Blogroll

Sampul Robek Laporan Praktikum (sebuah opini mahasiswa idiot)

Agustus 07, 2014 |



 “Tahu bahwa kita tahu apa yang kita ketahui dan tahu bahwa kita tidak tahu apa yang tidak kita ketahui, itulah pengetahuan sejati.”

Gugusan aksara seorang pakar astronomi Polandia yang hidup di akhir abad 14, Copernicus, seketika bereaksi satusamalain, mewujud sebongkah meteorit semangat, kemudian meluncur cepat dan segera meledakkan jenuh yang mulai menyergap seorang mahasiswa Agroteknologi itu. Bum ! Idealisme yang telah tertanam sebagai seorang aktivis pun meluap-luap, sebab usahanya dalam menulis laporan praktikum dengan baik memang tidak sia-sia. Sorot matanya kembali tajam menelusur tiap lembar buku dan jurnal penelitian. Walau bagaimanapun, dia telah memprediksi nilai laporan yang lebih jelek, jauh sebelum tinta ballpoint menggores kertas-kertas polio bergaris itu.

Mahasiswa Super Agroteknologi

Agroteknologi merupakan salah satu program studi yang mengkaji lima bidang sekaligus, yakni agronomi, hortikultura, hama dan penyakit tanaman, ilmu tanah, dan pemuliaan tanaman. Hal yang patut dibanggakan  dari program studi ini adalah mahasiswanya mau tidak mau harus menguasai kelima bidang tersebut. Lima bidang yang kelihatannya memiliki korelasi dari sudut ilmu budidaya tanaman, namun masih sangat luas bila dikaji secara lanjut. Sebenarnya menjadi maklum kalau sebagian mahasiswanya gagap ketika ditanya oleh dosen-dosen penguji saat ujian skripsi atau pendadaran. Sekalipun yang ditanyakan adalah hal sangat dasar.


Kuliah, tugas-tugas terstruktur, praktikum, dan ujian adalah syarat mutlak yang harus dilaksanakan dengan baik dalam proses memperoleh gelar kesarjanaan yang diinginkan. Persoalannya adalah pembagian proporsi yang tidak merata dari masing-masing elemen tadi. Terutama praktikum yang memiliki presentasi terbesar diantara kesemuanya. Namun hal demikian mungkin sudah tampak biasa bagi mahasiswa Agroteknologi, entah karena sudah beradaptasi atau memang sebuah keharusan.


Jika kita rata-ratakan tiap semester terdapat 5 mata kuliah yang memiliki bobot 1 SKS praktikum dengan masing-masing terdiri dari 5 acara dan fokus kajian yang berbeda-beda, hampir satu semester kita berkutat dengan yang namanya praktikum. Proses yang paling memakan waktu salah satunya adalah menyusun laporan praktikum. Bagaimana tidak ? Laporan yang ditulis tangan paling sedikit 10 halaman polio bergaris itu mesti dirampungkan dalam waktu satu minggu.


Terlepas dari laporan praktikum, masih banyak tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen pengampu yang beberapa mesti ditulis tangan. Belum lagi tuntutan berproses dalam organisasi untuk sebuah soft skill. Juga sindiran-sindiran subjektif yang acapkali disampaikan beberapa dosen yang tidak simpatik dengan mahasiswanya yang membudayakan sistem belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat ujian. Padahal, ketika minggu tenang sebelum ujian pun mahasiswa masih disibukkan dengan pengamatan dan laporan praktikum. Fakta yang menggelikan adalah, belum ada seorang pun  dosen-dosen pengampu yang lulusan program studi Agroteknologi. 


Berbahagialah mahasiswa-mahasiswa Agrotek. Sebab normatif bagi mahasiswa Agroteknologi jika didapati slogan-slogan pragmatis soal menikmati proses. Karena itu, mari sambut dengan wibawa para mahasiswa Agroteknologi yang super ! 

Fakta Bertanya Esensi


Tanyalah siapa mahasiswa Agroteknologi yang asing dengan laporan praktikum ? Sudah pasti akan dijawab tidak ada. Laporan praktikum yang harus tersusun sistematis itu telah menjadi agenda rutin bagi mahasiswa eksakta pada umumnya, dan pada khususnya mahasiswa Agroteknologi, adalah syarat wajib supaya salah satu kolom nilai mata kuliah terisi normal. Tulis tangan dianggap cara tepat untuk mendidik mahasiswa agar menghindari plagiarisme. Namun laporan praktikum yang digadang-gadang sebagai proses strategis untuk mengembangkan pola pikir ilmiah mahasiswa itu patut ditanya keefektifannya. Sebab fakta di lapangan berkata lain.


Praktikum dengan porsi 30% dari total nilai terdiri dari sub-sub elemen penyusun. Diantaranya laporan praktikum dengan porsi terbesar. Asisten praktikum memiliki kewenangan penuh dalam penilaian dari masing-masing elemen tersebut, dan tak jarang pula subjektif. Memang dalam pengerjaan laporan praktikum sepenuhnya menjadi tanggung jawab mahasiswa, asisten praktikum hanya menghimbau agar dilengkapi dan sesuai prosedur. Tapi apakah bisa setelah itu asisten membedakan mana laporan yang plagiat dan mana laporan yang dibuat sungguh-sungguh ? Mana daftar pustaka yang benar-benar real dan mana yang abal-abal ? Atau menyamakan praktikan mana yang dikenal dan mana yang tak dikenal ? Dan ada revisi kah ?


Karena itu ada  mahasiswa yang jauh-jauh hari tekun mengerjakan laporan praktikum tanpa sedikit pun melanggar norma ilmiah, namun nilainya lebih jelek dari mahasiswa yang mengerjakan dalam semalam, hanya karena tulisannya lebih jelek dan agak sulit dibaca. Karena itu ada mahasiswa yang mengarang daftar pustaka sekehendak hati. Karena itu ada mahasiswa melobi asisten praktikum, yang ternyata masih karib, untuk meminta lebih tenggat waktu pengumpulan, atau melobi kordinator kelompok pengumpul laporan untuk mencontek laporan yang sudah terkumpul, lebih-lebih setelah itu beranggapan, “biar nyontek, tetap harus kreatif !”.


Karena itu pula ada sebagian asisten yang sibuk dengan urusannya, sehingga menilai laporan praktikum sekehendak hati. Karena itu pula ada group-group yang tanpa merasa berdosa saling bertukar isi laporan praktikum. Karena itu pula sebagian asisten menjadi maklum atas semua-muanya sebab dahulunya juga sama demikian. Ya. Semua itu memang ada dan tak bisa dipungkiri sebagaimana terbiasanya mahasiswa-mahasiswa Agroteknologi menyebut kata “awetan laporan”.

Untuk itu kah bersemester-semester dipertaruhkan ? Untuk itu kah semuanya seolah-olah menjadi maklum ? Sayangnya, tidak angkatan muda, tidak angkatan tua, bagi mereka itu sudah terlanjur menjadi tradisi.


Dalam sebuah dialog yang diadakan BEM Universitas beberapa bulan lalu, Ketua DPD RI, Irman Gusman, menyebut kampus bukan sebagai menara gading yang jauh dari isu-isu masyarakat.  Era globalisasi antar negara yang seolah tidak ada tembok penghalang, telah menantang keunggulan sains, riset dan teknologi tiap-tiap negara di segala bidang, terutama pertanian. Dimana tanggung jawab moral dari generasi-generasi bangsa saja sudah cukup menjadi bekal untuk menjawab persoalan-persoalan demikian.


Namun kenyataannya, penentangan-penentangan impor bahan pangan, degradasi lahan pertanian, dan kebijakan-kebijakan sejenis, agaknya cuma slogan-slogan yang menguap begitu saja dari benak mahasiswa, terlebih “mahasiswa pertanian”. Pun soal diversifikasi pangan, intensifikasi, ekstensifikasi, atau kampanye-kampanye kedaulatan pangan. Hanya omong kosong yang sering didiskusikan mahasiswa-mahasiswa di siang bolong. Karena jangankan bagi masyarakat dan bangsanya, soal “se-sederhana” laporan praktikum saja sudah begitu adanya.


Tanpa disadari, kesederhanaan laporan praktikum sejatinya juga telah menjadi ruang ironisme paling tragis yang telah diadaptasi oleh mahasiswa-mahasiswa selama ini, khususnya mahasiswa Agroteknologi. Berdasarkan data Eyes of Forest pada tahun 2012 terhadap sebuah perusahaan pulp terbesar di Indonesia dan Cina, konsesi pemasok bahan untuk industri kertas itu telah menebang ratusan ribu hektar hutan di Riau dengan ijin legalitas yang dipertanyakan. Sedangkan seorang mahasiswa, dengan asumsi matematis yang telah disinggung di muka, bila dirata-rata, setidaknya seorang mahasiswa akan membuang-buang kertas sebanyak 2000 lembar untuk mendapat gelar kesarjanaan. Bayangkan, selembar kertas adalah satu pohon. Bila dikali dengan sekian ratus ribu mahasiswa yang lulus setiap tahunnya, berapa pohon yang musti ditebang, dan berapa hektar lahan potensial untuk bercocok tanam terdegradasi cuma-cuma ? Itu hanya untuk kebutuhan mahasiswa yang terkenal dengan sebutan laporan praktikum saja !


Adalah Abraham Lincoln yang bila diberi waktu delapan jam untuk menebang pohon, maka beliau akan menggunakan yang enam jam untuk mengasah kapak. Dalam lingkup tafsir yang sama, andai kata Presiden ke-16 Amerika Serikat itu diperkenankan buat mengomentari mahasiswa Agroteknologi, pasti beliau akan berang. Sebab mahasiswa Agroteknologi terdidik dalam sebuah pembodohan tersistematis yang bertema laporan praktikum. Dimana hampir setiap waktunya dihabiskan untuk mengasah kapak yang siap menumbangkan pohon-pohon, yang mana juga turut mengancam kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi.


Sekiranya sudah jadi rahasia umum bagi mahasiswa-mahasisa Agroteknologi. Entah siapa yang patut bertanggung jawab.

Pembodohan Tersistematis


Pada dasarnya, pendidikan ditujukan  untuk mencetak generasi cerdas yang dapat menghayati nilai-nilai fundamental kultural. Lebih daripada itu, mahasiswa dituntut untuk mandiri dan kompetitif agar siap pakai ketika terjun di masyarakat. Sebab fakta cenderung menunjukkan sistem pendidikan Indonesia lebih produktif mencetak lulusan tanpa menimbang kualitas lulusan dan lapangan kerja yang tersedia.


Siti Satinah (2010), dalam tulisannya yang berjudul Perguruan Tinggi dan Pengangguran Terbuka: Sebuah Dilema, menuturkan, profesionalisme pada prinsipnya merupakan pembedahan ulang atas satu benih diskusi yang telah ada selama manusia tumbuh dan berkembang dalam kesadaran terhadap berbagai realitas yang ada di luar dirinya. Manusia tidak dapat dimodifikasi menjadi profesional dalam segala bidang kehidupan manusia. Manusia telah ditakdirkan untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu. Setiap manusia pun sadar atas keterbatasan dirinya yang juga menjadi sahabat manusia modern. Dimana sistem pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila mampu menyediakan kesempatan kondusif bagi kelahiran para profesional dalam bidang tertentu.


Suasana belajar yang membuat kita tidak nyaman mungkin dapat dijadikan stimulus untuk lebih disiplin. Namun di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Rhenald Kasali (2010), Ketua Program MM UI, membubuhkan, semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun.


Bagaimana dengan Agroteknologi ? Program studi yang memiliki silabus tambal sulam dari tahun ke tahun ini menuntut mahasiswanya dengan sistem yang cenderung menekan. Bagaimana mungkin bila disamakan dengan sistem pendidikan Finlandia ? Disana, sejak dasar pelajar didorong unutuk bekerja secara independent dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Wajar kalau sistem pendidikan Finlandia itu terbaik di dunia.  Sedangkan kita sendiri masih disibukkan dengan copy paste ketika menulis laporan. Alhasil, kita lahir dan besar tanpa pernah mempergunakan otak kita untuk berkreativitas. Sebab tanpa dipungkiri, kita besar dengan penuh tekanan. Apakah demikian itu suatu proses yang bisa dibilang wajar dalam menuju mandiri dan proffesional ?


Sekali lagi, bukan soal jika ada mahasiswa Agroteknologi yang bekerja di bidang Keluarga Berencana. Sebab kebanyakan mahasiswa Agroteknologi, cenderung fokus ketika rapat kepanitiaan, tapi segan buat mendekati kewajiban ilmiahnya.


Tanggung Jawab Moral


Sepertinya laporan praktikum telah mengontrol keadaan mahasiswa Agroteknologi. Betapa sebagian besar telah memilih untuk menghindari zona kritis itu. Gaung-gaung IPK tinggi sekaligus aktif organisasi hanya terdengar ketika ospek dan malam keakraban. Memang tidak ada yang patut dipersalahkan. Tapi lebih bijak kalau kita mulai bersikap.


Asisten-asisten praktikum mestinya berdedikasi lebih dengan memandang benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan atas tanggung jawabnya. Bukan kesalahan yang malah dibudayakan. Atau lebih baik ketika dosen mendampingi dalam penilaian praktikan, supaya hasil akhir lebih objektif.


Keefektifan belajar tidak lahir dari tekanan-tekanan. Selain laporan praktikum, mahasiswa juga dihadapkan dengan responsi atau ujian akhir yang menentukan nilai praktikum. Tidak jarang pula dengan sistem yang demikian menekan. Mulai dari sistem getok yang sangat tidak efektif, hingga soal-soal ujian yang tidak sesuai materi praktikum.


Tanggung jawab tidak lahir dari sistem-sistem protokoler yang sejatinya mengekang potensi. Sistem kepenulisan laporan agaknya perlu diperhatikan lagi.  Bayangkan berapa banyak hutan yang diselamatkan jika laporan praktikum dibuat digital ? Selain selaras dengan perkembangan jaman, juga lebih efisien. Mahasiswa bisa memiliki waktu lebih untuk imbang dan fokus dengan hal-hal lain, seperti berorganisasi, belajar, membaca buku, dan mengejakan tugas-tugas terstruktur. Bukan plagiarisme yang semestinya dimukakan, tetapi metode pembelajaran bagi mahasiswa untuk lebih menyadari tanggung jawabnya kepada diri sendiri. Mahasiswa yang katanya dewasa mestinya malu kalau budaya yang sudah jadi rahasia umum itu terus dilestarikan.


Era global menuntut persaingan yang semakin ketat. Kita, mahasiswa Agroteknologi, mestinya lahir dengan rasa tanggung jawab yang sudah menjadi fitrah. Melaksanakan proses perkuliahan yang sudah menjadi kewajiban dengan baik tanpa melanggar norma, dan aktif di berbagai kegiatan untuk mengasah soft skill. Semunya itu akan tercapai bila usaha terbaik dilakukan dengan manajemen yang seimbang dan bertanggung jawab.


Apa pun sistem pembelajaran yang ada, pasti sudah dibuat dan dipikirkan secara matang oleh ahlinya. Tinggal bagaimana kita melaksanakannya dengan bijaksana serta penuh dengan tanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan alamamater, masyarakat, terlebih Bangsa Indonesia. Karena lulusan Agroteknologi bukan lulusan yang berada di simpang jalan. Salam Laporan !

@VazaG17

Purwokerto, 27 Maret 2014.
Dalam kamar kost penuh tebaran kertas polio.
Read More

Antara LDR dan Kebelet Boker (sebuah cerita pendek)

Agustus 07, 2014 |


             Suatu hari gue terlibat percakapan dengan sahabat gue yang bernama Ario di sebuah kafe kampus.

            Sebelumnya gue mau bikin pernyataan. Gue akuin nggak banyak cinta yang gue kenal selain dari William Shakespeare, Stephen Meyer, Dee, atau Habibburahman El-Shirazy. Tapi gue juga harus akuin, cuma Ario satu-satunya manusia hidup yang udah buat gue berpikir kalau cinta itu cuma sebuah kata yang sulit dimengerti, tapi punya banyak makna. Seenggaknya gue dapet kalimat super kayak gitu setelah mengorbankan kuping gue yang harus meleleh buat dengerin dia telfonan sama pacarnya yang jadi buruh migran di Hongkong, everyday. Tapi dari situ pula gue dapet sub-bahasan baru soal cinta, Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh.

            Gue heran. Khok bisa-bisanya manusia genius macem Ario bisa jadi setengah sinting gitu sama orang yang hanya dia kenal lewat foto. Kalau dia udah kenal deket sebelumnya atau seenggaknya pernah ketemu sama ceweknya sih nggak jadi soal. Jadi gue nggak heran saat tahu kalau setengah uang beasiswa Ario harus habis cuma buat biaya internetan dan telfonan sama pacar ilusinya itu. Cinta telah membuat genius dan sinting jadi nggak ada beda.

            “Ar. Emang lo yakin foto dia di facebook itu asli? Lo khan nggak tau sebenernya dia cakep apa nggak?” Tanya gue penasaran sambil nyeruputmilk tea cream dan  disusul nikotin yang merangsek masuk alveolus.

            “Lha untungnya dia juga nggak tau kalau gue itu jelek kan, Za?”

Skak. Seisi Agriculture Cafetaria seketika beku.

“Tapi gue juga harus akuin, LDR itu nggak mudah, Za. Penuh kecurigaan dan ketidak-pastian.” Sambung Ario dengan mata teduh dan muka sok bijak, persis seorang bapak yang ngajarin anak lelakinya cara pipis yang baik dan benar. ”Lo sendiri mau sampe kapan ngumpulin teori melulu? Udah dari SMA kita bareng, dan lo nggak ada perubahan, Za. Jangan bilang lo homo dan suka sama gue?!”

            “Gile aja lo!” Tukas gue dengan agak ngotot nolak hipotesis ngawur Ario. Dia malah ketawa terbahak-bahak, kemudian bengek. Mampus lo.

“Sebenernya ada seseorang, Ar. Sejak pertama ngeliat pas registrasi kuliah dulu, sekarang, dan nggak tahu sampai kapan. Seseorang yang kalo gue ketemu dia gue udah kayak orang kebelet boker. Nggak bisa berkata-kata dan keringat mengucur deras. Gue juga selalu gagap kalo ada kesempatan ngobrol sama dia.” Gue mulai bercerita dengan sedikit terbata-bata.

            “Pengecut lo. Kenapa nggak lo ungkapin aja ke dia? Apapun jawabannya, seenggaknya lo udah ungkapin. Kebanyakan teori sih lo. Cinta itu dapat dirasain bukan dari novel-novel, tapi praktek langsung di lapangan, bro!” Sergah Ario.

            “Selama ini gue belum nemu kata yang tepat buat jelasin ke dia. Sebenarnya kasus kita sama Ar, Long Distance Relationship. Cuma beda makna aja. Seperti yang lo bilang dulu, cinta itu hanya sebuah kata yang nggak dapat dimengerti tapi punya banyak makna.” Sambung gue dengan nada agak didramatisir kayak Rendra saat bacain puisi Nina Bobok bagi Pengantin.

“Maksud lo?” Tanya Ario dengan mata hampir mau loncat. Rautnya berubah serius. Dengan mengambil nafas agak panjang lebih dulu gue lantas menjawab,

“LDR yang lo rasain emang jauh di mata dekat di hati, Ar. Lo nggak tahu rupa dia kayak apa, begitu juga sebaliknya, disamping ruang dan waktu yang memisahkan kalian berdua. Tapi hati kalian terkoneksi oleh rasa saling percaya atau mungkin bisa disebut ketulusan. Atau juga cuma kesenangan semu yang kalian dapat dari kebohongan? Tapi yang jelas kasus gue..”

“Gimana kasus lo, Gaza ?” Potong Ario penasaran.

“Gue deket. Bahkan gue dan dia satu kelas. Seberapa deket gue terkoneksi dengan dia bisa diliat dari gue yang nggak pernah sekalipun bolos kelas supaya bisa ketemu terus. Sayangnya, dia ngeliat gue terlaluh jauh dari kriteria, Ar. Hati dia terlalu jauh buat gue kejar. Dia anak Dekan kita. Lha gue? Cuma cecunguk. Kutu buku bodoh yang nggak mau nyadar kalau apa yang dirasain itu nggak semestinya dipelihara. Biaya yang gue keluarin juga nggak kalah mahal, Ar. Harga mahal buat berusaha tampil bukan sebagai pecundang dihadapan dia. Jadi bisa dibilang gue juga ngalamin LDR. Bedanya LDRgue itu dekat di mata tapi jauh di hati.” Serangan balik buat Ario yang udah nge-judge gue homo !

“Gue pikir lo bakal nge-dongeng kisah cinta dua anak Montague dan Capulet yang saban hari dibaca sama lo. Terus rencana lo apa, Za?” Ario makin bergairah mendengarkan.

“Gue bukan Romeo, bukan Edward Cullen, bukan pula Fahri atau Keenan. Gue sadar gue nggak datang dari dunia mereka. Gue juga nggak mau berpura-pura datang dari dunia yang sama kayak mereka. Gue akan datang perlahan dengan dunia gue. Dunia para pengecut yang kikuk ketika duduk di sudut tribun stadion, yang terpaku ketika melihat dia lagi drible bola basket. Tapi gue nggak pernah berpikir untuk bisa mempuisikan dunia yang penuh dengan bola basket dan barang-barang bermerek. Gelandangan super macam gue paling cuma bisa dari jauh memandang dia yang lagi tidur saat kelas statistika, sebab selama dua tahun terakhir cuma itu cara termurah buat menikmati siksa yang tumbuh dari hati yang deg-degan. Hidup kadang nggak adil ya, Ar?” Gue menutup kalimat dengan senyum paling pahit.

            Tidak terasa hari sudah sore. Senja yang perlahan-lahan merayapi horison troposfer mebias pada gelas-gelas yang mengembun di atas meja, sisa saksi dialog gue dan Ario. Sinarnya merefleksikan asap rokok yang mengepul dari lubang hidung kami, membentuk siluet-siluet yang mewujud rupa getir hati dua anak adam yang diliputi dengan ketidak-pastian. Kafe makin hening. Sejurus gue memandang Ario penuh arti. Ario membalasnya penuh curiga.

“khok muka lo jadi kelihatan tegang gitu, Za. Kayak orang kebelet boker aja. Jangan bilang ada Diara di sini?” Selidik Ario yang kemudian matanya menyapu tiap sudut ruang kafe. Namun dia hanya mendapati seorang pelayan yang sedang mengelap meja. Matanya kembali tertuju ke muka gue. Dengan penuh kepastian gue mencoba menghapus kegundahan Ario yang penasaran. Gue pun menjawab,

“serius, Bro. Gue emang kebelet BOKER !”

Purwokerto, 09-Mei-2014
Untuk seseorang yang mengenalkanku pada
malam paling manis di Kota ini

Read More

“Hukum Cinta Shakespeare” (sebuah cerita pendek)

Agustus 07, 2014 |


                Einstein bilang, nggak ada yang mutlak di semesta ini, semuanya relativ. Newton bilang, bahwa semua gerak di semesta ini tunduk pada hukum-hukum yang sama. Tapi sekalipun semuanya tunduk, bagi gue tetep ada hal-hal di kehidupan ini yang bikin hukum-hukum itu nggak berlaku. Mandangin dia yang tidur di kelas kalo kuliah. Merhatiin dia yang lagi naik tangga kampus. Ngeliatin dia yang lagi meluncur dengan sepeda kesayangannya. Atau Gue yang mematung saat nggak sengaja ngeliat dia ngelepas topi di parkiran kampus, atau mungkin saat ada kesempatan ngomong sama dia. Semua planet kayak berhenti berputar dari orbitnya. Segala kerelativan terasa mutlak. Sedangkan gue tetep gue, dari berjuta detik yang lalu, sampe sekarang, dan entah sampe kapan; kikuk, gagap, dan berantakan kalo hal-hal tadi lagi berlangsung. Lalu apa hukum yang ngatur diri gue hingga bisa kayak gitu? Satu jawaban Shakespeare: cinta.

Ini hukum Shakespeare yang paling gue suka. Hukum yang ngedeskripsiin Hamlet setengah sinting sama Ophelia:

                Ragukan bahwa bintang-bintang itu api;
                Ragukan bahwa matahari itu bergerak;
                Ragukan bahwa kebenaran itu dusta;
                Tapi jangan ragukan cintaku.

Da steh’ich nun, ich armer Tor! Und bin so klug als wiezuvor. Di sinilah aku, si goblok yang malang! Tak lebih bijak dari sebelumnya. Kata Faust, nanggepin Shakespare. Sayangnya malem ini gue cuma sediain secangkir cokelat panas buat Shakespare yang udah mau nemenin gue ngegalau di atas genteng kostan. Faust yang malang.

                Yogyakarta emang istimewa, apalagi kalo lagi banyak bintang bertebaran di langit. Nggak perduli dengan tugas-tugas kuliah yang numpuk, gue mesti udah nangkring di atas genteng. Secangkir cokelat panas, laptop, buku-buku Shakespeare dan Gibran, udah jadi temen rutin kalo lagi gold moment kayak gini. Kalo nggak lagi apes ketutup sama Scorpio, entah kenapa gue betah banget nunjuk bintang-bintang yang nyusun rasi Orion dari atas genteng. Gue nyalain laptop, lalu on line.  Seperti biasa, kalau nggak buka profil facebook dia, paling buka profil twitter dia. Berita baiknya adalah, dia lagi online!

“Lebih baik cinta sama Mytha yang jauh di Hongkong tapi hatinya terasa deket buat gue, Za. Daripada lo? Kagum sama Diara yang satu kelas, tapi hatinya tetep jauh. Gue pikir sejauh ini lo udah ada progress?”

Bener juga kata Ario, sahabat gue. Bahkan selama ini gue nggak punya nomer hape dia. Gue mesti ada progress. Gue harus chatting-an sama dia. Akhirnya, dengan jemari yang bergetar hebat, gue berusaha ngetik di keyboard  laptop buat ngawalin percakapan. Namun apa daya, gue tetep gue. Cuma tiga huruf ini yang mampu gue ketik,

“hai”

Penyesalan datang menyerbu. Gue ngerasa jadi orang tergoblok di bumi. Gue usapin telapak tangan di wajah gue. Aish! Dia bakal bales. Gue bangun dari duduk dan mondar-mandir di atas genteng. Gue ngerasa nggak perduli sekalipun gravitasi bisa bikin gue jatoh dari atas genteng. Gue tatap monitor, masih ada tiga titik di kolom yang bertuliskan nama dia. Dia bakal bales, Ya Tuhan! Gue tatap lagi layar monitor, dan muncul angka satu disana. Ya Tuhan, dia bales! Gue merasa nggak punya tulang. Shakespare, gue harus gimana? Gue gugup bukan main dan akhirnya numpahin cokelat panasnya Shakespeare.

“Tinggal lo buka dan bales aja, susah amat.” Tukas Shakespeare sambil memberengut.

                Dengan jemari yang makin bergetar gue buka,
               
                “apa?”

                “Ngga apa2. Nggak dateng ke opening?”

                “males. g da yg jmpt.”

                “Oh, gitu.”

                “Ya”

Gue bingung harus bales apa lagi. Tapi gue ngerasa jari-jari gue nggak terkontrol. Lalu tanpa sekehendak gue, jari-jari itu ngetik,

                “mau aku jemput?”

Dia offline. Gue tarik nafas yang begitu panjang. Gue nggak tau harus jemput pake apa kalo dia baca, sepeda aja kagak ada.

Ini nggak kayak yang lo kira, William. Sesusah itu kominikasi yang mesti gue bangun sama dia selama ini. Emang sih dia jutek. Gue juga nggak bisa nolak kalo seandainya dia rikuh sama gue. Dan pada kenyataannya, bersama dengan juteknya itu, dia emang rikuh sama gue. Liat aja dari balesan chatnya yang singkat-singkat. Gue juga mesti nerima kalo pada kenyataannya, dia emang jijik sama gue. Jadi kayaknya lebih baik buat gue kalo rasa itu tetep dipendem. Gue cuma nggak mau dia bakal ngejauh seandainya tau kalo gue punya rasa. Emang sih nyiksa. Bayangin aja, gue harus mendem itu selama bertahun-tahun. Tapi serius, gue nikmatin itu.

Shakespeare manggut-manggut kayak burung beo kurang gizi. Kemudian seketika kedua alisnya naik, jidatnya berkerut, mulutnya nyengir, pokoknya abstrak banget deh mukanya. Lo lagi ngapain sih? Kenapa? Kebelet boker? Lalu gue liat telunjuk tangan kanannya menunjuk-nunjuk layar monitor. Apaan? Dia offline khok. Setengah sadar gue buka kolom chat dia. Tuh offline. Gue masih belum sadar. Gue tatap lagi muka Shakespeare, makin abstrak, persis Squidword keracunan Chum Bucket. Setelah sadar dan gue liat lalu ngebaca dengan seksama,

“081717171717. Rumah ak di Kocoran. Dket Faperta UGM.
Lmpu mrah graha blok kri, lurus smpe mntok.
 Trs ke timur dikit. Tunggu di gg yg adapatung.
Klo udh smpe sms.”

Gue pingsan!


***


                Shakespeare nyiram gue pake segayung air. Gue sadar akhirnya bergegas nyari kendaraan buat jemput dia. Gue dapet dua opsi dari tetangga kost, Astrea atau Satria. Gue pikir jemput dia pake Satria lebih tepat, seenggaknya nggak malu-maluin karena gue yang nyupirin.Tapi Shakespeare nggak sepakat. Akhirnya gue naik Astrea. Ini baru awal, Za. Jadi jangan diawalin sama gengsi buat njemput dia pake Satria segala, padahal bukan punya lo juga tuh motor. Kalo dia mau naik Astrea, itu awal yang baik buat lo ketahui bahwa dia nerima lo apa adanya.

Gue beruntung nggak cilaka, cuma hampir disamber Transyogya dan dapet kata bangsat dari mahasiswa Fisip yang hampir nabrak gue pake jip.

                Akhirnya gue nyampe. Setelah itu bisa di tebak.

                “Kamu kan jemput orang dari rumahnya, kenapa mesti bawa helm lagi?” Kata dia sambil menyunggingkan senyum geli. Mati kutu gue!

                Sepanjang jalan nggak ada kata yang keluar dari mulut gue maupun dia. Alasan gue sih udah jelas, tapi gue nggak mau nebak apa yang ada dalam pikiran dia. Sampe kampus, dia langsung nimbrung sama temen-temen dia. Adapun gue cuma bisa nunggu di parkiran. Dia dateng.

                “Kita pulang aja.”

                “Oh.. Iy.. iya.”

                Nggak tau kenapa motor jadi melambat. Dengan bertubi-tubi dan nada yang nggak jelas gue lempar pertanyaan ke dia,

                “Kamu udah makan? Kamu suka film genre apa? Kamu nggak capek ke kampus naik sepeda? Terus kalo hujan gimana, kamu ujan-ujanan? Kamu belajar main gitar sejak kapan?”

Nggak tau deh ekspresi dia kayak gimana nanggepin pertanyaan gue yang udah kayak orang kesurupan gitu. Gue liat dari kaca spion, dia cuma tersenyum. Gue gemeteran. Ayo dong dijawab satu-per satu. Gue cuma nggak mau momen ini cepat berakhir. Gue tambah gemeteran.

                “Kamu ngomong apaan sih? Oh ya, di depan ada warung bubur kacang ijo langganan aku. Kamu suka bubur kacang ijo khan?” Dia malah tanya balik, dan gue makin nggak terkontrol.

                “Oh, iy.. Iya. Suka khok, suka. Heheh.”

                Ini malam terbaik yang pernah gue rasain selama di Yogya. Gue kira keindahan malam ini nggak terbanding sekalipun disandingkan dengan seribu puisi karangan Gibran. Gue liat rasi Orion di langit. Gue teringat kisah Napoleon yang baca rasi bintang sebagai penunjuk arah. Satu hal terlintas di kepala gue, sebuah jawaban kenapa selama ini gue suka ngeliatin rasi Orion. Tiba-tiba bulan berbentuk segitiga, kayak simbol play  gitu. Sebuah telunjuk menekan bulan itu. Lalu terdengarlah lagu On The Night Like This-nya Mocca.

                “Aku nggak suka naik becak. Soalnya kalo naik becak, kita seolah-olah lagi ada di depan panggung gitu, dan banyak orang yang ngeliatin kita. Aku suka film romance. Kamu jangan tanya soal capek atau nggak naik sepeda, kalo udah seneng bersepeda, seberapa jauh pun jaraknya tetepfun aja. Aku belajar gitar sendiri.” Ternyata dia masih inget pertanyaan-pertanyaan gue. Gue seruput bubur kacang ijo. Gue cuma bisa ngangguk-ngangguk, lebih buruk dari beo kurang gizi.

                “Oh, ya. Kata ibu aku, dan ibu aku kata nenek aku, aku masih ada darah keraton lho. Tapi nggak tau juga sih, itu cerita turun-temurun.” Sambungnya. Pantes aja, sekalipun kamu jutek dan keliatan kecowok-cowokan, tapi tetep anggun, kata gue dalam hati. Gue tetep ngangguk-ngangguk aja, kali ini kayak burung kuntul ketelak mendoan. Walau dengan terbata gue pun berusaha berkata,

                “kacang ijo ini impor dari Ethiopia lho, kasian banget ya negara kita? Kacang ijo aja impor. He.. hehe..” Apa hubungannya kacang  ijo sama latar belakang lo, goblok.

Gue seruput lagi bubur kacang ijo. Gue ngerasain bubur kacang ijo yang berubah jadi asin karena  udah nampung banyak keringat gue yang dari tadi ngucur deras. Oke, gue selalu punya banyak bahan buat nulis, tapi sekarang, satu bahan aja buat bikin percakapan, susah banget nemunya. Oke, gue banyak ketemu konsumen kalo lagi parttime jadi wiraniaga di swalayan, tapi ngadepin satu orang di samping gue sekarang, udah kayak lagi ngadepin presiden. Gue kutuk diri gue sendiri yang udah jadi tolol setolol-tololnya orang malem ini. Sebab di sisi lain gue nggak mau momen ini cepat berakhir. Gue juga nggak liat dia ngerasa bosen atau rikuh sama gue. Tapi apa boleh buat, bubur kacang ijonya udah abis, dan gue harus antar dia pulang.

Jalanan Yogyakarta puitis banget malem ini. Gedung-gedung tua kampus UGM juga ikut senyum geli ngeliat gue yang kacau dan berantakan buat bikin kesan pertama. Gue sengaja muter lewat Tugu, untungnya dia nggak nolak. Malam semakin dingin. Gue liat dia menggigil, walaupun udah pake jaket. Gue menepi. Masih gemetaran, gue nekat ngelepas jaket yang gue pake, lalu makein ke dia. Astrea meluncur lagi, membelah jalanan Yogya yang sendu. Sekali lagi hukum-hukum nggak berlaku disini. Ini memang malam paling manis yang pernah gue rasain, bukan cuma sejak di Yogya, tapi sumur hidup. Tapi gue sadar-sesadar-sadarnya akan satu hal.

Kamu mesti tau kan kuliah Prof. Narto di awal kuliah soal tumbuhan? Atas dasar itu gue mau korelasiin dengan kesadaran gue itu. Kalau ibarat tumbuhan, cinta itu bisa tumbuh dimana aja. Tapi kita tetap harus pandai memilih mana yang harus disiram, diabaikan, atau bahkan dibiarkan layu dan mati. Sayangnya gue bukan petani yang berhak memilih tanaman mana yang harus dipelihara dengan baik untuk hasil panen yang baik. Gue nggak lebih dari tanah marginal yang terlalu gersang buat ditumbuhi tanaman: miskin hara, miskin air, miskin mineral, miskin dari ketersediaan semua bahan yang bikin tanaman tumbuh normal. Jadi sebagai tanah, nggak ada pilihan buat gue selain terus berharap kepada Tuhan supaya menuntun nasib yang akan membajak gue hingga cocok buat tumbuh tanaman. Setelah harapan itu tercapai, nggak ada hal lain yang gue inginkan selain  mempersembahkan segala apa yang tersedia dalam diri gue buat numbuhin satu-satunya spesies tanaman yang biasa disebut cinta sejati. Gue sebagai tanah emang nggak bisa janjiin banyak hal. Tapi gue bakal memohon kepada hujan buat nyiram gue dengan segala bentuk ketulusan, supaya spesies itu tumbuh baik dan gue bisa nyediain apa pun yang gue punya. Sayangnya kamu nggak mau tau itu.

Seenggaknya udah ada progress. Gue sadar belum waktunya malem ini buat ngungkapin ke dia. Gue pandangin dia sampai masuk rumah. Senyum itu. Senyum itu yang  bakal bikin malam-malam gue sulit tidur.

 Gue ketawa-ketawa nggak jelas sepanjang jalan. Mungkin ini yang dirasain Hamlet terhadap Ophelia. Sampe di kost gue hampirin Shakespaere yang udah setia nunggu di atas genteng.

“Kamu inget nggak? Hari pertama kuliah kita khan berangkat sama-sama. Demi Tuhan, sebelum berangkat aku berharap bakal nggak sengaja ketemu kamu di depan gang, dan ternyata  harapan itu dikabulin. Kamu bilang pernah ketemu aku di kampus pusat, dan kamu ngira aku ini senior. Tapi asal tahu, kita emang pernah ketemu di kampus pusat. Aku nggak bakal lupa soal itu. Aku masih inget betul kamu berdiri dengan muka bingung. Dan mata kamu. Ya. Mata kamu. Aku nggak bakal lupa gimana rasa yang sulit dideskripsiin saat pertama ngeliat mata kamu. Mata kamu yang bikin malam-malamku gusar selama di Yogya. Sayangnya.. Udah aku duga sejak lama.. Sayangnya..”

“Cemen lo, Za. Baru sama gue lo nyerocos kayak burung beo,” tukas Shakespeare,“sayangnya gimana, Za?” Sambungnya penasaran.

“Sayangnya dugaan gue itu bener. Ada seseorang yang jauh lebih baik dari gue yang juga punya perasaan sama dia. Dan gue udah ketinggalan banyak langkah dari dia..Dan dia..”

“Dia kenapa, Za?” Potong Shakespeare.

“Dia temen deket gue di kelas!”

Hukum cinta Shakespeare nggak berlaku lagi. Nggak ada kesempatan buat gue selain memandangi Orion yang perlahan samar tertutup awan mendung. Tapi tiga bintang sabuknya masih jelas kalau Orion nunjuk arah barat, arah dimana Diara mungkin sudah lelap tidur dengan mimpi-mimpi terbaiknya. Tapi awan terlanjur menutup semuanya. Hujan pun turun deras, melunturkan bayang-bayang Shakespeare di hadapan gue dengan perlahan.

Hukum baru yang berlaku saat ini adalah: bakal ada waktu yang lebih lama buat memendam ini.

Purwokerto, 26 Juli 2014
Memandangi hujan dengan rasa yang rumit

<photo id="1" />
Read More