Kebiasaan kami yang paling seru adalah mempersoalkan S1 yang banyak teori dan D3 yang banyak praktik. Diskusi soal Papua, Indramayu yang bobrok, pekerjaan, masa depan, istri dan anak, atau pacarku yang katanya idiot dan ingusan. Ah, lucu sekali. Ketika membonceng motor, tidak luput darinya adalah berdiri menungging, lalu kentut dihadapan wajahku. Saat makan pun demikian. Dia selalu sendawa dihadapkan wajahku, dengan maksud menyebarkan aroma busuk lambungnya. “Biar nasibmu nggak busuk terus !” Begitu katanya.
           
24 Desember 2013

            Kami membelah langit sore yang pekat tertutup awan mendung. “Kita nonton Edensor, Boi !” Begitu ajaknya. Aku baru saja datang dari Purwokerto dan mengurus acara di Indramayu. Tapi tidak ada kata lelah jika berpetualang dengannya. Sampai di Karang Ampel hujan turun sangat deras, hingga menyisakan jarak pandang 10 meter saja. Tapi kami jalan terus menuju Cirebon. Di Indramayu mana ada bioskop ? Sampai di Grage Mall kami lihat tidak ada poster film Laskar Pelangi Sequel 2 Edensor. Kami meluncur ke XXI terdekat. Beruntungnya, ada. Dan sepuluh menit lagi filmnya diputar. Kami lantas membeli tiket pada mbak karyawan yang cantik. Ario bilang ini kali pertama ke bioskop. Saat tiket digenggaman, kami bingung harus masuk studio mana, lantas kami terlibat saling tatap dalam satu detik yang paling tolol, kemudian bertanya kepada mbak-mbak cantik tadi. “Lha ini mas studio 4. Segitu sudah tercetak gedenya, tebal lagi !” Jawab mbak cantik itu. Kami berlalu dengan langkah konyol.
            Kami masuk studio. Dingin bukan main. Soalnya adalah pakaian kami yang harus basah kuyup karena air hujan yang merembesi mantel. Aku melihat Ario dengan gigi gemeletuk. Aku berkata padanya, “Boi, ini masih dalam bioskop. Belum Eropa yang punya suhu dibawah nol derajat !” Film sudah menayangkan Ikal yang hampir mati diterkam dingin salju Brussels. Tapi dari perkataanku, Ario malah menjawab, “anjrit ! Mulut lo bau banget ! Pasti lo belum makan ?!” Dia kemudian menutup hidung sambil beralih menuju ke bawah. Dia kembali dengan membawa pop corn. “Lo beli berapa duit ini berondong jagung ?” Tanyaku sambil menggigil. “Udah makan aja. Biar mulut lo nggak bau.” Dia duduk kembali di sebelahku. “Nggak sebelum lo jawab.” Alisnya mengernyit.”Limabelas ribu !” Aku tersentak mendengar harga itu. Berondong macam apa ? Tapi itu tidak penting. Film mengisahkan Arai yang mengunci gembok persahabatan di sebuah jembatan terkenal di Paris, kemudian Ikal membuang kunci itu sebagai lambang bahwa persahabatan mereka kekal. “Aku harap kata-kata Andrea Hirata yang spektakuler itu diucapkan Arai di film ini, tapi dari tadi nggak muncul-muncul.” Katanya. “Lha ini adegan Arai di pusara Jim Morisson, bentar lagi dia bacakan puisi buat Zakiah Nurmala !” Ario tutup kuping. Dia hanya melihat sebal kepadaku yang menirukan Arai membaca puisi. Aku sampai hapal betul puisi itu. Fade-in fade-out berikutnya menjenuhkan. Di bagian akhir film,  kata-kata itu muncul juga. Kata-kata yang sering kami ucapkan bersama sejak SMA. Kata-kata yang begitu menggetarkan hati kami:

            Malam itu kami pulang menerobos hujan dan jalanan sepi yang katanya banyak bromocorah pembegal motor dan tidak segan untuk membunuh korbannya. mengambil. Sepanjang jalan hanya motor yang ditunggangi kami yang melintasi jalan itu. Tapi kami tak acuh, terlalu terkesan dengan pengalaman di bioskop tadi. Sepanjang jalan kami mengulang-ulang dialog apa saja dari film itu yang kami ingat. Sampai di Jatibarang kami tutup malam  dengan memakan nasi goreng di pinggir jalan Ahmad Yani. Seperti biasa, setelah makan Ario sendawa di hadapan wajahku. Ooooooooooooghh.. Busuk ! Idiot ! Sinting !

Purwokerto, 28 Desember 2013.
20.15 WIB
Dalam Kost sambil memandangi bungkus berondong jagung XXI
Read More