“Tahu bahwa kita tahu apa yang kita ketahui dan tahu bahwa kita tidak tahu apa yang tidak kita ketahui, itulah pengetahuan sejati.”
Gugusan aksara seorang pakar astronomi Polandia yang hidup di akhir abad 14, Copernicus, seketika bereaksi satusamalain, mewujud sebongkah meteorit semangat, kemudian meluncur cepat dan segera meledakkan jenuh yang mulai menyergap seorang mahasiswa Agroteknologi itu. Bum ! Idealisme yang telah tertanam sebagai seorang aktivis pun meluap-luap, sebab usahanya dalam menulis laporan praktikum dengan baik memang tidak sia-sia. Sorot matanya kembali tajam menelusur tiap lembar buku dan jurnal penelitian. Walau bagaimanapun, dia telah memprediksi nilai laporan yang lebih jelek, jauh sebelum tinta ballpoint menggores kertas-kertas polio bergaris itu.
Mahasiswa Super Agroteknologi
Agroteknologi merupakan salah satu program studi yang mengkaji lima bidang sekaligus, yakni agronomi, hortikultura, hama dan penyakit tanaman, ilmu tanah, dan pemuliaan tanaman. Hal yang patut dibanggakan dari program studi ini adalah mahasiswanya mau tidak mau harus menguasai kelima bidang tersebut. Lima bidang yang kelihatannya memiliki korelasi dari sudut ilmu budidaya tanaman, namun masih sangat luas bila dikaji secara lanjut. Sebenarnya menjadi maklum kalau sebagian mahasiswanya gagap ketika ditanya oleh dosen-dosen penguji saat ujian skripsi atau pendadaran. Sekalipun yang ditanyakan adalah hal sangat dasar.
Kuliah, tugas-tugas terstruktur, praktikum, dan ujian adalah syarat mutlak yang harus dilaksanakan dengan baik dalam proses memperoleh gelar kesarjanaan yang diinginkan. Persoalannya adalah pembagian proporsi yang tidak merata dari masing-masing elemen tadi. Terutama praktikum yang memiliki presentasi terbesar diantara kesemuanya. Namun hal demikian mungkin sudah tampak biasa bagi mahasiswa Agroteknologi, entah karena sudah beradaptasi atau memang sebuah keharusan.
Jika kita rata-ratakan tiap semester terdapat 5 mata kuliah yang memiliki bobot 1 SKS praktikum dengan masing-masing terdiri dari 5 acara dan fokus kajian yang berbeda-beda, hampir satu semester kita berkutat dengan yang namanya praktikum. Proses yang paling memakan waktu salah satunya adalah menyusun laporan praktikum. Bagaimana tidak ? Laporan yang ditulis tangan paling sedikit 10 halaman polio bergaris itu mesti dirampungkan dalam waktu satu minggu.
Terlepas dari laporan praktikum, masih banyak tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen pengampu yang beberapa mesti ditulis tangan. Belum lagi tuntutan berproses dalam organisasi untuk sebuah soft skill. Juga sindiran-sindiran subjektif yang acapkali disampaikan beberapa dosen yang tidak simpatik dengan mahasiswanya yang membudayakan sistem belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat ujian. Padahal, ketika minggu tenang sebelum ujian pun mahasiswa masih disibukkan dengan pengamatan dan laporan praktikum. Fakta yang menggelikan adalah, belum ada seorang pun dosen-dosen pengampu yang lulusan program studi Agroteknologi.
Berbahagialah mahasiswa-mahasiswa Agrotek. Sebab normatif bagi mahasiswa Agroteknologi jika didapati slogan-slogan pragmatis soal menikmati proses. Karena itu, mari sambut dengan wibawa para mahasiswa Agroteknologi yang super !
Fakta Bertanya Esensi
Tanyalah siapa mahasiswa Agroteknologi yang asing dengan laporan praktikum ? Sudah pasti akan dijawab tidak ada. Laporan praktikum yang harus tersusun sistematis itu telah menjadi agenda rutin bagi mahasiswa eksakta pada umumnya, dan pada khususnya mahasiswa Agroteknologi, adalah syarat wajib supaya salah satu kolom nilai mata kuliah terisi normal. Tulis tangan dianggap cara tepat untuk mendidik mahasiswa agar menghindari plagiarisme. Namun laporan praktikum yang digadang-gadang sebagai proses strategis untuk mengembangkan pola pikir ilmiah mahasiswa itu patut ditanya keefektifannya. Sebab fakta di lapangan berkata lain.
Praktikum dengan porsi 30% dari total nilai terdiri dari sub-sub elemen penyusun. Diantaranya laporan praktikum dengan porsi terbesar. Asisten praktikum memiliki kewenangan penuh dalam penilaian dari masing-masing elemen tersebut, dan tak jarang pula subjektif. Memang dalam pengerjaan laporan praktikum sepenuhnya menjadi tanggung jawab mahasiswa, asisten praktikum hanya menghimbau agar dilengkapi dan sesuai prosedur. Tapi apakah bisa setelah itu asisten membedakan mana laporan yang plagiat dan mana laporan yang dibuat sungguh-sungguh ? Mana daftar pustaka yang benar-benar real dan mana yang abal-abal ? Atau menyamakan praktikan mana yang dikenal dan mana yang tak dikenal ? Dan ada revisi kah ?
Karena itu ada mahasiswa yang jauh-jauh hari tekun mengerjakan laporan praktikum tanpa sedikit pun melanggar norma ilmiah, namun nilainya lebih jelek dari mahasiswa yang mengerjakan dalam semalam, hanya karena tulisannya lebih jelek dan agak sulit dibaca. Karena itu ada mahasiswa yang mengarang daftar pustaka sekehendak hati. Karena itu ada mahasiswa melobi asisten praktikum, yang ternyata masih karib, untuk meminta lebih tenggat waktu pengumpulan, atau melobi kordinator kelompok pengumpul laporan untuk mencontek laporan yang sudah terkumpul, lebih-lebih setelah itu beranggapan, “biar nyontek, tetap harus kreatif !”.
Karena itu pula ada sebagian asisten yang sibuk dengan urusannya, sehingga menilai laporan praktikum sekehendak hati. Karena itu pula ada group-group yang tanpa merasa berdosa saling bertukar isi laporan praktikum. Karena itu pula sebagian asisten menjadi maklum atas semua-muanya sebab dahulunya juga sama demikian. Ya. Semua itu memang ada dan tak bisa dipungkiri sebagaimana terbiasanya mahasiswa-mahasiswa Agroteknologi menyebut kata “awetan laporan”.
Untuk itu kah bersemester-semester dipertaruhkan ? Untuk itu kah semuanya seolah-olah menjadi maklum ? Sayangnya, tidak angkatan muda, tidak angkatan tua, bagi mereka itu sudah terlanjur menjadi tradisi.
Dalam sebuah dialog yang diadakan BEM Universitas beberapa bulan lalu, Ketua DPD RI, Irman Gusman, menyebut kampus bukan sebagai menara gading yang jauh dari isu-isu masyarakat. Era globalisasi antar negara yang seolah tidak ada tembok penghalang, telah menantang keunggulan sains, riset dan teknologi tiap-tiap negara di segala bidang, terutama pertanian. Dimana tanggung jawab moral dari generasi-generasi bangsa saja sudah cukup menjadi bekal untuk menjawab persoalan-persoalan demikian.
Namun kenyataannya, penentangan-penentangan impor bahan pangan, degradasi lahan pertanian, dan kebijakan-kebijakan sejenis, agaknya cuma slogan-slogan yang menguap begitu saja dari benak mahasiswa, terlebih “mahasiswa pertanian”. Pun soal diversifikasi pangan, intensifikasi, ekstensifikasi, atau kampanye-kampanye kedaulatan pangan. Hanya omong kosong yang sering didiskusikan mahasiswa-mahasiswa di siang bolong. Karena jangankan bagi masyarakat dan bangsanya, soal “se-sederhana” laporan praktikum saja sudah begitu adanya.
Tanpa disadari, kesederhanaan laporan praktikum sejatinya juga telah menjadi ruang ironisme paling tragis yang telah diadaptasi oleh mahasiswa-mahasiswa selama ini, khususnya mahasiswa Agroteknologi. Berdasarkan data Eyes of Forest pada tahun 2012 terhadap sebuah perusahaan pulp terbesar di Indonesia dan Cina, konsesi pemasok bahan untuk industri kertas itu telah menebang ratusan ribu hektar hutan di Riau dengan ijin legalitas yang dipertanyakan. Sedangkan seorang mahasiswa, dengan asumsi matematis yang telah disinggung di muka, bila dirata-rata, setidaknya seorang mahasiswa akan membuang-buang kertas sebanyak 2000 lembar untuk mendapat gelar kesarjanaan. Bayangkan, selembar kertas adalah satu pohon. Bila dikali dengan sekian ratus ribu mahasiswa yang lulus setiap tahunnya, berapa pohon yang musti ditebang, dan berapa hektar lahan potensial untuk bercocok tanam terdegradasi cuma-cuma ? Itu hanya untuk kebutuhan mahasiswa yang terkenal dengan sebutan laporan praktikum saja !
Adalah Abraham Lincoln yang bila diberi waktu delapan jam untuk menebang pohon, maka beliau akan menggunakan yang enam jam untuk mengasah kapak. Dalam lingkup tafsir yang sama, andai kata Presiden ke-16 Amerika Serikat itu diperkenankan buat mengomentari mahasiswa Agroteknologi, pasti beliau akan berang. Sebab mahasiswa Agroteknologi terdidik dalam sebuah pembodohan tersistematis yang bertema laporan praktikum. Dimana hampir setiap waktunya dihabiskan untuk mengasah kapak yang siap menumbangkan pohon-pohon, yang mana juga turut mengancam kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi.
Sekiranya sudah jadi rahasia umum bagi mahasiswa-mahasisa Agroteknologi. Entah siapa yang patut bertanggung jawab.
Pembodohan Tersistematis
Pada dasarnya, pendidikan ditujukan untuk mencetak generasi cerdas yang dapat menghayati nilai-nilai fundamental kultural. Lebih daripada itu, mahasiswa dituntut untuk mandiri dan kompetitif agar siap pakai ketika terjun di masyarakat. Sebab fakta cenderung menunjukkan sistem pendidikan Indonesia lebih produktif mencetak lulusan tanpa menimbang kualitas lulusan dan lapangan kerja yang tersedia.
Siti Satinah (2010), dalam tulisannya yang berjudul Perguruan Tinggi dan Pengangguran Terbuka: Sebuah Dilema, menuturkan, profesionalisme pada prinsipnya merupakan pembedahan ulang atas satu benih diskusi yang telah ada selama manusia tumbuh dan berkembang dalam kesadaran terhadap berbagai realitas yang ada di luar dirinya. Manusia tidak dapat dimodifikasi menjadi profesional dalam segala bidang kehidupan manusia. Manusia telah ditakdirkan untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu. Setiap manusia pun sadar atas keterbatasan dirinya yang juga menjadi sahabat manusia modern. Dimana sistem pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila mampu menyediakan kesempatan kondusif bagi kelahiran para profesional dalam bidang tertentu.
Suasana belajar yang membuat kita tidak nyaman mungkin dapat dijadikan stimulus untuk lebih disiplin. Namun di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Rhenald Kasali (2010), Ketua Program MM UI, membubuhkan, semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun.
Bagaimana dengan Agroteknologi ? Program studi yang memiliki silabus tambal sulam dari tahun ke tahun ini menuntut mahasiswanya dengan sistem yang cenderung menekan. Bagaimana mungkin bila disamakan dengan sistem pendidikan Finlandia ? Disana, sejak dasar pelajar didorong unutuk bekerja secara independent dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Wajar kalau sistem pendidikan Finlandia itu terbaik di dunia. Sedangkan kita sendiri masih disibukkan dengan copy paste ketika menulis laporan. Alhasil, kita lahir dan besar tanpa pernah mempergunakan otak kita untuk berkreativitas. Sebab tanpa dipungkiri, kita besar dengan penuh tekanan. Apakah demikian itu suatu proses yang bisa dibilang wajar dalam menuju mandiri dan proffesional ?
Sekali lagi, bukan soal jika ada mahasiswa Agroteknologi yang bekerja di bidang Keluarga Berencana. Sebab kebanyakan mahasiswa Agroteknologi, cenderung fokus ketika rapat kepanitiaan, tapi segan buat mendekati kewajiban ilmiahnya.
Tanggung Jawab Moral
Sepertinya laporan praktikum telah mengontrol keadaan mahasiswa Agroteknologi. Betapa sebagian besar telah memilih untuk menghindari zona kritis itu. Gaung-gaung IPK tinggi sekaligus aktif organisasi hanya terdengar ketika ospek dan malam keakraban. Memang tidak ada yang patut dipersalahkan. Tapi lebih bijak kalau kita mulai bersikap.
Asisten-asisten praktikum mestinya berdedikasi lebih dengan memandang benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan atas tanggung jawabnya. Bukan kesalahan yang malah dibudayakan. Atau lebih baik ketika dosen mendampingi dalam penilaian praktikan, supaya hasil akhir lebih objektif.
Keefektifan belajar tidak lahir dari tekanan-tekanan. Selain laporan praktikum, mahasiswa juga dihadapkan dengan responsi atau ujian akhir yang menentukan nilai praktikum. Tidak jarang pula dengan sistem yang demikian menekan. Mulai dari sistem getok yang sangat tidak efektif, hingga soal-soal ujian yang tidak sesuai materi praktikum.
Tanggung jawab tidak lahir dari sistem-sistem protokoler yang sejatinya mengekang potensi. Sistem kepenulisan laporan agaknya perlu diperhatikan lagi. Bayangkan berapa banyak hutan yang diselamatkan jika laporan praktikum dibuat digital ? Selain selaras dengan perkembangan jaman, juga lebih efisien. Mahasiswa bisa memiliki waktu lebih untuk imbang dan fokus dengan hal-hal lain, seperti berorganisasi, belajar, membaca buku, dan mengejakan tugas-tugas terstruktur. Bukan plagiarisme yang semestinya dimukakan, tetapi metode pembelajaran bagi mahasiswa untuk lebih menyadari tanggung jawabnya kepada diri sendiri. Mahasiswa yang katanya dewasa mestinya malu kalau budaya yang sudah jadi rahasia umum itu terus dilestarikan.
Era global menuntut persaingan yang semakin ketat. Kita, mahasiswa Agroteknologi, mestinya lahir dengan rasa tanggung jawab yang sudah menjadi fitrah. Melaksanakan proses perkuliahan yang sudah menjadi kewajiban dengan baik tanpa melanggar norma, dan aktif di berbagai kegiatan untuk mengasah soft skill. Semunya itu akan tercapai bila usaha terbaik dilakukan dengan manajemen yang seimbang dan bertanggung jawab.
Apa pun sistem pembelajaran yang ada, pasti sudah dibuat dan dipikirkan secara matang oleh ahlinya. Tinggal bagaimana kita melaksanakannya dengan bijaksana serta penuh dengan tanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan alamamater, masyarakat, terlebih Bangsa Indonesia. Karena lulusan Agroteknologi bukan lulusan yang berada di simpang jalan. Salam Laporan !
@VazaG17
Purwokerto, 27 Maret 2014.
Dalam kamar kost penuh tebaran kertas polio.